Opini

Finansial Negara Rusak di Tengah Perang

113
×

Finansial Negara Rusak di Tengah Perang

Sebarkan artikel ini
Finansial negara yang terlibat perang di Timur Tengah merosot terutama pendapatan dari minyak dan energi. ‎Gangguan ekspor minyak dan gas menyebabkan harga minyak mentah dunia melonjak. Dampak kenaikan harga menimpah negara lain.
Ilustrasi

‎Finansial negara yang terlibat perang di Timur Tengah merosot terutama pendapatan dari minyak. ‎Gangguan ekspor minyak dan gas menyebabkan harga minyak mentah dunia melonjak. Dampak kenaikan harga menimpa negara lain.

‎Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran .

Tagar.co – Konflik yang semakin meluas antara Iran, Israel, dan sekutu kini telah bergerak jauh melampaui batas perang militer.

‎Saat rudal dan serangan udara mendominasi headline, dampak ekonomi yang ditimbulkan justru semakin tajam mencakup kerugian  besar. Di antaranya kenaikan harga energi global, gangguan produksi, dan ancaman terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

‎Indikator paling awal dan konkret dari kehancuran ekonomi akibat konflik terlihat pada kerugian mingguan yang menimpa ekonomi Israel.

‎Menurut laporan Kementerian Keuangan Israel, pembatasan aktivitas ekonomi akibat status darurat membuat perekonomian kehilangan sekitar 9,4 miliar shekel per minggu, atau setara USD 3 miliar, akibat gangguan sektor bisnis, pembatasan mobilitas, dan penurunan konsumsi domestik.

‎Angka ini jelas memperlihatkan bagaimana konflik dapat dengan cepat menghancurkan sendi ekonomi nasional.

Baca Juga:  Media Sosial dan Pembatasan Akses Anak-Anak

‎Di sisi lain, Iran menghadapi kemerosotan pendapatan energi yang luar biasa. ‎Gangguan ekspor minyak dan gas, tulang punggung ekonomi negara menyebabkan harga minyak mentah dunia melonjak.

Brent crude naik lebih dari 20–28% dalam beberapa hari, menandai lonjakan mingguan terbesar sejak beberapa tahun terakhir.

‎Gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz, jalur vital yang membawa sepertiga perdagangan minyak dunia, memicu tekanan global terhadap harga energi dan inflasi.

‎Lonjakan harga minyak bukan hanya masalah regional. Ini berdampak langsung pada inflasi global, biaya produksi, dan daya beli konsumen di berbagai negara.

‎Hal ini menegaskan bahwa konflik lokal dapat menimbulkan efek domino ekonomi yang meluas ke seluruh dunia.

Dampak Sektor Produksi dan Energi

‎Dalam enam hari pertama konflik, harga minyak mentah brent naik sekitar 18%, dari USD 72 menjadi USD 84 per barel.

‎Lonjakan ini langsung menekan sektor energi global, memicu inflasi di sektor manufaktur, transportasi, dan logistik, serta memengaruhi keputusan investasi industri di berbagai negara.

Baca Juga:  Negara Arab Diam Melihat Perang Iran-Israel, Ini Alasannya

‎Pun industri pariwisata regional yang bernilai ratusan miliar USD turut terpukul.

‎Gangguan penerbangan, penutupan Bandara, dan kekhawatiran keamanan menunda aktivitas ekonomi, memperlambat distribusi, dan menyebabkan kerugian signifikan bagi negara-negara yang bergantung pada pendapatan sektor ini.

‎Dampak ini juga memengaruhi perdagangan dan logistik, karena pengiriman barang dan transportasi terhambat.  ‎

‎Kerugian ekonomi yang ditimbulkan konflik tidak berhenti pada angka sesaat. ‎Analisis lembaga think tank Chatham House menunjukkan bahwa konflik berkepanjangan menekan output nasional, produktivitas, investasi, dan rantai pasokan.

‎Israel pernah mengalami kontraksi ekonomi 1% dalam satu kuartal akibat gangguan sosial dan militer.

‎Iran, dengan ekonomi yang sangat bergantung pada ekspor minyak, diprediksi bisa mengalami penurunan GDP lebih dari 10% jika ketegangan terus berlanjut.

‎Selain itu, inflasi energi global yang meningkat, volatilitas pasar modal, dan pelemahan mata uang di banyak negara membuktikan bahwa konflik ini tidak hanya merusak ekonomi lokal tetapi juga memengaruhi stabilitas ekonomi global.

Gejolak Energi

‎Dampak perang terlihat jelas pada harga energi, inflasi global, dan risiko produksi.

Baca Juga:  ‎Perang 4.0: tanpa Manusia di Garis Depan

‎Kenaikan biaya energi menekan sektor manufaktur, memperlambat pertumbuhan investasi, dan mengurangi daya beli konsumen.

‎Gangguan pasokan melalui titik strategis seperti Selat Hormuz menunjukkan bahwa konflik regional dapat menyebabkan shock ekonomi global.

‎Situasi ini menegaskan bahwa dalam dunia yang saling terhubung, konflik lokal memiliki implikasi ekonomi yang luas, memengaruhi produksi, perdagangan, dan stabilitas  di seluruh dunia.

‎Kerugian ekonomi akibat konflik Iran–Israel adalah gambaran nyata bagaimana perang modern merusak sendi ekonomi nasional dan global, bukan sekadar bangunan atau infrastruktur militer.

‎Angka kerugian miliaran dolar, lonjakan harga energi, serta ancaman terhadap produksi dan GDP jangka panjang memperlihatkan bahwa konflik ini adalah krisis  dan ekonomi yang berjangka panjang.

‎Penyelesaian damai bukan hanya kebutuhan moral dan kemanusiaan, tetapi juga keharusan strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi global, produksi nasional, dan pertumbuhan yang berkelanjutan. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto