Feature

Followers Jadi Tiket Masuk Kampus, UMM Buka Jalur Kuliah tanpa Tes bagi Konten Kreator

188
×

Followers Jadi Tiket Masuk Kampus, UMM Buka Jalur Kuliah tanpa Tes bagi Konten Kreator

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi freepik.com premium

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan terobosan baru dalam penerimaan mahasiswa dengan membuka jalur khusus bagi influencer dan konten kreator. Cukup dengan portofolio digital serta jumlah followers tertentu, calon mahasiswa berkesempatan menempuh pendidikan tinggi tanpa harus mengikuti ujian tulis.

Tagar.co – Kabar gembira sekaligus angin segar bagi para kreator muda yang ingin mengembangkan intelektualitas tanpa harus meninggalkan hobi kreatifnya. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi membuka pendaftaran mahasiswa baru melalui jalur khusus influencer dan konten kreator. Pendaftaran dibuka mulai 1 April hingga 25 Juni 2026.

Melalui terobosan ini, puluhan ribu pengikut di media sosial serta portofolio digital kini dapat menjadi “paspor” untuk menembus Kampus Putih tanpa harus mengikuti ujian tulis. Kebijakan tersebut menjadi bukti nyata adaptasi UMM terhadap perkembangan era digital dan dinamika profesi generasi muda.

Baca juga: Deteksi Anemia tanpa Jarum, Dosen UMM Ciptakan Aplikasi Berbasis AI

Adapun persyaratan yang ditetapkan cukup relevan dengan keseharian anak muda masa kini. Calon pendaftar diwajibkan memiliki minimal 5.000 subscriber di platform YouTube atau 10.000 followers di Instagram maupun TikTok.

Baca Juga:  Prof. Chun-Yen Chang: AI Bisa Gerus Daya Pikir Kritis, Guru Tetap Kunci Pendidikan

Namun demikian, jumlah pengikut bukan satu-satunya tolok ukur. UMM tetap menerapkan seleksi ketat dengan menekankan bahwa konten yang dihasilkan harus bersifat kreatif, edukatif, serta menyebarkan energi positif.

Hal ini menegaskan bahwa kampus tidak semata mengejar popularitas, tetapi juga mengedepankan kualitas dan rekam jejak digital yang baik.

Menanggapi terobosan tersebut, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menyampaikan bahwa langkah ini merupakan bentuk nyata adaptasi institusi pendidikan terhadap literasi digital generasi Z. Menurutnya, perguruan tinggi tidak boleh menutup mata terhadap lahirnya profesi-profesi baru yang berkembang dari kemajuan teknologi.

“Dunia sudah berubah, dan cara kita menilai kecerdasan anak bangsa juga harus berekspansi. Para konten kreator ini adalah public relations bagi generasinya. Mereka punya panggung, algoritma, dan pengaruh besar. Melalui jalur ini, UMM ingin mewadahi bakat tersebut agar anak muda kita tak sekadar asal viral, tetapi juga dibekali dengan fondasi akademik yang matang dan berintegritas,” tegasnya, dikutop dari siaran pers Humas UMM, Selasa (14/4/26).

Baca Juga:  Menghidupkan Kembali Budaya Bertanya di Kelas

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa program ini merupakan investasi strategis untuk mencetak lulusan yang tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga menjunjung tinggi etika dan tanggung jawab sosial.

“Kami mencari mereka yang bisa menginspirasi publik. Jika mereka sudah mahir berkomunikasi secara visual di media sosial, UMM siap memolesnya menjadi talenta profesional yang dampaknya jauh lebih luas bagi masyarakat,” imbuhnya.

Dengan hadirnya jalur influencer ini, dia berharap UMM tidak hanya mampu menjaring bibit-bibit unggul di ranah digital, tetapi juga semakin mengukuhkan posisinya sebagai kampus yang proaktif dalam membaca perkembangan zaman. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni