
Dari Halalbihalal hingga peluncuran buku, komunitas Pena Perajut Aksara menegaskan langkah naik kelas: perempuan tak hanya menulis bersama, tetapi juga berani menerbitkan karya sendiri.
Tagar.co — Komitmen untuk melahirkan karya kembali ditegaskan dalam kegiatan Halalbihalal komunitas penulis perempuan Pena Perajut Aksara (PPA) yang digelar di Perum Bukit Krismadani, Selasa (7/4/2026). Pertemuan ini menjadi penanda bahwa geliat literasi di kalangan perempuan Sidoarjo terus bergerak, tidak hanya dalam ruang diskusi, tetapi juga pada lahirnya karya-karya baru.
Salah satu momen penting dalam kegiatan tersebut adalah peluncuran buku Baitullah Nyata Itu Ada karya Harum Nuroitah, yang menggunakan nama pena Hanuta. Buku ini menjadi bukti konkret bahwa proses menulis di dalam komunitas tidak berhenti sebagai latihan, melainkan berlanjut hingga tahap publikasi.
Baca juga: Dipertemukan oleh Tulisan: Kisah Luluk dan Pena Perajut Aksara
Founder PPA, Melati Hutagoul, menekankan bahwa eksistensi komunitas penulis harus ditopang oleh karya nyata. Ia mengingatkan bahwa identitas sebagai penulis tidak cukup hanya disematkan, tetapi harus dibuktikan melalui buku yang diterbitkan.
“Kita harus membuktikan bahwa komunitas penulis perempuan ini layak disebut penulis dengan karya buku,” ujarnya.
Pena Perajut Aksara berdiri sejak 2017, berawal dari Ikatan Wali Murid SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Dalam perjalanannya, komunitas ini berkembang menjadi ruang belajar bersama bagi perempuan dari berbagai latar belakang—mulai dari ibu rumah tangga hingga profesional—yang memiliki ketertarikan pada dunia menulis.
Hingga kini, PPA telah menerbitkan tujuh buku antologi. Produktivitas tersebut mendapat apresiasi dari penulis M. Anwar Djaelani yang menyebut PPA sebagai “komunitas yang mahal” dalam tulisannya di Tagar.co (24 April 2025), merujuk pada kualitas anggota dan konsistensi berkarya.
Meski demikian, Melati mendorong anggota untuk melangkah lebih jauh. Ia mengajak para penulis perempuan di PPA untuk berani menerbitkan buku secara mandiri, sebagai bentuk peningkatan kapasitas sekaligus pembuktian diri.
“Memang berat, tapi kita harus memulai. Ini bagian dari pembuktian bahwa kita benar-benar penulis,” tegasnya.
Selain peluncuran buku, kegiatan juga diisi dengan refleksi melalui lantunan lagu Tombo Ati yang dinyanyikan bersama, diiringi gitar oleh anggota PPA, Dwi Endang. Unsur literasi, kebersamaan, dan sentuhan seni berpadu dalam satu ruang yang memberi energi baru bagi para anggotanya. (#)
Jurnalis Yekti Pitoyo Penyunting Mohammad Nurfatoni












