
Di tengah perayaan simbolik setiap 21 April, warisan terbesar Raden Ajeng Kartini sebagai penulis dan pemikir justru sering terpinggirkan.
Oleh Yekti Pitoyo, pegiat literasi dan filantropi
Tagar.co – Setiap 21 April, kita kembali memperingati Hari Kartini. Pemandangan yang nyaris selalu berulang pun hadir: persewaan kebaya dipadati pengunjung, ibu-ibu dan pelajar tampil anggun dengan sanggul, kain, serta riasan tradisional.
Kini, kebaya bahkan berkembang dengan berbagai modifikasi, termasuk kebaya muslim berkerudung—sebuah penanda bahwa tradisi terus beradaptasi dengan nilai-nilai zaman. Tidak ada yang keliru dari semua itu; ia merupakan bentuk penghormatan simbolik.
Baca juga: Perempuan Super Itu Mitos: Kartini Tidak Pernah Mengajarkannya
Namun, pertanyaan yang layak diajukan: apakah sosok Kartini cukup direduksi menjadi simbol kebaya dan sanggul?
Nama Raden Ajeng Kartini semestinya tidak hanya menghadirkan visual, tetapi juga menggugah kesadaran. Ia bukan sekadar ikon emansipasi dalam pengertian sempit, melainkan seorang pemikir yang berani merekam kegelisahan zamannya.
Di tengah keterbatasan ruang gerak perempuan Jawa pada masa itu, Kartini memilih pena sebagai alat perjuangan.
Kartini menulis—dan justru itulah yang sering terlupakan.
Melalui surat-suratnya, ia mengungkapkan keresahan tentang pendidikan, ketidakadilan gender, hingga keterbelakangan masyarakat. Ia tidak berteriak di jalanan, tetapi pikirannya melampaui batas ruang dan waktu. Gagasannya hidup, bahkan jauh setelah ia tiada.
Tulisan-tulisannya kemudian dihimpun dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang—sebuah karya yang hingga kini tetap relevan dibaca.
Di titik inilah Kartini terasa begitu modern. Ia memahami bahwa gagasan yang ditulis memiliki daya hidup lebih panjang dibanding percakapan lisan. Tulisan melampaui generasi; ia tidak hanya berbicara kepada zamannya, tetapi juga kepada kita hari ini.
Pertanyaannya kemudian bergeser: apakah kita sudah mewarisi semangat itu?
Di era digital, ketika menulis menjadi sangat mudah—cukup melalui ponsel di genggaman—yang sering muncul justru keramaian tanpa makna. Kita menulis, tetapi belum tentu berpikir. Kita berbagi, tetapi belum tentu memberi dampak.
Kartini mengajarkan bahwa menulis bukan sekadar aktivitas, melainkan proses intelektual sekaligus keberanian moral.
Menariknya, Kartini juga tidak melepaskan dimensi spiritual dalam pencariannya. Ia mempelajari agama dengan kesungguhan. Dalam beberapa catatan, ia bahkan meminta agar ajaran agama dijelaskan dalam bahasa Jawa agar lebih mudah dipahami masyarakat.
Ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya haus akan ilmu pengetahuan Barat, tetapi juga ingin membumikan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
Kartini “mengaji” dalam makna yang luas: mencari pemahaman, bukan sekadar menerima. Ia ingin mengerti, bukan hanya mengikuti. Sikap ini terasa sangat relevan hari ini, ketika pembelajaran—termasuk dalam hal agama—sering kali berlangsung serba instan tanpa pendalaman.
Dari sini, Kartini tampak sebagai sosok yang utuh: perempuan, pemikir, sekaligus pembelajar. Ia tidak berhenti pada satu dimensi. Ia menulis, mengajar, dan terus mencari makna.
Refleksi Hari Kartini pun menjadi sederhana, tetapi mendalam: jika ingin meneladaninya, jangan berhenti pada kebaya. Mulailah dari cara berpikirnya. Dari keberaniannya menuangkan gagasan. Dari kesungguhannya dalam belajar.
Menulis adalah salah satu warisan paling konkret yang bisa kita lanjutkan.
Bukan menulis untuk sekadar ramai, melainkan untuk memberi arti. Bukan hanya mengisi ruang, tetapi juga membangun kesadaran.
Kartini telah memberi teladan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal yang sederhana: satu meja, satu lembar kertas, dan satu pikiran yang jernih.
Hari ini, “meja” itu bisa berupa layar ponsel kita.
Pertanyaannya tinggal satu: apakah kita akan menggunakannya seperti Kartini—atau membiarkannya berlalu begitu saja? (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












