Rileks

Melawan Rasa Takut di Telaga Sarangan

268
×

Melawan Rasa Takut di Telaga Sarangan

Sebarkan artikel ini
Menikmati wahana speed boat di Telaga Sarangan Magetan, Jawa Timur, Sabtu, 4 April 2026 (Tagar.co/water skier)

Di tengah suasana sejuk pegunungan, pengalaman mencoba wahana speed boat justru menjadi momen tak terduga—mengubah rasa takut menjadi keberanian dan kegembiraan.

Tagar.co Kabut tipis masih menggantung di atas Telaga Sarangan saat rombongan guru TK anggota Gugus 6 Kecamatan Menganti tiba pada Sabtu pagi, 4 April 2026. Udara pegunungan yang sejuk menyambut perjalanan tadabur alam yang dimulai sejak pukul 06.30 WIB dari Masjid Baitul Jannah Bringkang.

Sekitar pukul 10.30 WIB, telaga yang selama ini dikenal tenang itu justru menampilkan wajah berbeda. Permukaan air tampak berombak pelan, sementara suara tawa pengunjung sesekali memecah suasana hening.

Baca juga: Tujuh Saudara dalam Lingkaran Kenangan Idulfitri

Di tepi telaga, deretan wahana air berjajar—mulai dari perahu bebek hingga speed boat yang melaju kencang membelah air. Namun di balik pemandangan itu, ada satu hal yang tak kalah terasa: rasa takut.

Perasaan itu muncul begitu saja. Bayangan akan kemungkinan terjatuh atau kehilangan kendali sempat menghantui. Detak jantung pun meningkat, bukan karena dinginnya udara, melainkan kegugupan yang sulit diabaikan.

Baca Juga:  Analogi Pilot di Mimbar Tarawih: Taat Puasa tanpa Banyak Tanya

“Tenang, aman,” ujar Siti Fatimah, salah satu rekan, mencoba menenangkan.

Dukungan dari teman-teman perlahan mengubah rasa cemas menjadi keberanian. Ada dorongan kecil untuk mencoba—sesuatu yang awalnya terasa menakutkan.

Langkah pertama menuju speed boat menjadi momen paling menentukan. Dengan ragu, kaki melangkah mendekat. Sang pengemudi meyakinkan bahwa perjalanan akan dilakukan perlahan.

Telaga Sarangan, Jawa Timur, Sabtu, 4 April 2026 (Tagar.co/Safira)

Awalnya terasa canggung. Tubuh kaku, pikiran masih dipenuhi kekhawatiran. Namun ketika perahu mulai bergerak pelan, suasana berubah. Angin sejuk menyapa wajah, dan riak air yang sebelumnya menakutkan justru menghadirkan ketenangan.

Tak butuh waktu lama, rasa percaya diri mulai tumbuh.

Ketika mesin dipacu lebih kencang, perahu melesat membelah telaga. Percikan air menyamping, angin menerpa lebih kuat, dan adrenalin meningkat drastis. Jantung kembali berdegup cepat—namun kali ini bukan karena takut, melainkan karena sensasi yang memacu kegembiraan.

Teriakan kecil berubah menjadi tawa lepas. Kekhawatiran yang sebelumnya membelenggu perlahan larut bersama gelombang air.

Di tengah kecepatan itu, justru muncul perasaan baru—lebih hidup, lebih berani.

Baca Juga:  Zada yang Tak Pernah Diam

Pengalaman ini menjadi pengingat sederhana bahwa keberanian tidak selalu harus hadir dalam bentuk besar. Terkadang, cukup satu langkah kecil untuk memulai—dari ragu menjadi mencoba, lalu berujung pada menikmati.

Di Telaga Sarangan, pelajaran itu terasa nyata: rasa takut tidak selalu harus dilawan dengan kekuatan, melainkan dengan keberanian untuk melangkah.

Sebab sering kali, di balik rasa takut, tersimpan pengalaman yang tak terlupakan.

Pagi itu, seiring kabut yang perlahan menghilang, satu hal berhasil ditaklukkan—rasa takut yang berlebihan. (#)

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni