
Parenting TK Aisyiyah Ketangi, menanam nilai-nilai zakat, infak, dan wakaf sejak usia dini. Ini upaya menguatkan peran keluarga dalam membentuk karakter anak. Tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga nilai-nilai spiritual dan kepedulian sosial
Tagar.co – Suasana sejuk lereng Gunung Bromo menyelimuti kawasan TK Aisyiyah Ketangi, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, Sabtu (24/1/2026). Di lingkungan sekolah yang memiliki lahan luas dan taman bermain yang memadai itu, para wali murid berkumpul mengikuti kegiatan parenting dalam rangka menyambut ramadhan.
Kegiatan parenting wali murid tersebut mengangkat tema Urgensi Zakat, Infak, dan Wakaf untuk Kesuksesan Pendidikan Anak. Tema ini dipilih sebagai upaya menguatkan peran keluarga dalam membentuk karakter anak sejak usia dini. Tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga nilai-nilai spiritual dan kepedulian sosial.
Sebanyak 107 anak saat ini menempuh pendidikan di TK Aisyiyah Ketangi. Mereka datang dari berbagai kecamatan di wilayah Probolinggo. Keberagaman latar belakang ini menunjukkan besarnya kepercayaan masyarakat terhadap TK Aisyiyah Ketangi sebagai lembaga pendidikan anak usia dini yang menekankan keseimbangan antara kecerdasan, akhlak, dan nilai keislaman.
Hadir sebagai narasumber, Yekti Pitoyo, jurnalis, penulis, sekaligus penggiat filantropi yang berasal dari Sidoarjo, menyampaikan bahwa ramadhan sejatinya adalah bulan pendidikan jiwa.
Madrasah Pertama
Momentum ini, menurutnya, sangat tepat untuk merefleksikan kembali peran orangtua dalam mendidik anak. “Orangtua adalah madrasah pertama bagi anak. Kesuksesan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi dan kecerdasan, tetapi juga dari akhlak, empati, dan kepedulian sosial,” ujar Yekti – sapaan akrabnya.
Dia menegaskan, anak-anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi terutama dari apa yang mereka lihat dan rasakan di rumah. Karena itu, kebiasaan keluarga memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter anak di masa depan.
Dalam paparannya, Yekti menjelaskan bahwa zakat, infak, dan wakaf (ZIW) dapat menjadi media pendidikan karakter yang sangat efektif. Zakat mengajarkan nilai tanggung jawab dan kepatuhan terhadap perintah agama. Infak melatih keikhlasan serta membiasakan anak untuk ringan tangan.
Sementara wakaf memperkenalkan konsep amal jariyah dan visi kebaikan jangka panjang. “ZIW bukan hanya ibadah finansial, tetapi investasi pendidikan. Anak belajar berbagi bukan karena berlebih, melainkan karena iman,” katanya.

Libatkan Anak dalam ZIW
Menurut Yekti, pendidikan karakter akan lebih kuat jika anak dilibatkan secara langsung, meski dalam bentuk yang sederhana. Orang tua bisa mengajak anak menyisihkan sebagian uang untuk infak. Mengenalkan tujuan zakat dengan bahasa yang mudah dipahami, atau menceritakan manfaat wakaf bagi masjid, sekolah, dan fasilitas pendidikan.
Cerita tentang anak yatim, sekolah gratis, atau bangunan pendidikan hasil wakaf, kata Yekti, dapat menjadi pintu masuk bagi anak untuk memahami makna berbagi dan kepedulian sosial. Dari situlah nilai empati dan rasa syukur tumbuh secara alami.
Kegiatan parenting ini juga menegaskan bahwa pendidikan anak tidak bisa dilepaskan dari keberkahan harta keluarga. Harta yang bersih dan dikelola dengan nilai ibadah diyakini akan membawa ketenangan dalam keluarga dan kemudahan dalam mendidik anak.
“Harta yang bersih akan melahirkan doa yang lebih mustajab. Dan dari situ, anak-anak akan lebih mudah diarahkan,” ungkapnya.
Komitmen
Lingkungan TK Aisyiyah Ketangi yang berada di kawasan pegunungan dengan udara sejuk dinilai turut mendukung proses pendidikan anak yang holistik. Ruang terbuka, taman bermain, serta suasana alam menjadi sarana pembelajaran yang menumbuhkan keceriaan sekaligus kepekaan sosial anak.
Melalui kegiatan parenting ini, TK Aisyiyah Ketangi menegaskan komitmennya. Komitmen untuk terus menghadirkan pendidikan anak usia dini yang tidak hanya mencetak anak cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak dan peduli terhadap sesama.
Harapannya, nilai-nilai yang ditanamkan melalui keluarga dan sekolah dapat membentuk generasi yang tidak hanya sukses di dunia, tetapi juga selamat di akhirat.
“Apa yang kita tanam hari ini, akan dipanen oleh anak-anak kita kelak. Semoga mereka tumbuh menjadi generasi rahmatan lil ‘alamin,” pesan Yekti. (#)
Penyunting Sugiran.












