
Setelah bertahun-tahun berjuang menghidupi keluarga seorang diri, Sri Sulatin kini dapat berjualan lebih aman dan nyaman berkat dukungan Lazismu.
Tagar.co – Pagi baru saja merekah di Perumahan Cabean Asri, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo. Di sudut pasar kecil yang mulai ramai, sosok Sri Sulatin tampak sibuk menata gelas dan meracik minuman segar yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama hampir dua dekade—es dawet Ponorogo.
Dengan senyum ramah, ia melayani setiap pembeli yang singgah, menghadirkan kehangatan di balik kesederhanaan gerobak dagangannya.
Baca juga: Atap Rumahnya Runtuh, Pensiunan Guru di Sidoarjo Menanti Kepedulian
Kisah Sri adalah potret ketangguhan perempuan yang berjuang menghidupi keluarga seorang diri. Sejak suaminya wafat, ia menjalani peran sebagai single parent sekaligus tulang punggung keluarga.
Usaha berjualan dawet yang dirintis sejak tahun 2006 menjadi sumber penghidupan utama, diwariskan dari resep keluarga yang terus ia pertahankan hingga kini.
“Mulai tahun 2006 saya jualan ini. Resepnya dari keluarga. Biasanya jualan dari jam 06.00 sampai sebelum dhuhur,” tutur Sri saat ditemui di sela aktivitasnya, Kamis (9/4/2026).
Setiap malam, Sri menyiapkan bahan dagangan agar tetap segar saat disajikan keesokan paginya. Rutinitas ini ia jalani dengan penuh ketekunan sebagai bentuk ikhtiar bertahan di tengah berbagai keterbatasan.
Namun, perjalanan usahanya tidak selalu mulus. Seiring waktu, gerobak yang menjadi sarana utama berjualan mulai lapuk dan keropos, menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan dan kelangsungan usahanya.
“Gerobaknya sudah lama dipakai, mulai lapuk. Takut kalau tiba-tiba ambruk. Mau ganti baru, tapi terkendala biaya,” ungkapnya.
Harapan kemudian datang melalui program pemberdayaan ekonomi yang digagas oleh Lazismu Sidoarjo. Program ini merupakan salah satu pilar utama lembaga dalam meningkatkan kemandirian mustahik.
Dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda), Lazismu menetapkan enam pilar program, yakni pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial dakwah, kemanusiaan, dan lingkungan. Pilar ekonomi secara khusus diarahkan untuk memperkuat kemandirian melalui tiga program unggulan: pemberdayaan UMKM, Ternak Mandiri, dan Tani Bangkit.
Program pemberdayaan UMKM menyasar kelompok rentan, terutama perempuan single parent, melalui bantuan alat usaha maupun permodalan. Banyak penerima manfaat yang bergerak di sektor kuliner, seperti penjual pecel, dawet, kue rumahan, minuman herbal, hingga jajanan pasar.
“Sebagian besar penerima manfaat bergerak di sektor kuliner. Bantuan ini diharapkan mampu menopang kebutuhan keluarga secara mandiri,” ujar Prayekti, S.Pd., PIC Pilar Ekonomi Lazismu Sidoarjo.
Bagi Sri, bantuan gerobak baru dari Lazismu bukan sekadar sarana berdagang, melainkan simbol harapan dan keberlanjutan usaha. Dengan gerobak yang lebih kokoh dan layak, ia kini dapat berjualan dengan rasa aman dan percaya diri.
“Alhamdulillah dibantu gerobak. Sekarang bisa jualan lebih tenang,” ucapnya dengan penuh syukur.
Program pemberdayaan ekonomi seperti ini diharapkan terus berkembang dengan dukungan masyarakat, sehingga semakin banyak pelaku usaha kecil dari kalangan dhuafa yang mampu bangkit dan mandiri. Setiap kontribusi menjadi bagian dari upaya menghadirkan kemandirian dan harapan bagi mereka yang membutuhkan.
Bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam program pemberdayaan ini, donasi dapat disalurkan melalui: BSI 7025835713 a.n. Lazismu Sidoarjo Konfirmasi: 0821-4004-1912
Kisah Sri Sulatin menjadi pengingat bahwa di balik setiap gerobak sederhana, terdapat semangat juang yang luar biasa. Dengan sentuhan kepedulian, denyut kecil ekonomi di sudut-sudut kampung mampu tumbuh menjadi kekuatan yang menghidupi banyak keluarga. (#)
Jurnasli Yekti Pitoyo Penyunting Mohammad Nurfatoni












