
Pertanyaan polos dilontarkan anak ketika acara parenting. Pertanyaan seputar sesuatu yang membatalkan puasa. Hadiri tersenyum mendengar lontaran itu.
Tagar.co – Suasana sore di Masjid Al-Asy’ari, Wonorejo, Kedungjajang, Lumajang, Kamis (5/3/2026), terasa hangat dan penuh kebersamaan.
Ratusan jemaah terdiri orang tua, guru, dan anak-anak berkumpul di acara Cahaya Ramadan hari keempat mendengarkan talk show parenting dan dilanjutkan buka puasa bersama.
Kegiatan berlangsung mulai pukul 15.30 hingga 18.00 WIB ini mengangkat tema Parenting dan Pendidikan Islami dalam Membentuk Karakter Anak di Era Modern.
Acara ini diselenggarakan oleh Kantor Layanan Lazismu Kedungjajang bekerja sama dengan KB, TK, dan MI Muhammadiyah (MIM) Wonorejo.
Program Cahaya Ramadan merupakan rangkaian kegiatan edukatif dan religius di MIM Wonorejo. Berbagai kegiatan diadakan untuk anak-anak dan orang tua. Seperti telling story atau Ramadan mendongeng, lomba sambung ayat antara orang tua dan anak, pelatihan mitigasi bencana untuk anak, talk show parenting yang ditutup dengan buka puasa bersama.
Hadir sebagai pembicara Suharyo, AP., S.H., penasihat PDM Lumajang. Dia menyampaikan, pendidikan anak sejatinya dimulai dari rumah.
Orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam membangun lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang bagi anak-anaknya.
“Di dalam rumah tidak boleh ada kekerasan verbal. Kata-kata yang kasar atau menyakitkan bisa melukai hati anak, bahkan mengganggu perkembangan otaknya,” ujar Ustaz Suharyo.
Menurutnya, banyak orang tua tidak menyadari bahwa ucapan sederhana yang diucapkan dalam kemarahan dapat membekas dalam ingatan anak dalam waktu yang lama.
Karena itu, ia mengajak orang tua lebih berhati-hati dalam bertutur kata serta memperbanyak pendekatan yang penuh kasih.
Enam Prinsip
Dia mengajak orang tua menerapkan enam prinsip penting dalam mendidik anak. Pertama, muhasabah atau introspeksi diri, yaitu kemampuan orang tua untuk mengevaluasi sikap dan perilaku mereka sendiri sebelum menilai anak.
Kedua, muaqobah, yakni berani menyalahkan diri sendiri ketika terjadi kesalahan dalam proses mendidik anak.
Ketiga, muktasanah, upaya menyempurnakan kekurangan dalam diri agar dapat menjadi teladan yang lebih baik bagi anak.
Keempat, mujahadah, kesungguhan dalam menjalani kehidupan dan mendidik anak dengan penuh kesabaran.
Kelima, istikamah, konsistensi dalam memberikan pendidikan dan nilai-nilai kebaikan kepada anak.
Keenam, muraqabah, yaitu selalu merasa diawasi oleh Allah SWT sehingga setiap tindakan dan keputusan dalam keluarga dilandasi oleh nilai-nilai keimanan.
Dalam kesempatan tersebut, Suharyo mengapresiasi prestasi yang diraih oleh MI Muhammadiyah Wonorejo. Sekolah ini kerap menorehkan berbagai prestasi di tingkat daerah.
Di antaranya juara Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat kabupaten, juara lomba baris-berbaris, juara lomba kemah Hizbul Wathan.
“MIM Wonorejo ini benar-benar sebagai sekolah juara,” ujar Suharyo.
Ia mengajak wali murid TK Al-Hidayah untuk melanjutkan anak-anaknya ke MI Muhammadiyah.
Menurutnya, keberadaan TK Al-Hidayah yang berada dalam satu kompleks dengan MIM akan memudahkan kesinambungan pendidikan anak.
“Agar ilmunya anak nyambung dari TK Al-Hidayah yang berada dalam satu kompleks dengan MIM, hendaknya dilanjutkan ke MIM. Insyaallah ilmu anak-anak menjadi manfaat dan barokah,” tuturnya.
Air Liur
Sesi tanya jawab peserta mengajukan pertanyaan terkait tantangan mendidik anak di era digital. Anak-anak yang ikut hadir juga antusias mengikuti jalannya diskusi.
Suasana menjadi menarik ketika anak, Aydan Hamizan (10 tahun) mengangkat tangannya. Dia bertanya,”Ustaz, apakah air liur boleh ditelan ketika berpuasa?”
Pertanyaan polos itu membuat hadirin diam sejenak. Jemaah tidak menyangka ada pertanyaan muncul dari anak di tengah diskusi parenting.
Senyum dan tawa lantas pecah disertai ekspresi jenaka. Pertanyaan itu bisa menghidupkan suasana.
Ustaz Suharyo menjawab dengan santai. “Boleh menelan ludah saat berpuasa, karena itu merupakan cairan yang sudah ada di dalam tubuh,” ujarnya sambil menoleh ke arah Aydan dengan senyum.
Senja yang mulai turun mengiringi azan di Masjid Al-Asy’ari. Waktunya berbuka dengan kurma dan air. (#)
Jurnalis Ferdi Irwansyah Penyunting Sugeng Purwato












