
Keheningan di ruang kelas sering dianggap sebagai tanda keberhasilan. Namun, di baliknya tersimpan krisis nalar kritis yang membuat siswa mahir menjawab, tetapi gagap dalam merumuskan pertanyaan.
Oleh Alfiatus Zahro; Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia – Universitas Muhammadiyah Malang
Tagar.co – Bayangkan sebuah ruang kelas di mana keheningan dianggap sebagai keberhasilan dan kepatuhan adalah nilai tertinggi. Di sana, guru berdiri di depan papan tulis, memindahkan tumpukan informasi ke dalam buku catatan siswa.
Di akhir semester, siswa diminta memindahkan kembali informasi tersebut ke dalam lembar ujian. Jika isinya sama persis, mereka dianggap pintar.
Baca juga: Ketika Kelas Kalah Menarik dari Layar: Tantangan Pembelajaran di Era Digital
Namun, ada yang hilang dalam siklus pendidikan saat ini, yaitu nalar kritis. Kita sering terjebak dalam paradigma pendidikan yang memuja jawaban benar, namun mematikan keberanian untuk mengajukan pertanyaan.
Akibatnya, sekolah menjadi pabrik yang memproduksi “mesin penjawab”, bukan pemikir yang mampu merumuskan masalah. Berdasarkan survei Katadata Insight Center (KIC) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) tahun 2023, meskipun indeks literasi digital Indonesia terus meningkat, pilar critical thinking (nalar kritis) sering kali menjadi skor terendah dibandingkan pilar teknis, seperti pengoperasian gawai.
Jebakan ‘Wadah’ dalam Belajar
Secara tidak sadar, banyak pendidik masih terjebak pada metafora “wadah” dalam mengajar. Paulo Freire menyebut model pendidikan “guru mengisi siswa” sebagai Banking Concept of Education (pendidikan gaya bank).
Dalam hal ini, guru dianggap sebagai sumber air yang penuh, dan siswa adalah gelas kosong yang siap diisi. Dalam skema ini, ilmu pengetahuan bersifat statis dan final; tugas siswa hanyalah menampung “jawaban” yang sudah jadi tanpa perlu memahami bagaimana jawaban itu ditemukan.
Skor literasi membaca siswa Indonesia juga mengalami penurunan yang signifikan. Berdasarkan Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, skor Indonesia berada pada angka 359, jauh di bawah rata-rata OECD yang mencapai 476.
Padahal, esensi dari dimensi Penalaran Kritis dalam profil lulusan adalah kemampuan untuk membedah informasi. Nalar kritis tidaklah lahir dari kepastian, melainkan dari keraguan yang sehat.
Ketika sekolah hanya berfokus pada jawaban, kita sebenarnya sedang melatih siswa untuk menjadi pengikut, bukan pemimpin. Kita membiasakan mereka menerima narasi tanpa saringan, yang di masa depan akan membuat mereka rentan terhadap hoaks dan manipulasi informasi.
Saat Pertanyaan Dianggap Gangguan
Isu aktual yang sering terjadi di lapangan adalah anggapan bahwa pertanyaan siswa yang berada di luar teks buku dianggap sebagai “gangguan” terhadap target kurikulum. Guru sering kali merasa terburu-buru mengejar materi, sehingga diskusi yang mendalam dikorbankan demi ketuntasan administratif.
Dalam perspektif pendidikan modern, pertanyaan justru merupakan bukti bahwa pembelajaran sedang terjadi. Sebuah pertanyaan adalah jembatan antara apa yang sudah diketahui dan apa yang ingin dipahami. Tanpa pertanyaan, nalar kritis akan layu. Siswa mungkin hafal definisi demokrasi, tetapi mereka tidak memahami mengapa demokrasi itu penting atau bagaimana ia bisa rusak.
Budaya kelas kita memang masih terlalu didominasi oleh komunikasi searah. Sudah saatnya kita mengubah paradigma tersebut dengan menjadikan ruang kelas sebagai laboratorium logika.
Alih-alih sekadar menyuapi siswa dengan “ikan” berupa jawaban instan, sistem pendidikan kita seharusnya membekali mereka dengan “kail” berupa pemantik rasa ingin tahu. Merayakan kebingungan dan memfasilitasi pencarian jawaban secara mandiri jauh lebih bermakna bagi perkembangan nalar siswa daripada sekadar mengejar ketuntasan buku cetak.
Membudayakan ‘Mengapa’ dan ‘Bagaimana’
Untuk mengatasi krisis nalar ini, ruang kelas harus bertransformasi. Kita perlu bergeser dari pembelajaran yang berorientasi pada “apa jawabannya” menuju pembelajaran yang berorientasi pada “mengapa” dan “bagaimana”.
Pertama, guru harus berani memberikan ruang bagi kesalahan. Jawaban yang salah sering kali mengandung proses berpikir yang lebih menarik daripada jawaban benar yang sekadar hafalan. Kedua, penilaian tidak boleh hanya terpaku pada skor angka ujian.
Esai, proyek analisis, debat, serta pendekatan seperti Problem-Based Learning, Inquiry-Based Learning, dan Socratic Questioning perlu menjadi bagian integral pembelajaran untuk menguji sejauh mana siswa mampu menyusun argumen yang logis.
Ketiga, kita perlu mengajarkan siswa untuk “membaca” dunia, bukan sekadar membaca buku teks. Ajak mereka menganalisis mengapa sebuah iklan menggunakan kata-kata tertentu atau mengapa sebuah kebijakan publik menuai pro dan kontra. Dengan melatih mereka bertanya, kita sedang memberi mereka senjata paling ampuh untuk menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.
Penutup
Sekolah seharusnya menjadi tempat yang paling bising dengan rasa ingin tahu. Jangan sampai lulusan kita keluar dari gerbang sekolah dengan tas penuh jawaban, tetapi kepala yang kosong dari pertanyaan. Sebab, kemajuan peradaban tidak pernah dimulai dari sebuah jawaban, melainkan dari sebuah pertanyaan sederhana yang berani diajukan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












