Feature

54 Tokoh Muslim Indonesia Serukan Persatuan Dunia Islam dan Penghentian Perang

430
×

54 Tokoh Muslim Indonesia Serukan Persatuan Dunia Islam dan Penghentian Perang

Sebarkan artikel ini
Jusuf Kalla (kiri) bersama Din Syamsuddin memberikan keterangan dalam konferensi pers Tokoh Bangsa di Jakarta, Kamis (2/2/2024). Para tokoh menyoroti politisasi bansos dan menyerukan pemilu yang jujur dan adil.
(Foto dokumentasi Tempo/Hilman Fathurrahman W.)

Seruan bersama para ulama, zuama, dan cendekiawan ini menekankan pentingnya solidaritas dunia Islam serta mendesak komunitas internasional mengambil langkah nyata demi perdamaian dan keadilan global.

Tagar.co – Sejumlah ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim Indonesia mengeluarkan seruan bersama mengenai urgensi persatuan dunia Islam guna mewujudkan tata dunia baru yang damai, adil, sejahtera, dan beradab.

Seruan yang diterima Tagar.co, Senin (13/4/26) ini sebagai respons atas meningkatnya konflik di Timur Tengah yang dinilai berpotensi memicu krisis kemanusiaan serta instabilitas global.

Baca berita terkait: Ulama Bosnia Prof. Mustafa Cerić Dukung Seruan Persatuan Dunia Islam dari Indonesia

Kecaman terhadap Agresi dan Dampak Kemanusiaan

Dalam pernyataan tersebut, para ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim Indonesia mengecam keras serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dinilai telah menimbulkan tragedi kemanusiaan baru, sementara penderitaan rakyat Gaza, Palestina, belum juga berakhir.

Para penandatangan menegaskan bahwa serangan tersebut dilakukan dengan alasan yang tidak berdasar. “Serangan—dengan alasan superfisial bahwa Iran memiliki senjata nuklir yang bisa menjangkau Amerika Serikat, seperti alasan invasi Amerika Serikat terhadap Irak pada 2003 dan terbukti tidak ada—merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara lain, hukum internasional, hak-hak asasi manusia, dan pengabaian eksistensi Perserikatan Bangsa-Bangsa,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Lebih lanjut ditegaskan bahwa agresi yang dilakukan pada bulan suci Ramadan dan menimbulkan korban sipil tidak dapat dibenarkan. “Agresi Amerika Serikat dan Israel, yang dilakukan pada Bulan Suci Ramadan dan membunuh seratus lebih anak-anak yang sedang belajar, patut dinilai sebagai kejahatan kemanusiaan, kebiadaban, dan aksi teror yang nyata,” demikian ditegaskan dalam seruan tersebut.

Selain itu, para penandatangan juga menyoroti dampak luas konflik tersebut terhadap tatanan global. “Perang tersebut telah membawa dampak buruk berskala global dalam bidang politik dan ekonomi. Jika hal ini tidak segera dihentikan maka potensial menyulut perang global dengan dampak lebih buruk bagi peradaban dunia secara menyeluruh,” demikian peringatan yang disampaikan dalam dokumen tersebut.

Seruan Ishlah Syamilah dan Peran Komunitas Internasional

Para ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim Indonesia menegaskan bahwa seruan ini dilandasi oleh nilai-nilai fundamental ajaran Islam serta tanggung jawab kemanusiaan universal.

Pernyataan tersebut dilandasi oleh keyakinan bahwa Islam merupakan agama perdamaian (din al-salam) dan keadilan (din al-‘adl), serta oleh rasa tanggung jawab atas mandat kemanusiaan universal sebagai khalifat Allah fi al-ardh. Selain itu, seruan ini juga berpijak pada amanat Konstitusi Indonesia untuk mewujudkan perdamaian abadi dan menghapus segala bentuk penjajahan dari muka bumi.

Baca Juga:  Momen Liputan Halalbihalal: Dari Naik Tangga Lima Lantai hingga Satu Lift dengan Din Syamsuddin

Berdasarkan landasan tersebut, para penandatangan memandang mendesak dilakukannya ishlah syamilah. “Kami memandang mendesak dilakukannya ishlah syamilah yakni perbaikan menyeluruh berupa penghentian perang total dan permanen, penyelesaian konflik secara berkeadilan, dan perbaikan tata kehidupan global atas dasar kebenaran, keadilan, kedamaian, dan keadaban,” demikian ditegaskan dalam seruan tersebut.

Mereka juga mengingatkan bahwa perang yang berkelanjutan dan meluas akan membawa malapetaka dunia dan kehancuran peradaban umat manusia.

