Feature

“Manusia Jalur Langit”, Esai Nadhirotul Mawaddah Raih Penghargaan Nasional

111
×

“Manusia Jalur Langit”, Esai Nadhirotul Mawaddah Raih Penghargaan Nasional

Sebarkan artikel ini
Nadhirotul Mawaddah (tengah) berpartisipasi dalam Pelatihan Koding & Kecerdasan Artifisial (KKA) PAUD Kabupaten Gresik, mencerminkan dedikasinya terhadap pengembangan kompetensi profesional guru. (Tagar.co/Istimewa)

Mengangkat realitas kehidupan guru yang sarat pengabdian di tengah keterbatasan kesejahteraan, esai berjudul “Manusia Jalur Langit” mengantarkan Nadhirotul Mawaddah meraih penghargaan nasional dalam lomba buku esai “Guru Layak Sejahtera” edisi April 2026.

Tagar.co – Mengangkat realitas kehidupan guru yang sarat pengabdian di tengah keterbatasan kesejahteraan, esai berjudul “Manusia Jalur Langit” mengantarkan Nadhirotul Mawaddah meraih penghargaan nasional. Ia dinobatkan sebagai pemenang lomba buku esai “Guru Layak Sejahtera” dalam program Noelis Bareng Pemred (No Baper) edisi April 2026.

Penghargaan tersebut diperkuat dengan diterbitkannya piagam bernomor 65/PP/NB/IV/2026 yang dikeluarkan di Surabaya pada 14 April 2026. Dalam piagam itu, Nadhirotul Mawaddah, S.H., S.Pd., yang merupakan guru di TK IT Handayani Menganti, Gresik, Jawa Timur, secara resmi ditetapkan sebagai pemenang.

Piagam tersebut ditandatangani oleh Eko Prasetyo, Pemimpin Redaksi Mediaguru. Pengakuan ini menjadi bukti bahwa gagasan yang ia tuangkan melalui karya reflektifnya mendapatkan apresiasi luas di tingkat nasional.

Baca juga: “Menjahit Kembali Mimpi yang Terbelah”, Karya Nadhirotul Mawaddah Juara I Lomba Cerpen JSIT

Baca Juga:  Empat Tanda Keberhasilan Puasa Ramadan, Pesan Idulfitri dari Kupang Krajan

Apresiasi tersebut tidak terlepas dari kekuatan pesan yang dihadirkan dalam esai karyanya. Melalui tulisan itu, Nadhirotul Mawaddah menghadirkan refleksi mendalam tentang makna menjadi guru—sebuah profesi yang kerap berjalan di antara idealisme dan realitas yang tak selalu ramah.

Perjalanan Iir—sapaan akrab Nadhirotul Mawaddah—dalam menyusun karya tersebut tidak lahir dari ruang hampa. Ia memulainya dari pengamatan sederhana namun mendalam terhadap sosok-sosok guru yang tetap mengabdi meski kesejahteraan belum sepenuhnya berpihak. Dalam diam, mereka terus melangkah, seolah memiliki “jalur langit”: keyakinan tak kasatmata yang menuntun mereka untuk tetap bertahan.

Melalui tulisannya, Iir merangkai kisah-kisah kecil yang kerap terlewatkan. Ia tidak menggambarkan guru sebagai sosok sempurna, melainkan manusia biasa dengan beban, harapan, dan keteguhan. Justru di situlah kekuatan esai ini—pada kejujuran narasi yang terasa dekat dan nyata. Pembaca diajak melihat bahwa di balik papan tulis dan ruang kelas, terdapat perjuangan sunyi yang jarang disorot.

“Awalnya saya ragu karena belum pernah menulis esai sebelumnya. Saat libur Lebaran tidak ada aktivitas di luar rumah, akhirnya memberanikan diri untuk memulai,” kata anak keenam dari tujuh bersaudara ini.

Baca Juga:  Menjaga Napas Ayah dengan Doa

Iir menuturkan bahwa dirinya, sang bapak, serta dua kakaknya berprofesi sebagai guru. Latar belakang tersebut menjadi modal berharga dalam menuangkan ide ke dalam tulisan. Namun, proses kreatifnya bukan tanpa tantangan.

Ia harus berulang kali menata ulang alur pikir, memilih diksi yang tepat, serta menjaga keseimbangan antara emosi dan argumentasi. Ia ingin tulisannya tidak hanya menyentuh, tetapi juga menggugah kesadaran.

Baginya, karya tersebut merupakan bentuk tanggung jawab untuk menyuarakan realitas yang selama ini hanya menjadi bisik-bisik di balik rutinitas pendidikan.

Kerja keras tersebut akhirnya membuahkan hasil. Tulisan itu berhasil mengantarkannya masuk dalam jajaran pemenang bersama para penulis dari berbagai daerah di Indonesia.

“Alhamdulillah, Sabtu lalu dapat kabar lolos kurasi dan bisa masuk bersama dengan jajaran para penulis hebat dari seluruh Indonesia,” ucapnya pada Tagar.co, Kamis (16/4/26).

Namun, bagi Iir, kemenangan ini bukanlah garis akhir. Justru, pencapaian tersebut menjadi titik awal untuk terus menulis dan menyuarakan isu-isu yang sering terpinggirkan. Ia meyakini bahwa tulisan memiliki kekuatan untuk mengetuk kesadaran dan, perlahan, membuka jalan menuju perubahan.

Baca Juga:  Amplop Kosong di Hari Lebaran

Seperti judul yang ia pilih, perjalanan ini pun terasa seperti “jalur langit”: tidak selalu terlihat, tetapi sarat makna. Nadhirotul Mawaddah telah membuktikan bahwa dari jalur tersebut, sebuah suara mampu menjangkau lebih jauh dari yang dibayangkan. (#)

Jurnalis Mohammad Nurfatoni