
(Tagar.co/Dwi Ayu Kurniawati)
Peringatan Hari Kartini di Smamsatu Gresik tak berhenti pada simbol. Lewat aksi “Alur Kesadaran”, siswa mengubah seremoni menjadi pernyataan sikap kolektif untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan.
Tagar.co – Peringatan Hari Kartini di SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresik pada Selasa pagi (21/4/2026) berlangsung jauh dari sekadar seremoni tahunan. Di tengah balutan kebaya dan batik yang anggun, terselip pesan kuat: kesadaran kolektif untuk melawan ketidakadilan terhadap perempuan.
Mengusung tema “R.A. Kartini: Kesadaran, Sikap, dan Martabat Perempuan”, Smamsatu menghadirkan konsep peringatan yang lebih reflektif dan kontekstual. Bukan hanya mengenang Raden Ajeng Kartini sebagai simbol emansipasi, tetapi juga menghidupkan kembali semangat perjuangannya dalam realitas masa kini.
Baca juga: Surat yang Tak Pernah Usang: Kartini dan Pergulatan Perempuan Gen Z
Ketua konseptor acara, Dewi Musdalifah, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pawai simbolik. “Ini adalah perjalanan refleksi. Kami ingin perayaan ini menjadi pernyataan sikap kolektif bahwa perempuan berhak atas ruang yang aman dan bermartabat,” ujarnya.
Kegiatan dibuka dengan aksi teatrikal yang memantik perhatian. Sebuah banner besar bertuliskan, “Naungilah Ibu, Istri, Anak Perempuan, dan Saudara Perempuanmu. Ciptakan Ruang Aman buat Mereka!” diarak dari area parkir menuju lapangan utama sekolah.
Arak-arakan ini melibatkan berbagai elemen siswa, mulai dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Aremu, Tapak Suci, hingga Pasukan Pengibar Bendera (Pasbrama). Mereka mengawal pesan tersebut dengan penuh khidmat, seolah membawa mandat moral. Kepulan smoke bomb berwarna-warni turut menyelimuti prosesi, memperkuat simbol semangat dan keberanian generasi muda dalam menyuarakan hak perempuan.

Setibanya di lapangan, suasana berubah menjadi lebih kontemplatif. Dua siswi, Aufa Nur Adhia (XI Saintek 3) dan Naila Putri Pratama (XI Saintek 4), membawakan teatrikal puisi yang menggugah emosi.
Mereka menghadirkan kembali pemikiran Kartini dan Nyai Walidah secara bergantian, menegaskan bahwa perjuangan perempuan adalah estafet panjang yang belum selesai.
Ketajaman pesan semakin terasa saat siswa kelas Passion Public Speaking memaparkan sepuluh kasus nyata ketidakadilan yang masih dialami perempuan hingga hari ini.
Paparan tersebut diperkuat oleh Dini Eka Permatasari, S.E., guru Ekonomi, yang menekankan bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap sosial, melainkan individu dengan potensi besar dan peran strategis.
Puncak acara berlangsung penuh emosi. Seluruh warga sekolah berkumpul di lapangan saat pembentangan banner dilakukan secara simbolis oleh Akhmad Akmal Rifqi, S.Pd., bersama para siswa laki-laki. Momen ini menjadi penegasan bahwa perjuangan menjaga martabat perempuan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya perempuan semata.
Suasana haru semakin terasa ketika ratusan siswa saling bergandengan tangan, membentuk barisan simbolis sebagai “pelindung” martabat perempuan di lingkungan sekolah.
Kegiatan ditutup dengan nyanyian kolosal Sang Surya dan Ibu Kartini. Gema lagu-lagu tersebut menjadi ikrar bersama bahwa di Smamsatu Gresik, nilai-nilai penghormatan terhadap perempuan tidak berhenti pada seremoni, melainkan diwujudkan dalam sikap nyata sehari-hari.
Ketua Pimpinan Ranting IPM Smamsatu, Muhammad Zamir Labib Maulidy, menyebut kegiatan ini sebagai ruang refleksi bagi generasi Z. “Ini momentum untuk mengenang perjuangan Kartini sekaligus menumbuhkan semangat emansipasi dan kreativitas,” ujarnya.
Ia menambahkan IPM memperluas kampanye nilai Kartini ke ranah digital melalui lomba fotografi dan video pendek, agar pesan perjuangan dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan relevan. (#)
Jurnalis Dwi Ayu Kurniawati Penyunting Mohammad Nurfatoni