Selain itu, para penandatangan mendesak komunitas internasional untuk mengambil langkah tegas dalam menegakkan hukum internasional. “Sehubungan dengan itu, kami mendesak PBB dan lembaga internasional relevan, seperti Dewan Keamanan PBB, International Court of Justice (ICJ), dan International Criminal Court (ICC), untuk mengenakan dan menegakkan sanksi tegas dan berat kepada penyebab perang,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Para penandatangan pernyataan juga meminta komitmen agar pihak-pihak tersebut “tidak akan mengulangi lagi tindak penyerangan, pendudukan, dan penjajahan atas negara berdaulat lain, termasuk atas Palestina.”

Ajakan Persatuan Dunia Islam

Seruan ini juga menekankan pentingnya persatuan dan solidaritas negara-negara Islam dalam menghadapi berbagai ancaman terhadap dunia Islam dan peradaban global. Para pemimpin negara Islam diajak untuk mengedepankan persatuan dan solidaritas keislaman, serta mengagungkan kejayaan Islam dengan bersatu padu dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada.

Selain itu, mereka didorong untuk mengesampingkan segala bentuk perbedaan dan silang sengketa antarnegara Islam dengan mengedepankan semangat ukhuwah Islamiyah serta kepentingan umat. Dukungan terhadap kemerdekaan Palestina juga menjadi bagian penting dari seruan ini, termasuk upaya menjaga Masjidilaqsa sebagai kiblat pertama umat Islam dari pendudukan dan penguasaan oleh Tentara Zionis Israel.

Sebagai landasan moral dan spiritual, para penandatangan juga mengingatkan pesan Al-Qur’an, antara lain ajakan untuk bekerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan (Al-Maidah: 2), perintah untuk berpegang teguh pada tali agama Allah dan tidak bercerai-berai (Ali Imran: 103), serta larangan berpecah belah yang dapat melemahkan umat (Al-Anfal: 46).

Penguatan Solidaritas Umat dan Tata Dunia Baru

Tidak hanya ditujukan kepada para pemimpin, seruan ini juga menyasar umat Islam di seluruh dunia agar memperkuat persaudaraan keislaman (al-ukhuah al-Islamiah) sebagai Ummat al-Qur’an wa al-Qiblat al-Wahidah. Umat Islam diimbau untuk tidak terpengaruh oleh politik divide et impera yang dapat memecah belah, seperti perbedaan antara Sunni dan Syiah maupun antara Arab dan Persia.

Baca Juga:  Ketahanan Industri Umrah Indonesia di Tengah Gejolak Timur Tengah

Dalam seruan tersebut ditegaskan bahwa selama umat Islam bersyahadatain, menunaikan salat menghadap kiblat yang sama, dan berpegang teguh pada Kitab Suci Al-Qur’an, maka mereka merupakan satu umat (ummatan wahidah).

Konflik Timur Tengah tahun 2026 dipandang sebagai pelajaran berharga sekaligus momentum bagi dunia Islam untuk melakukan introspeksi, retrospeksi, dan evaluasi diri. Para penandatangan menyerukan agar umat Islam tampil memberi kesaksian kepada dunia sebagai khaira ummah (umat terbaik) dan ummatan wasathan (umat pertengahan).

Dalam konteks tersebut, dunia Islam—baik pemerintah maupun masyarakat—didorong untuk tidak hanya memperkuat solidaritas internal, tetapi juga mengembangkan solidaritas eksternal dengan bangsa-bangsa yang mencintai perdamaian dan keadilan di seluruh dunia.

Dengan mengambil ibrah dan hikmah dari musibah yang terjadi, seruan ini juga mengajak pembentukan Aliansi Global untuk Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, yang dilandasi oleh semangat persaudaraan kemanusiaan (al-ukhuah al-insaniah). Langkah ini diharapkan menjadi fondasi bagi terwujudnya tata dunia baru yang damai, adil, sejahtera, dan beradab.

Klik dan baca Seruan Lengkap 54 Ulama, Zuama, dan Cendekiawan 

Daftar Lengkap 54 Penanda Tangan

Seruan ini ditandatangani oleh para ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim Indonesia dari berbagai organisasi dan latar belakang:

