Telaah

Meneladan Kesederhanaan Keluarga Rasulullah

61
×

Meneladan Kesederhanaan Keluarga Rasulullah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI
Ilustrasi AI

Kesederhanaan keluarga Rasulullah Saw. bukan tanda kekurangan, melainkan jalan menuju ketenangan jiwa. Nilai kanaah, syukur, dan kepedulian sosial menjadi kunci kebahagiaan rumah tangga yang penuh keberkahan.

Oleh Hanif Asyhar;, M.Pd., C.H., C.Ht., Trainer Spiritual Healthy Parenting dan Konsultan Pengembang Pendidikan

Tagar.co – Rasulullah Saw. merupakan teladan terbaik dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam mengelola kehidupan rumah tangga. Sebagai pemimpin tertinggi dan teladan bagi umat Islam, Rasulullah Saw. memiliki kemampuan untuk hidup mewah. Namun, beliau memilih jalan kesederhanaan bersama keluarganya.

Baca juga: Digital Detox: Saatnya Menguatkan Koneksi Hati di Tengah Banjir Sinyal

Meneladani kesederhanaan keluarga Rasulullah Saw. bukan berarti hidup dalam kekurangan, melainkan menanamkan sikap kanaah (merasa cukup), bersyukur, serta menjauhkan diri dari gaya hidup konsumtif dan pamer harta. Terlebih jika kita melihat kehidupan pada zaman sekarang yang penuh dengan foya-foya dan gaya hidup hedonis.

Salah satu cerminan kesederhanaan rumah tangga Rasulullah adalah kondisi tempat tinggal dan peralatan makan beliau. Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. terbiasa tidur di atas tikar kasar yang membekas di punggungnya, serta perabotan rumah tangganya sangat sederhana. Kondisi ini sungguh sangat kontras dengan keadaan saat ini.

Baca Juga:  Lewat Darul Arqam, SMK Mutu Gondanglegi Perkuat Dimensi Spiritual Guru

Sebagai pemimpin tertinggi umat Islam, rumah Nabi yang juga menjadi tempat tinggal istri-istrinya bukanlah istana yang megah, melainkan kamar-kamar kecil sederhana di samping masjid. Meskipun demikian, rumah tersebut penuh dengan kasih sayang dan ketaatan kepada Allah Swt.

Dalam kesehariannya, Rasulullah Saw. tidak pernah membeda-bedakan makanan. Beliau selalu memakan apa yang ada dan tidak pernah mencela makanan. Sering kali, selama sebulan atau lebih, tidak ada api yang dinyalakan di rumah Nabi untuk memasak, sehingga makanan mereka hanyalah kurma dan air.

Bahkan, dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau menambal sendiri pakaian dan sandalnya yang rusak. Hal ini menunjukkan bahwa beliau tidak bergantung pada kemewahan materi.

Keluarga Rasulullah, terutama istri-istrinya seperti Siti Aisyah dan lainnya, hidup dalam kerendahan hati. Mereka dididik untuk mengutamakan kepentingan akhirat dibandingkan kesenangan duniawi yang fana.

Kesederhanaan ini membuat keluarga Nabi fokus pada ibadah, membantu sesama, dan bersedekah, bahkan ketika mereka sendiri berada dalam keadaan kekurangan.

Di era modern yang konsumtif, meneladani kesederhanaan keluarga Rasulullah Saw. sangat relevan. Kita diajarkan untuk:

  • Membeli barang berdasarkan fungsi, bukan sekadar gengsi.

  • Membiasakan hidup qana’ah dan bersyukur atas berapa pun rezeki yang diterima.

  • Meningkatkan kedermawanan dengan mendahulukan sedekah daripada menumpuk harta.

  • Menjaga keharmonisan keluarga dengan kasih sayang, bukan berdasarkan materi semata.

Baca Juga:  Spiritual Capacity Building: Menguatkan Jiwa, Memaksimalkan Kinerja

Meneladani keluarga Rasulullah dalam kesederhanaan akan mendatangkan ketenangan jiwa dan keberkahan dalam rumah tangga. Kesederhanaan bukanlah tanda kemiskinan, melainkan wujud kemuliaan akhlak yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni