
Di tengah dilema antara keras dan terlalu bebas dalam mendidik anak, Rasulullah telah lebih dulu mencontohkan pola asuh penuh kasih yang tetap tegas. Inilah keseimbangan yang sering terlupakan oleh orang tua masa kini.
Oleh Hanif Asyhar;, M.Pd., C.H., C.Ht., Trainer Spiritual Healthy Parenting dan Konsultan Pengembang Pendidikan
Tagar.co – Mendidik anak di era modern acap kali membuat orang tua terjebak di antara dua kutub: terlalu keras (otoriter) atau terlalu bebas (permisif). Di tengah kegalauan tersebut, muncullah konsep gentle parenting sebagai salah satu solusi.
Menariknya, jauh sebelum istilah ini populer, Rasulullah SAW telah memberikan teladan pola asuh yang mengedepankan kasih sayang tanpa kehilangan wibawa dan ketegasan.
Landasan Kasih Sayang
Koneksi emosional merupakan fondasi utama dalam gentle parenting ala Rasulullah. Beliau tidak segan menunjukkan kasih sayang secara fisik di depan umum, sesuatu yang pada masa itu dianggap tabu oleh masyarakat Arab.
Baca juga: Meneladan Kesederhanaan Keluarga Rasulullah
Dikisahkan dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: «قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ، وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ، فَقَالَ الْأَقْرَعُ: إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ: مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ».
“Dari Abu Hurairah Ra, berkata: Rasulullah SAW mencium Al-Hasan bin Ali. Di dekat beliau ada Al-Aqra’ bin Habis. Al-Aqra’ berkata, “Aku memiliki sepuluh anak, tetapi tidak satu pun yang pernah aku cium.” Rasulullah memandangnya, lalu bersabda, “Siapa yang tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi.”
Lembut dalam Proses, Tegas dalam Prinsip
Masih banyak yang salah paham bahwa menjadi lembut berarti membiarkan anak berbuat semaunya. Padahal, Rasulullah mengajarkan kelembutan dalam proses penyampaian, tetapi tetap teguh dan tegas dalam prinsip.
Salah satu contohnya terlihat ketika Nabi melihat Umar bin Abi Salamah (anak tirinya) makan dengan tangan berpindah-pindah di nampan. Nabi tidak membentak, melainkan memberikan arahan yang jelas dan tenang:
يَا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
“Wahai anakku, sebutlah nama Allah (bacalah bismillah), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang dekat denganmu.” (Bukhari dan Muslim)
Dari sini kita melihat bahwa Rasulullah menerapkan ketegasan (aturan makan harus tertib), tetapi disampaikan dengan cara yang lembut (sapaan penuh kasih dan instruksi yang logis). Inilah esensi gentle parenting: fokus pada solusi dan pendidikan, bukan pada hukuman atau rasa malu.
Validasi Emosi dan Mendengarkan
Rasulullah SAW merupakan sosok pendengar yang luar biasa. Beliau sering menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan tinggi anak-anak saat berbicara (kontak sejajar/ eye level). Beliau juga memvalidasi perasaan anak, seperti ketika menghibur seorang anak bernama Abu Umair saat burung pipit peliharaannya mati.
Beliau tidak meremehkan kesedihan anak tersebut, melainkan hadir secara utuh dan menunjukkan empati.
Mengapa Harus Lembut
Kekerasan dalam mendidik hanya akan melahirkan kepatuhan semu yang didasari rasa takut. Sebaliknya, kelembutan akan melahirkan kepatuhan yang didasari cinta dan kesadaran.
Sebagaimana sabda Nabi SAW:
يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ، وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ
“Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan. Dia memberikan pada kelembutan apa yang tidak diberikan pada kekerasan dan tidak pula pada selainnya.” (Muslim, No. 2593)
Penutup
Oleh karena itu, mendidik ala Rasulullah adalah mendidik dengan hati. Beliau mengajarkan bahwa anak adalah manusia utuh yang harus dihormati martabatnya.
Dengan meneladani beliau, kita belajar bahwa menjadi orang tua yang lembut bukan berarti lemah, dan menjadi tegas bukan berarti kasar. Kelembutan adalah kunci untuk membuka pintu hati anak, sehingga nilai-nilai kebaikan yang kita tanamkan dapat tumbuh dengan kokoh. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












