Feature

UMM Jadi Mitra Unesco dalam Misi Pelestarian Air Global

223
×

UMM Jadi Mitra Unesco dalam Misi Pelestarian Air Global

Sebarkan artikel ini
Fasilitas PLTMH Sumber Maroon yang dikembangkan UMM menjadi bukti nyata sinergi antara teknologi, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat sekitar. (Tagar.co/Dokumentasi Humas UMM)

Universitas Muhammadiyah Malang resmi menjadi mitra UNESCO dalam program pelestarian ekosistem air berkelanjutan, menandai kiprah global kampus dalam menghadirkan solusi nyata bagi krisis air dan ketahanan pangan.

Tagar.co — Di tengah meningkatnya ancaman krisis air global, sebuah kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan Indonesia. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan perannya sebagai kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berdampak nyata bagi keberlanjutan lingkungan.

Pada tahun 2026, Kampus Putih resmi ditetapkan sebagai mitra Unesco melalui program Unesco Chair and Host Institution on Sustainable Water Ecosystem. Pengakuan prestisius ini menempatkan UMM sebagai satu dari tiga perguruan tinggi di Indonesia yang dipercaya mengemban mandat global tersebut.

Baca juga: Inovasi NutriTrack MBG, Mahasiswa UMM Sabet Tiga Penghargaan Internasional

Kepercayaan ini bukanlah hasil yang diraih secara instan. Ia merupakan buah dari perjalanan panjang riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat yang dilakukan secara konsisten. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menegaskan bahwa visi UMM untuk berkontribusi di tingkat internasional telah menjadi motor penggerak berbagai inisiatif strategis kampus.

Baca Juga:  Program CoE UMM Dorong Mahasiswa Siap Kerja di Industri Sawit

“Status ini adalah amanah besar. Sejak awal, UMM berkomitmen menjadi impactful university yang mampu memberikan solusi nyata bagi persoalan global, khususnya terkait keberlanjutan sumber daya air,” ujarnya, dikutip dari siaran pers Humas UMM yang diterima Tagar.co, Senin (13/4/26).

Panen padi organik di Subak Tabanan, Bali, menandai kontribusi nyata Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam menjaga keberlanjutan ekosistem air. Melalui inovasi green farming dan smart farming, UMM tidak hanya melestarikan warisan budaya dunia, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan petani. (Tagar.co/Dokumentasi Humas UMM

Menyelamatkan Warisan Dunia di Subak Bali

Salah satu kiprah penting UMM terlihat di kawasan Subak, Tabanan, Bali—sistem irigasi tradisional yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco. Kawasan ini sempat menghadapi ancaman serius akibat penggunaan pestisida kimia berlebihan yang menyebabkan degradasi kualitas tanah.

Tanah menjadi keras dan kehilangan kesuburannya, memaksa sebagian petani mengalihfungsikan lahan sawah menjadi kawasan vila. Dampaknya tidak hanya pada ketahanan pangan, tetapi juga pada hilangnya daerah resapan air.

UMM hadir dengan solusi berbasis green farmingdan smart farming. Pendekatan ini berhasil memulihkan kesehatan tanah sekaligus meningkatkan efisiensi produksi pertanian. Upaya tersebut juga secara tidak langsung menjaga keberlanjutan sumber daya air di kawasan tersebut.

Berkat kontribusi ini, pada tahun 2024 UMM menerima penghargaan dari Unesco atas keberhasilannya dalam mendukung konservasi ekosistem Subak.

Baca Juga:  Mahasiswa Back to School Prodi Sosiologi UMM Hadir di SMAN 1 Kutorejo

“Kami memang tidak merawat air secara langsung saat itu. Namun melalui pengembangan smart farming dan energi terbarukan, daerah resapan air dapat terselamatkan,” jelas Salis.

Membawa Harapan Air Bersih ke Nusa Tenggara Timur

Komitmen UMM terhadap keberlanjutan air juga menjangkau wilayah Indonesia Timur. Sebanyak 52 akademisi diterjunkan ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk melakukan pemetaan sumber air baru, memperkuat sistem ketahanan pangan, serta menekan angka stunting. Program ini menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan keterbatasan akses air bersih di daerah tersebut.

Sebagai kelanjutan dari misi ini, UMM tengah menyiapkan implementasi teknologi desalinasi bertenaga surya, sebuah inovasi yang diharapkan mampu menyediakan pasokan air bersih secara berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.

Fasilitas PLTMH milik UMM menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa dalam mengembangkan teknologi energi bersih serta solusi keberlanjutan. (Tagar.co/Dokumentasi Humas UMM

Energi Terbarukan dari Aliran Sungai Brantas

Selain konservasi air, UMM juga menunjukkan kapasitasnya dalam pengembangan energi terbarukan melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Fasilitas PLTMH 1 dan 2 yang memanfaatkan aliran Sungai Brantas di kawasan kampus dan Taman Rekreasi Sengkaling menjadi bukti nyata integrasi antara pelestarian lingkungan dan pemanfaatan energi bersih.

Baca Juga:  Ramadan sebagai Momentum Rekonstruksi Niat

Tidak berhenti di lingkungan kampus, UMM turut membantu pengembangan PLTMH di berbagai wilayah. Inisiatif ini bahkan mendorong pertumbuhan sektor ekowisata, seperti di kawasan Sumber Maron dan Boonpring Turen, yang kini dikenal sebagai destinasi wisata berbasis keberlanjutan.

Amanah untuk Masa Depan

Pengakuan dari Unesco menjadi tonggak penting bagi perjalanan UMM, namun bukanlah titik akhir. Bagi Kampus Putih, status ini merupakan tanggung jawab untuk terus berada di garis depan dalam upaya pelestarian lingkungan. Semangat tersebut sejalan dengan nilai Islam Berkemajuan yang diusung oleh Muhammadiyah—sebuah visi yang menekankan keberlanjutan dan kemaslahatan bagi generasi mendatang.

“Kita tidak hanya berpikir tentang hari ini, tetapi juga 50, 100, bahkan 500 tahun ke depan. Anak cucu kita membutuhkan lingkungan yang tetap lestari, termasuk ketersediaan air bersih,” pungkas Salis.

Dengan langkah-langkah strategis yang terus berkembang, Universitas Muhammadiyah Malang tidak hanya mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional, tetapi juga menghadirkan harapan nyata bagi masa depan bumi yang lebih berkelanjutan. (*)

Penyunting Mohammad Nurfatoni