Feature

Jangan Asal Gemuk! Ini Tips Memilih Hewan Kurban ala Dosen Peternakan UMM

34
×

Jangan Asal Gemuk! Ini Tips Memilih Hewan Kurban ala Dosen Peternakan UMM

Sebarkan artikel ini
Ali Mahmud mengeceka kondisi sapi di laboratorium peternakan UMM

Ingin berkurban tapi masih bingung memilih hewan yang tepat? Dosen Peternakan UMM berbagi panduan lengkap, mulai dari usia, kesehatan, proses penyembelihan, hingga pengelolaan daging kurban.

Tagar.co — Menjelang Iduladha, umat Islam mulai bersiap untuk menunaikan ibadah kurban. Namun, memilih hewan kurban bukan sekadar soal ukuran atau bobot tubuh. Ir. Ali Mahmud, S.Pt., M.Pt., Dosen Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengingatkan pentingnya memilih hewan kurban sesuai syariat dan prinsip kesehatan hewan.

“Seekor kambing harus berumur minimal satu tahun dengan tanda gigi sudah poel (tumbuh permanen), sementara sapi membutuhkan waktu lebih lama hingga dua tahun untuk memenuhi syarat,” jelas Ali. Ia menekankan bahwa aspek utama dalam kurban bukan semata-mata fisik yang besar dan gemuk, melainkan usia dan kesehatan hewan.

Baca juga: UMM Gaungkan Pentingnya Rumah Sakit Hewan Ternak

Bagi masyarakat yang hendak berkurban, Ali menyarankan agar pembelian dilakukan satu bulan sebelum Iduladha. Selain harganya relatif lebih murah, pilihan hewan juga lebih beragam. “Lebih baik membeli langsung dari peternak terpercaya untuk memotong rantai distribusi, atau patungan maksimal tujuh orang untuk sapi atau unta,” sarannya, dikutip dari siaran pers Humas UMM yang diterima Tagar.co, Rabu (21/5/25).

Baca Juga:  Dari Malang untuk Indonesia: FEB UMM Tawarkan Solusi Atasi Ketimpangan Ekonomi

Kualitas hewan kurban juga harus terjamin secara medis dan kehalalan prosesnya. “Pastikan hewan telah diperiksa kesehatannya oleh dokter hewan atau juru sembelih bersertifikat (Juleha), serta memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). Pilihlah hewan dari peternakan yang menjamin kesejahteraan hewan (animal welfare) dan telah divaksinasi,” tegasnya.

Tak hanya soal pemilihan, proses penyembelihan pun memerlukan perhatian khusus. Menurutnya, penyembelihan harus dilakukan oleh Juleha bersertifikat, dimulai dengan membaca basmalah, menghadap kiblat, lalu memotong tiga saluran leher: trakea, esofagus, dan dua urat nadi dengan pisau tajam. Lokasi penyembelihan pun harus bersih, tidak licin, dan terhindar dari pandangan hewan lain untuk menghindari stres pada hewan lainnya.

Setelah penyembelihan, pengelolaan daging juga penting diperhatikan. “Pisahkan jeroan dari daging agar lebih awet. Daging jangan dicuci sebelum disimpan karena bisa memicu pertumbuhan bakteri. Dinginkan daging pada suhu ≤4°C selama 12–24 jam sebelum dibekukan dalam kemasan vakum atau plastik kedap udara,” paparnya. Untuk pengolahan praktis, daging dapat dibagi dalam porsi kecil atau diolah menjadi abon, dendeng, atau rendang yang tahan lama.

Baca Juga:  Menghidupkan Kembali Budaya Bertanya di Kelas

Fenomena kurban online yang makin marak juga dibahas oleh Ali. Ia mengakui kepraktisan dan transparansi layanan digital yang disertai laporan dokumentasi, namun ia mewanti-wanti soal risiko penipuan. “Banyak yang terkecoh rekayasa visual. Solusinya, pilih lembaga terpercaya atau beli langsung dari peternak yang dikenal,” ujarnya.

Baginya, ibadah kurban bukan hanya ritual tahunan, tapi sarat makna spiritual, sosial, dan ekonomi. “Berkurban harus dilandasi keikhlasan, bukan gengsi. Nilai di mata Allah terletak pada ketulusan, bukan karena besar kecilnya hewan,” tandasnya.

Lebih jauh, kegiatan kurban diyakini dapat mendorong roda ekonomi lewat pembukaan lapangan kerja musiman, mulai dari jagal, penjual, hingga tenaga pengemasan. “Kurban juga bisa menjadi media edukasi keluarga untuk menanamkan nilai kepedulian, terutama bagi anak-anak,” tambahnya.

Ali mengajak umat Islam untuk tidak berhenti pada penyembelihan semata. “Jangan hanya selesai pada penyembelihan, tapi lanjutkan dengan berbagi, berempati, dan mendidik, menebarlah manfaat untuk mencerahkan umat,” ujarnya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni