
Di Rutan Perempuan Porong, pembinaan kemandirian melahirkan produk kreatif bernilai jual. Namun tanpa dukungan pemasaran, harapan reintegrasi ekonomi itu masih memerlukan uluran banyak pihak.
Tagar.co — Di balik tembok Rumah Tahanan Negara (Rutan) Perempuan Kelas IIA Surabaya di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, para narapidana perempuan tidak hanya menjalani masa pidana.
Mereka juga sedang menyiapkan masa depan—dengan keterampilan, harapan, dan mimpi untuk kembali hidup mandiri di tengah masyarakat.
Baca juga: Lazismu Sidoarjo Salurkan Mushaf Al-Qur’an dan Makanan untuk Perempuan Binaan Rutanyekti
Potret itu tampak jelas saat tim Lazismu Sidoarjo berkunjung ke Rutan Porong, Selasa (13/1/2026). Di ruang-ruang pembinaan, tangan-tangan terampil warga binaan melahirkan beragam karya bernilai seni dan ekonomi: mulai dari kain shibori dan tie-dye dengan berbagai motif, hingga kerajinan rajut seperti tas, songkok, sandal hotel, topi, dan taplak meja.
Tak hanya itu, mereka juga memproduksi aksesori berupa kalung etnik yang memiliki daya tarik pasar.
“Kalau kain, kami ada shibori dan tie-dye. Yang bulat-bulat itu shibori ikat. Selain itu ada produk rajut seperti tas, songkok, sandal hotel, topi, dan taplak. Kami juga membuat kalung etnik,” tutur Kasubsie Bimbingan Kegiatan (Bimgiat) Rutan Perempuan Kelas IIA Surabaya, Cami Hendariswati, S.S., S.H., M.M.
Pembinaan di Rutan Porong tidak berhenti pada kerajinan tangan. Sektor pangan dan hasil kebun juga menjadi fokus pelatihan. Para warga binaan dilatih mengolah rosella dan bunga telang menjadi berbagai produk bernilai jual: sirup rosella, selai rosella, manisan rosella, sirup telang dengan beragam varian, hingga aneka kue kering.
“Selama di sini mereka dilatih berbagai keterampilan sesuai minat masing-masing. Harapannya, ketika keluar sudah siap usaha dan tidak mulai dari nol,” lanjut Cami.
Melihat potensi besar tersebut, Ketua Lazismu Sidoarjo Hifni Solikhin menyatakan kesiapan pihaknya untuk bersinergi mendukung kemandirian ekonomi warga binaan. Menurutnya, produk-produk yang dihasilkan layak dikembangkan melalui penguatan pemasaran dan pendampingan usaha.
“Lazismu Sidoarjo siap mengintegrasikan hasil karya warga binaan Rutan Perempuan Porong ke dalam pilar ekonomi Lazismu melalui program Pemberdayaan UMKM, agar produk-produk tersebut memiliki akses pasar yang lebih luas dan berkelanjutan,” ujarnya.
Berbagai hasil pembinaan itu dinilai memiliki kualitas dan potensi pasar yang menjanjikan. Namun, dukungan jejaring pemasaran, penguatan branding, serta sistem distribusi yang terstruktur masih menjadi kebutuhan utama agar karya warga binaan benar-benar menjadi jalan reintegrasi sosial dan ekonomi yang nyata.
Di Rutan Porong, pembinaan bukan sekadar rutinitas. Ia adalah ikhtiar mempersiapkan kehidupan setelah masa pidana berakhir. Dari kain shibori, rajutan racut, hingga olahan rosella, para narapidana perempuan tengah merajut harapan—menuju kemandirian dengan sokongan sinergi lintas pihak. (#)












