Feature

Mahasiswa Biologi Uhamka Bedah Kurikulum Cambridge di Bio-Teach Talks

241
×

Mahasiswa Biologi Uhamka Bedah Kurikulum Cambridge di Bio-Teach Talks

Sebarkan artikel ini
Chika Amalia Azhari, M.Ed., alumni Pendidikan Biologi Uhamka, berbagi pengalaman mengajar Kurikulum Cambridge dalam kegiatan Bio-Teach Talks di FKIP Uhamka. Kegiatan ini menginspirasi mahasiswa untuk menjadi guru biologi yang relevan, kritis, dan inspiratif di kancah global. (Tagar.co/Istimewa)

Mahasiswa Pendidikan Biologi Uhamka diajak menyelami praktik pengajaran berstandar internasional melalui Bio-Teach Talks, menghadirkan alumni yang kini mengajar dengan Kurikulum Cambridge.

Tagar.co – Ruang diskusi di lingkungan Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Uhamka Jakarta tampak berbeda pada Sabtu (11/4/26). Percakapan dalam dua bahasa—Indonesia dan Inggris—mengalir dinamis, mencerminkan semangat para calon guru yang tengah mempersiapkan diri menghadapi tantangan pendidikan global.

Melalui kegiatan Bio-Teach Talks, mahasiswa tidak hanya berdiskusi, tetapi juga merasakan secara langsung atmosfer pembelajaran berstandar internasional.

Baca juga: Alumni PBSI Uhamka Berbagi Pengalaman Berkiprah di Ranah Publik

Mengusung tema “Becoming a Relevant, Critical, and Inspirational Biology Teacher,” acara ini diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Uhamka bersama Himpunan Mahasiswa Pendidikan Biologi. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus simulasi nyata bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana kurikulum internasional, khususnya Cambridge, diterapkan di lapangan.

Sorotan utama kegiatan ini adalah kehadiran Chika Amalia Azhari, M.Ed., alumni angkatan 2016 yang kini berkiprah sebagai pengajar Kurikulum Cambridge di MAN 4 Jakarta. Dalam sesi berbagi pengalamannya, Chika tidak sekadar menyampaikan materi, tetapi juga mengajak peserta “mengintip dapur” praktik pembelajaran di sekolah berstandar global.

Baca Juga:  Sekolah Muhammadiyah Harus Menjadi Pilihan Utama Masyarakat

Menurutnya, guru biologi masa kini perlu memiliki tiga “DNA” utama. Pertama, relevansi, yakni kemampuan memahami karakteristik dan kebutuhan peserta didik dari generasi Z dan Alpha.

Kedua, berpikir kritis, di mana guru harus mendorong siswa untuk bertanya “mengapa” dan memahami konsep secara mendalam, bukan sekadar menghafal istilah atau nama latin.

Ketiga, inspiratif, yaitu kemampuan menjadi figur yang mampu memotivasi dan menggerakkan rasa ingin tahu siswa.

“Guru biologi bukanlah kamus berjalan, melainkan fasilitator yang mampu mengaitkan konsep sains dengan isu nyata seperti bioteknologi dan krisis iklim,” ungkapnya.

Antusiasme peserta semakin terasa saat memasuki sesi diskusi kelompok. Mahasiswa ditantang untuk keluar dari zona nyaman dengan menganalisis berbagai studi kasus, mulai dari meluruskan miskonsepsi konsep biologi hingga merancang strategi pembelajaran berbasis inquiry ala Cambridge.

Presentasi hasil diskusi yang dilakukan secara bilingual menambah dinamika sekaligus melatih kepercayaan diri peserta dalam berkomunikasi di tingkat internasional.

Ketua Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Uhamka, Dr. Rizkia Suciati, menegaskan bahwa penguasaan konten semata tidak lagi cukup bagi seorang pendidik di era modern. “Dunia yang semakin kompleks menuntut calon guru untuk terbiasa dengan pendekatan kontekstual dan kolaboratif. Kami berharap lulusan Uhamka tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga agen perubahan dalam dunia pendidikan,” ujarnya.

Baca Juga:  Kisah Nek Tuni dan Pelajaran Empati dari Mahasiswa PGSD Uhamka

Kegiatan yang ditutup dengan sesi foto bersama ini meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta. Bio-Teach Talks berhasil menjembatani kesenjangan antara teori di bangku kuliah dan praktik kurikulum internasional di lapangan. Melalui inisiatif ini, Uhamka menegaskan komitmennya dalam mencetak guru biologi masa depan yang adaptif, kritis, dan senantiasa menginspirasi. (#)

Jurnalis Hendra Apriyadi Penyunting Mohammad Nurfatoni