Feature

Dari “Pupur, Dapur, Sumur” ke Ruang Karya, Smamdela Rayakan Kartini lewat Pasar PON

122
×

Dari “Pupur, Dapur, Sumur” ke Ruang Karya, Smamdela Rayakan Kartini lewat Pasar PON

Sebarkan artikel ini
Kepala Smamdela, Emi Faizatul Afifah, M.Si., menyampaikan sambutan pada pembukaan Smamdela Bizfest Hari Kartini 2026. (Tagar.co/Liset Ayuni)

Smamdel mengolah stigma lama perempuan menjadi ruang ekspresi melalui Pasar PON, menghadirkan kolaborasi kreativitas, kuliner, dan pembelajaran dalam semangat Hari Kartini.

Tagar.co – Aroma onde-onde hangat yang baru diangkat dari penggorengan perlahan menyebar di udara pagi. Di saat yang sama, suara tawar-menawar terdengar bersahut-sahutan dari deretan stan bernuansa Jawa yang berjajar rapi di lapangan.

Suasana itu bukan sekadar keramaian biasa, melainkan bagian dari peringatan Hari Kartini 2026 di SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela), yang tahun ini dikemas melalui Pasar PON (Pasar Original Nusantara).

Baca juga: Kartini Menulis, Kita Sibuk Merayakan Kebayanya

Melalui konsep tersebut, sekolah tidak hanya menghadirkan bazar kuliner, tetapi juga ruang pemaknaan ulang terhadap simbol perempuan yang selama ini kerap dipersempit dalam istilah “pupur, dapur, sumur”. Di tangan para siswa, ketiga istilah itu justru diolah menjadi medium ekspresi, kreativitas, dan pemberdayaan.

Makna “pupur”, misalnya, dihadirkan melalui lomba re-create Raden Ajeng Kartini dan tata rias. Kegiatan ini tidak berhenti pada aspek estetika, melainkan berkembang menjadi interpretasi siswa terhadap sosok Kartini dalam konteks masa kini. Sementara itu, “dapur” dan “sumur” diterjemahkan ke dalam bazar kuliner yang dikelola siswa kelas XI, dengan ragam hidangan khas dari berbagai daerah di Pulau Jawa.

Baca Juga:  48 Persen Siswa Smamdela Tembus SNBP 2026, Tren Baru Menguat

Kelas XI IPA 1 mengangkat kuliner Jawa Barat, XI IPA 2 menyajikan menu Jawa Tengah, sedangkan XI IPS menghadirkan cita rasa Jawa Timur. Untuk menikmati sajian tersebut, pengunjung menggunakan sistem kupon, yang secara tidak langsung menghadirkan pengalaman berburu jajanan tradisional—sebuah pengalaman yang kini semakin jarang ditemui.

Sejak pukul 07.30 WIB, Selasa (21/4/2026), lapangan sayap kiri Smamdela telah dipenuhi aktivitas. Para siswa tampak sibuk menata stan, menghias dekorasi, hingga menyiapkan makanan secara langsung di lokasi. Proses ini bahkan menjadi bagian dari penilaian, sehingga mendorongADIYA munculnya kreativitas yang spontan dan autentik.

Guru Bimbingan dan Konseling Smamdela, Noviya Wahyu, S.Pd., mengungkapkan kekagumannya terhadap antusiasme siswa. “Ada kelas yang membawa adonan dan langsung menggoreng di tempat, termasuk membuat onde-onde. Jadi benar-benar on the spot, dan itu yang membuatnya terasa berbeda,” ujarnya.

Siswa Smamdela memperlihatkan kupon bazar yang digunakan dalam kegiatan Pasar PON Hari Kartini 2026. (Tagar.co/Liset Ayuni)

Kemeriahan acara tidak berhenti pada bazar. Secara bertahap, panggung kegiatan diisi oleh penampilan siswa kelas X, mulai dari aksi menyanyi, atraksi seni bela diri api dari kelas X-A, tarian Bondan Kendi oleh Hillya dari X-B, hingga drama musikal kelas X-C. Rangkaian lomba puisi dan fashion show turut menambah dinamika acara hingga menjelang siang.

Baca Juga:  Kartini Menulis, Kita Sibuk Merayakan Kebayanya

Di balik suasana yang meriah, kegiatan ini juga dirancang sebagai bagian dari pembelajaran. Pasar PON menjadi ruang integrasi penilaian kokurikuler lintas mata pelajaran. Kelas X dinilai melalui Bahasa Indonesia, Seni Budaya, dan PKn, sedangkan kelas XI melalui Sosiologi, Ekonomi, dan Pendidikan Agama Islam.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Yuyun Minarti, S.E., menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya melatih keterampilan akademik, tetapi juga membangun kepekaan sosial.
“Anak-anak sangat kreatif dan tanggap dalam menyiapkan bazar. Kami juga mengarahkan agar laba dari kupon diinfaqkan kepada yang membutuhkan. Ini menjadi pembelajaran bahwa berbagi tidak harus menunggu kaya,” jelasnya.

Selain itu, penerapan sistem kupon dinilai membantu menciptakan transaksi yang lebih tertib sekaligus menjadi bagian dari simulasi kegiatan ekonomi. Siswa juga diarahkan untuk menyusun menu secara lengkap agar konsep bazar yang dihadirkan benar-benar utuh.

Kepala Smamdela, Emi Faizatul Afifah, M.Si., menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki pesan yang lebih luas dari sekadar perayaan tahunan.

“Selama ini stigma ‘dapur, pupur, sumur’ sering dilekatkan pada perempuan. Kami tidak menolaknya, tetapi mengolahnya menjadi ruang kreativitas. Dari sini siswa belajar bahwa peran tersebut bukan batas, melainkan potensi yang bisa dikembangkan. Kesetaraan adalah hak semua manusia dan harus terus disuarakan bersama,” tuturnya.

Baca Juga:  Surat yang Tak Pernah Usang: Kartini dan Pergulatan Perempuan Gen Z

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, pembelajaran hadir dalam bentuk yang lebih hidup. Interaksi, kreativitas, dan kolaborasi menjadi bagian tak terpisahkan dari proses belajar itu sendiri.

Di Smamdela, Kartini tidak hanya dikenang sebagai tokoh sejarah. Ia dihadirkan kembali—dalam gagasan, karya, dan keberanian para pelajar hari ini. (#)

Jurnalis Liset Ayuni Penyunting Mohammad Nurfatoni