Feature

Dari Malang untuk Indonesia: FEB UMM Tawarkan Solusi Atasi Ketimpangan Ekonomi

115
×

Dari Malang untuk Indonesia: FEB UMM Tawarkan Solusi Atasi Ketimpangan Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Suasana Colloquium Post Doctoral Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) yang digelar di Aula GKB 4 UMM, Selasa (14/4/2026). Kegiatan ini menghadirkan enam doktor FEB UMM yang mempresentasikan hasil riset strategis guna merumuskan solusi pembangunan ekonomi inklusif dan berkelanjutan bagi Indonesia.

Melalui kolokium doktoral, enam akademisi FEB UMM menghadirkan rekomendasi strategis berbasis potensi lokal, integrasi nilai spiritual, serta penguatan sumber daya manusia guna mendorong pemerataan pembangunan ekonomi berkelanjutan nasional.

Tagar.co – Di tengah dinamika dan ketidakpastian ekonomi global, kebutuhan akan strategi pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan semakin mendesak. Menjawab tantangan tersebut, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) menggelar Colloquium Post Doctoral bertajuk “Risalah Ekonomi dan Bisnis Berkemajuan: Integrasi Business Sustainability dalam Mendukung Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan.”

Baca juga: Followers Jadi Tiket Masuk Kampus, UMM Buka Jalur Kuliah tanpa Tes bagi Konten Kreator

Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 14 April 2026, di Aula GKB 4 UMM ini menjadi ruang strategis untuk mempertemukan gagasan serta mendiseminasikan hasil riset para dosen yang baru menyelesaikan studi doktoral. Kolokium ini sekaligus memetakan kepakaran akademik dan memperkuat kontribusi keilmuan FEB UMM dalam menjawab tantangan pembangunan ekonomi yang inklusif.

Sebanyak enam dosen mempresentasikan disertasi mereka, yakni M. Sri Wahyudi S., M.E., Ph.D.; Dr. Ida Nuraini, M.Si.; Yeyen Pratika, MBA., Ph.D.; Dr. Sri Wahjuni L., M.M., Ak., CA.; Fika Fitriasari, M.M., Ph.D.; dan Novita Ratna Satiti, M.M., Ph.D. Forum ini juga bertujuan memastikan bahwa temuan disertasi tidak berhenti pada ranah akademik, tetapi dapat diaplikasikan secara luas oleh pemangku kebijakan dan masyarakat.

Baca Juga:  Menghidupkan Kembali Budaya Bertanya di Kelas

Pendekatan Spiritual dalam Mengukur Kesejahteraan

Dalam presentasinya, M. Sri Wahyudi S., M.E., Ph.D. menyoroti persoalan kemiskinan dan ketimpangan global. Ia menilai bahwa indikator kesejahteraan yang digunakan lembaga internasional seperti World Bank dan UNDP masih terlalu materialistik serta belum mengakomodasi dimensi moral dan spiritual.

Melalui perspektif ekonomi Islam, ia menawarkan pendekatan holistik dengan mengukur kesejahteraan berdasarkan penjagaan terhadap lima dimensi utama (maqashid syariah), yakni agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

“Selama ini kesejahteraan sering diukur dari angka ekonomi semata. Kita memerlukan indikator yang lebih utuh. Integrasi nilai spiritual menjadi kunci agar pembangunan tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjaga martabat manusia,” tegasnya.

Mengatasi Ketimpangan Wilayah Berbasis Potensi Lokal

Sementara itu, Dr. Ida Nuraini, M.Si. mengangkat isu ketimpangan ekonomi antarwilayah, khususnya kesenjangan antara kawasan barat dan timur Indonesia. Ia mengkritik kebijakan pembangunan daerah yang cenderung seragam atau copy-paste, tanpa mempertimbangkan potensi dan karakteristik lokal.

“Setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda dan tidak bisa disamaratakan. Perencanaan pembangunan harus berbasis data serta kebutuhan nyata masyarakat lokal,” ungkapnya.

Baca Juga:  UMM Salurkan THR Rp314,6 Juta untuk 525 Guru dan Karyawan AUA di Malang

Sebagai solusi, Ida mengusulkan pendekatan berbasis ekologi wilayah yang dipadukan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia guna mendorong pemerataan pembangunan.

Dorongan Akselerasi Kepakaran dan Kolaborasi Global

Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menegaskan bahwa kolokium ini merupakan agenda strategis untuk pengembangan institusi sekaligus identifikasi kepakaran dosen. Ia juga mendorong para doktor baru untuk segera mengakselerasi kenaikan jabatan akademik menuju guru besar.

“FEB memiliki potensi besar untuk melahirkan banyak guru besar. Momentum ini perlu diiringi dengan inovasi seperti program mikrokredensial dan kolaborasi internasional guna meningkatkan daya saing institusi,” ujarnya.

Refleksi Arah Pembangunan Ekonomi Indonesia

Secara keseluruhan, Colloquium Post Doctoral FEB UMM menjadi refleksi kritis terhadap arah pembangunan ekonomi Indonesia. Integrasi aspek ekonomi, sosial, dan spiritual yang diusung para akademisi diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan ekosistem ekonomi yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Melalui forum ini, FEB UMM menegaskan komitmennya sebagai pusat pengembangan ilmu ekonomi dan bisnis yang berkemajuan serta relevan dengan tantangan global. (#)

Baca Juga:  Prof. Chun-Yen Chang: AI Bisa Gerus Daya Pikir Kritis, Guru Tetap Kunci Pendidikan

Penyunting Mohammad Nurfatoni