Feature

“Menjahit Kembali Mimpi yang Terbelah”, Karya Nadhirotul Mawaddah Juara I Lomba Cerpen JSIT

67
×

“Menjahit Kembali Mimpi yang Terbelah”, Karya Nadhirotul Mawaddah Juara I Lomba Cerpen JSIT

Sebarkan artikel ini
Nadhirotul Mawaddah, pemenang lomba menulis cerpen kategori guru dalam rangka Musyawarah Daerah (Musda) ke-3 JSIT Gresik-Lamongan, Ahad, 11 Januari 2026 (Tagar.co/Syafira)

Sebuah kisah sederhana yang lahir dari pengalaman pribadi, mengalir jujur dan menyentuh, hingga mengantarkan Nadhirotul Mawaddah meraih juara pertama lomba cerpen JSIT.

Tagar.co — Cerpen berjudul “Menjahit Kembali Mimpi yang Terbelah” karya Nadhirotul Mawaddah, guru TK IT Handayani Menganti, Gresik, sukses meraih juara pertama lomba menulis cerpen dalam Musyawarah Daerah (Musda) Ke-3 Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Gresik–Lamongan, Ahad (11/1/2026).

Baca juga: Pendidikan Karakter Jadi Sorotan Musda JSIT, Ini Pesan Kadisdik Gresik

Pengumuman pemenang lomba yang diikuti para guru dari berbagai jenjang pendidikan itu berlangsung di SMP IT Al-Ibrah Gresik. Karya Iir—sapaan akrab Nadhirotul Mawaddah—dinilai unggul dari segi alur cerita, kedalaman pesan, serta kreativitas dalam menyampaikan gagasan.

“Alhamdulillah, saya benar-benar tidak menyangka bisa meraih juara karena pesertanya bukan hanya guru TK, melainkan dari semua jenjang pendidikan, mulai TK hingga SMP,” ujar Iir penuh syukur, pada Tagar.co, Selasa (13/1/26).

Iir mengungkapkan, proses penulisan cerpen kali ini cukup menantang karena adanya ketentuan tema dari panitia. “Ada tema penulisan cerpen yang sudah ditentukan panitia, itu yang menjadi tantangan. Selama ini cerpen-cerpen yang saya tulis tidak pernah terpaku pada tema khusus,” jelasnya.

Baca Juga:  Haedar Nashir: Ekoteologi, Membangun tanpa Merusak Bumi
Nadhirotul Mawaddah (tengah) bersama rekan-rekan guru TKIT Handayani (Tagar.co/Laili Uswatin).

Gemar Menulis Sejak SMP

Kecintaan Iir pada dunia kepenulisan tumbuh sejak duduk di bangku SMP. Sejumlah cerpennya pernah dimuat di Koran Karya Dharma, salah satu surat kabar lawas di Indonesia.

“Dulu saya sering mencuri kesempatan mengetik cerpen menggunakan mesin ketik milik bapak ketika beliau tidak di rumah,” kenangnya.

“Tema yang saya angkat seputar kehidupan remaja zaman dulu, tentang persahabatan dan cinta monyet,” tambahnya.

Hobi tersebut bahkan pernah memberinya penghasilan. “Alhamdulillah, dari menulis saya sempat mendapatkan uang. Pembayarannya waktu itu melalui wesel pos,” tuturnya sambil tersenyum.

Berkat kepiawaiannya, Nadhir juga pernah memperoleh beasiswa selama satu catur wulan (cawu) setelah menjuarai lomba menulis sinopsis karya sastra saat kelas dua SMP.

Kini, lebih dari 30 cerpen telah ditulis Iir dan telah dipublikasikan Tagar.co. Inspirasi utamanya berasal dari anak-anak didik dan lingkungan sekolah, yang ia olah menjadi kisah-kisah tentang psikologi anak, motivasi hidup, dan refleksi kemanusiaan.

Menjahit Kembali Mimpi yang Terbelah

Cerpen Menjahit Kembali Mimpi yang Terbelah mengisahkan perjalanan batin Rena, seorang perempuan karier yang tenggelam dalam ambisi dunia kerja hingga perlahan menjauh dari keluarga, terutama dari ibunya di kampung.

Baca Juga:  Haedar Nashir Kritik Gaya Pemimpin Panggung

Dalam rutinitas yang penuh target, jabatan, dan prestise, Rena harus berkali-kali menunda kepulangan, menekan rindu, dan mengorbankan kehangatan rumah demi mimpi menjadi perempuan sukses dan mandiri.

Puncak kegelisahan itu terjadi pada malam pergantian tahun, ketika di tengah gemerlap pesta dan euforia kesuksesan, Rena justru menemukan kehampaan, lalu tersungkur dalam doa, menyadari betapa selama ini ia telah kehilangan arah dan makna hidup.

Keputusan besar pun ia ambil: meninggalkan pekerjaan yang selama ini membelenggunya dan kembali pada akar kehidupannya—keluarga, iman, dan panggilan jiwa. Pulang ke kampung, memeluk ibunya, serta menemukan kembali ketenangan batin menjadi titik balik yang mengubah hidupnya.

\Bertahun kemudian, Rena berdiri sebagai guru di ruang kelas kecil, mengajarkan anak-anak tentang mimpi dan harapan, bukan lagi mengejar gemerlap dunia, melainkan merajut masa depan dengan ketulusan dan keseimbangan. Mimpi yang pernah terbelah oleh ambisi kini ia jahit kembali dengan benang kesadaran, cinta, dan makna hidup yang lebih utuh.

Kebanggaan Sekolah

Kepala TK IT Handayani Menganti, Umul Farida, S.Pd., menyampaikan rasa bangga atas capaian tersebut.

Baca Juga:  Menyambut Tamu Agung dengan Cinta

“Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas prestasi yang diraih Ustazah Nadhira. Semoga beliau semakin meningkatkan kreativitasnya dalam menulis,” tuturnya.

Ia berharap Iir terus berkarya, bahkan mampu menerbitkan buku dan menjadi inspirasi bagi para pendidik lainnya, khususnya pendidik PAUD.

“Ustazah Nadhira adalah satu-satunya guru kami yang memiliki talenta menulis yang kuat. Karya-karyanya pun telah banyak dipublikasikan di media,” ungkapnya.

Umul Farida berharap kegemaran Iir dapat membuka cakrawala pendidikan PAUD sekaligus menumbuhkan budaya literasi di kalangan guru.

“Tahun ini kami menjalankan program peningkatan budaya literasi melalui kegiatan in house training (IHT) tentang public speaking dan menulis,” ujar ibu tiga anak tersebut.

Ia pun berharap jejak prestasi yang diukir Nadhira dapat menular kepada para pendidik lainnya di Indonesia. (#)

Jurnalis Sugiran Penyunting Mohammad Nurfatoni