  1. Dr. M. Jusuf Kalla – Mantan Wakil Presiden RI, Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia
  2. Prof. Dr. M. Din Syamsuddin – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah
  3. Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj – Mantan Ketua Umum PBNU
  4. Prof. Dr. Syafiq A. Mughni – Ketua PP Muhammadiyah
  5. Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi
  6. Prof. Dr. Mahfud MD – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi
  7. Prof. Dr. Hamdan Zoelva – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi/Ketua Umum PP Sarekat Islam
  8. Dr. Lukman Hakim Saifuddin – Mantan Menteri Agama
  9. Prof. Dr. Komaruddin Hidayat – Mantan Rektor UIN & UIII/Ketua Dewan Pers
  10. Dr. KH. Muhyidin Junaidi, MA – Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI
  11. Dr. KH. Cholil Nafis, Lc., M.Ag – Wakil Ketua Umum MUI
  12. Dr. Anwar Abbas, M.Ag., MM – Wakil Ketua Umum MUI
  13. Prof. Dr. Sudarnoto A. Hakim – Ketua MUI
  14. Dr. KH. Zaitun Rasmin, Lc., MA – Ketua MUI/Ketua Umum Wahdah Islamiyah
  15. Dr. KH. Jeje Zaenudin – Ketua Umum PP Persatuan Islam
  16. Dr. Faisol Nashar bin Madi – Ketua Umum PP Al-Irsyad Al-Islamiyah
  17. Dr. Adian Husaini – Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia
  18. Dr. Masyhuril Khamis – Ketua Umum PB Al-Washliyah
  19. Prof. Dr. Jakfar Hafsah – Wakil Ketua Umum ICMI
  20. Prof. Dr. Husnan Bey Fananie – Ketua Umum PP Parmusi
  21. Dr. Syarfi Hutauruk – Ketua Umum DPP Tarbiyah Islamiyah
  22. Dr. Ahmad Kusyairi Suhail – Ketua Umum DPP IKADI
  23. Dr. KH. MA Suhari – Ketua Umum DPP Bakomubin
  24. Dr. Imam Addaraqutni – Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia
  25. Dr. Rahmat Hidayat – Sekretaris Umum Dewan Masjid Indonesia
  26. Dr. Agus Wicaksono – Wakil Ketua Umum PP Al-Ittihadiyah
  27. Zahir Yahya, MA – Ketua DPP AhlulBait Indonesia (ABI)
  28. KH. Sadeli Karim – Ketua Dewan Syura Mathla’ul Anwar
  29. Dr. Bakhtiar Nasir, Lc., MM – Direktur AQL Center
  30. KH. Shobri Lubis – Ketua Umum Persada/Alumni 212
  31. Dr. Nashirul Haq – Wakil Ketua Dewan Syuro Hidayatullah
  32. Husein Shahab, MA – Ketua Dewan Syura AhlulBait Indonesia (ABI)
  33. Mohammad Al-Jufri, SE – Ketua Miftahul Khairat
  34. Dr. Haidar Bagir, MA – Pendiri Gerakan Islam Cinta
  35. Ir. Sayuti Asyathri – Cendekiawan Muslim/Mantan Anggota DPR
  36. Dr. Ahmad Rifai Hasan, MA – Direktur Paramadina Institute for Ethics and Civilization
  37. Dr. Nurhayati Assegaf – Sekjen Global Forum of Muslimah Leaders
  38. Dr. Rashda Diana, Lc., MA – Wakil Pengasuh PMI Dea Malela/Dosen Unida Gontor
  39. Dr. apt. Salmah Orbayinah, M.Kes – Ketua Umum PP ‘Aisyiyah
  40. Dra. Marfuah Mustofa, M.Pd – Ketua Umum PP Wanita Islam
  41. Prof. Dr. Valina Subekti – Ketua Umum PP Wanita Sarekat Islam
  42. Dr. Sabriati Aziz – Penasihat Muslimat Hidayatullah
  43. Dr. Syifa Fauziah – Ketua Umum DPP BKMT
  44. Mufidah Said Bawazier, SE., MM – Ketua Dewan Pengawas PB Wanita Al-Irsyad
  45. Hj. Trisna Djuwaeli, SE., MM – Ketua Umum PP Muslimat Mathla’ul Anwar
  46. Herliani, M.Ag – Ketua Umum DPP Wanita PUI
  47. Hj. RA. Reni Anggrayni, S.T – Ketua Umum Salimah/Persaudaraan Muslimah
  48. Hartini Dg Saido, S.Ag., M.H – Ketua Umum PP Muslimat Dewan Dakwah
  49. Dra. Hj. Asdirwati Ali, M.MP – Ketua Umum PP Persatuan Wanita Tarbiyah Islamiyah (PERWATI)
  50. Prof. Dr. Makmun Murod – Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta
  51. Prof. Dr. Didik J. Rachbini – Rektor Universitas Paramadina
  52. Prof. Dr. Masduki Ahmad – Rektor Universitas Islam Assyafi’iyah
  53. Prof. Dr. Fasli Jalal – Rektor Universitas YARSI
  54. Dr. KH. Zulkifli Muhadli, SH – Ketua Umum Forum Pondok Pesantren Alumni Gontor (FPAG)
Baca Juga:  Finansial Negara Rusak di Tengah Perang

Penyunting Mohammad Nurfatoni