
Peluncuran Madrasah Diniah SD Al-Islam Cerme disambut antusias puluhan siswa sebagai langkah strategis memperkuat karakter dan kedalaman spiritual peserta didik.
Tagar.co — Senin sore, 12 Januari 2026, hujan deras mengguyur Cerme, Gresik. Udara dingin dan rintik yang tak kunjung reda biasanya membuat siapa pun memilih di rumah. Namun pemandangan berbeda tampak di selasar SD Al-Islam.
Sebanyak 70 siswa justru datang dengan penuh semangat untuk mengikuti hari pertama Madrasah Diniah (Madin) Al=Islam, sebuah program baru yang menjadi angin segar pendidikan religi di sekolah tersebut.
Baca juga: Gedung Baru SD Al-Islam Hasil Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Diresmikan
Kepala SD Al Islam, Cicik Indrawati, mengatakan, peluncuran Madin ini bukan sekadar penambahan jam pelajaran, melainkan ikhtiar serius sekolah bersama para orang tua dalam memperkuat fondasi spiritual peserta didik di tengah derasnya tantangan zaman.
Dari Niat Menjadi Aksi Nyata
Program Madin dirancang dalam waktu relatif singkat, hanya dua pekan. Di bawah kepemimpinan Wafiqul Mizan sebagai mudir dan dukungan penuh Siti Fatimah, wakil kepala sekolah, tim pendidik menyusun kurikulum yang padat namun terstruktur.
Materi pembelajaran mencakup fikih, akidah, tarik Islam, hadis, serta tajwid sebagai fondasi pembentukan karakter religius siswa.
Cicik Indrawati menegaskan bahwa pendidikan karakter berbasis iman menjadi kebutuhan mendesak.
“Madrasah Diniyah merupakan fondasi dalam pembentukan karakter islami. Kecerdasan tanpa akhlak akan timpang. Dengan iman yang kuat, anak-anak lebih siap menghadapi kehidupan,” ujarnya.

Antusiasme Mengalir di Ruang Kelas
Rutinitas Madin dimulai dengan salat Asar berjemaah, lalu siswa masuk ke kelas sesuai jenjang masing-masing. Meski berlangsung setelah jam sekolah formal, raut lelah nyaris tak terlihat. Justru, antusiasme menjadi warna utama kegiatan.
Pada hari pertama, jumlah peserta mencapai kuota maksimal: 70 siswa, terdiri atas 15 siswa kelas II hingga 23 siswa kelas VI. Memasuki hari kedua, Selasa (13/1), suasana belajar semakin cair, tertib, dan hidup.
Salah satu siswi kelas VI, Keyla Assyifatin Qolbi, mengaku sangat menikmati kegiatan tersebut.
“Saya senang sekali ada Madin di sini. Wawasan agama saya bertambah, apalagi penyampaian materinya menyenangkan. Waktu rasanya cepat sekali berlalu, padahal masih ingin belajar lebih lama,” tuturnya.
Hal serupa diungkapkan Jihan, siswi lainnya. Bagi mereka, Madin bukan beban tambahan, melainkan ruang belajar yang menyenangkan dan penuh makna.
Menanam Iman untuk Masa Depan
Bagi Wafiqul Mizan, semangat siswa menjadi energi utama untuk terus mengembangkan program ini. Ia berharap Madin mampu melahirkan generasi yang memiliki wawasan keagamaan luas dan karakter yang kokoh.
“Ini akan menjadi bekal masa depan mereka, baik untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat,” katanya.
Kini, di SD Al Islam, pendidikan tidak lagi semata mengejar nilai akademik, tetapi menanam benih iman yang diharapkan tumbuh menjadi pohon karakter yang kuat, menaungi masa depan anak-anak bangsa. (#)
Jurnalis Mardiyana Zulifah Penyunring Mohammad Nurfatoni






