
Di balik deklarasi damai, ada kepentingan yang tak pernah diumumkan. Ketika satu pihak terikat dan yang lain tetap menyerang, “gencatan senjata” mulai terlihat bukan sebagai solusi—melainkan strategi.
Tagar.co – Dunia bersorak ketika gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran diumumkan pada 7 April 2026. Seolah-olah perdamaian akhirnya merengkuh kawasan yang selama 40 hari dilanda konflik dan duka.
Namun, bagi mereka yang terbiasa membaca politik internasional bukan dengan mata hati, melainkan dengan kacamata kepentingan dan sejarah panjang pengkhianatan, sorak-sorai itu segera berubah menjadi tawa kecut.
Baca juga: Gencatan Senjata yang Memalukan
Sebab, ada tiga fakta yang tak dapat diabaikan. Pertama, Israel memiliki rekam jejak panjang pelanggaran kesepakatan gencatan senjata, sehingga istilah “perdamaian” kerap bermakna jeda untuk mempersiapkan konflik berikutnya.
Kedua, perjanjian ini secara formal hanya mengikat Amerika Serikat dan Iran—sementara Israel secara terbuka menyatakan diri tidak terikat, khususnya di front Lebanon.
Ketiga, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump menunjukkan inkonsistensi kebijakan yang membuat setiap komitmen diplomatik tampak rapuh.
Lebih mencengangkan lagi, serangan tetap berlangsung pada saat yang sama ketika gencatan senjata diumumkan. Ini bukan sekadar kecurigaan, melainkan indikasi kuat bahwa “perdamaian” yang dipresentasikan secara global mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan realitas di lapangan.
Israel: Rekam Jejak Pelanggaran yang Berulang
Sebelum membahas detail gencatan senjata, penting untuk memahami aktor yang terlibat. Israel memiliki catatan panjang pelanggaran kesepakatan yang telah disepakati sebelumnya.
Berbagai pengamat internasional telah berulang kali menyoroti bahwa pelanggaran gencatan senjata oleh Israel terjadi berkali-kali—di Gaza, Lebanon, maupun Tepi Barat. Polanya relatif konsisten: setelah kesepakatan dicapai, operasi militer kembali dilanjutkan dengan berbagai justifikasi, seperti operasi kontra-terorisme atau respons terhadap provokasi.
Dalam konteks konflik terbaru, pola tersebut kembali terlihat. Pada Februari 2026, Israel dilaporkan melakukan serangan di Jalur Gaza yang melanggar kesepakatan sebelumnya, termasuk pemboman wilayah permukiman di Jabalia, Zaytun, dan At-Tuffah.
Pola berulang ini menunjukkan bahwa gencatan senjata kerap berfungsi bukan sebagai akhir konflik, melainkan jeda operasional.
Perjanjian yang Tidak Mengikat Semua Pihak
Kelemahan utama dari gencatan senjata ini terletak pada cakupan komitmennya. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan dukungan terhadap penundaan serangan terhadap Iran, namun menegaskan bahwa kesepakatan tersebut tidak mencakup Lebanon.
Pernyataan ini bertentangan dengan klaim Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang menyebut bahwa gencatan senjata berlaku secara menyeluruh, termasuk di Lebanon.
Ketidaksinkronan ini mengindikasikan adanya perbedaan interpretasi di antara para pihak. Secara praktis, hal ini membuka ruang bagi kelanjutan operasi militer Israel terhadap Hizbullah di Lebanon, meskipun Iran menghentikan keterlibatannya.
Situasi ini menciptakan kondisi asimetris: satu pihak terikat pada pembatasan, sementara pihak lain mempertahankan kebebasan operasional.
Amerika Serikat di Bawah Trump: Inkonsistensi Kebijakan
Selama konflik berlangsung, Presiden Donald Trump menunjukkan pola komunikasi yang fluktuatif. Ancaman militer berulang kali disampaikan, kemudian ditunda atau direvisi dalam waktu singkat.
Dalam satu kesempatan, proposal gencatan senjata dari Iran disebut layak dinegosiasikan, namun tak lama kemudian dinyatakan sebagai tidak valid. Pola perubahan sikap ini mencerminkan pendekatan diplomasi yang tidak stabil.
Lebih jauh, beberapa pernyataan sebelumnya mengandung ancaman ekstrem terhadap infrastruktur sipil Iran, yang oleh sejumlah pihak dinilai berpotensi melanggar hukum internasional.
Dengan dinamika seperti ini, kredibilitas komitmen jangka panjang menjadi dipertanyakan.
Kontradiksi di Lapangan: Gencatan Senjata dan Serangan Berjalan Bersamaan
Fakta bahwa serangan tetap berlangsung setelah pengumuman gencatan senjata menimbulkan pertanyaan serius mengenai implementasi kesepakatan tersebut.
Laporan menunjukkan adanya:
- serangan rudal dari Iran,
- serangan udara Israel ke berbagai target,
- serta operasi militer Amerika Serikat di fasilitas strategis Iran.
Hal ini dapat mengindikasikan dua kemungkinan: lemahnya koordinasi operasional atau adanya perbedaan antara deklarasi politik dan realitas militer.
Masa Depan: Tiga Skenario
Gencatan senjata ini sejak awal menunjukkan kerentanan struktural yang membuat arah konflik ke depan tidak pasti dan berpotensi berkembang ke beberapa skenario berbeda.
- Perdamaian sementara
Gencatan senjata berpotensi bertahan dalam jangka pendek sebelum kembali dilanggar. - Eskalasi di Lebanon
Karena tidak tercakup secara jelas, konflik di Lebanon berisiko meningkat. - Tekanan strategis terhadap AS
Amerika Serikat dapat terjebak dalam dilema antara mempertahankan kesepakatan dengan Iran dan mendukung Israel.
Penutup
Dengan berbagai kontradiksi yang ada, gencatan senjata ini tampak lebih sebagai jeda strategis daripada resolusi konflik yang berkelanjutan.
Bagi pengamat, situasi ini menegaskan satu hal: dalam politik internasional, kesepakatan tidak selalu identik dengan stabilitas. Kredibilitas aktor, konsistensi kebijakan, serta implementasi di lapangan menjadi faktor penentu yang jauh lebih penting daripada deklarasi formal. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












