
Lebih dari seabad berlalu sejak Raden Ajeng Kartini menulis kegelisahannya, tetapi gema pemikirannya masih terasa kuat dalam kehidupan perempuan Gen Z—di antara kebebasan digital, tekanan sosial baru, dan pencarian jati diri yang tak pernah sederhana.
Oleh Prof. Triyo Supriyatno; Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Tagar.co – Surat-surat Raden Ajeng Kartini bukan sekadar dokumen sejarah, melainkan percakapan lintas zaman yang terus hidup—terutama bagi perempuan Generasi Z hari ini.
Dalam himpunan pemikirannya yang dikenal luas melalui Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini berbicara dengan jujur tentang kegelisahan, harapan, dan pergulatannya menghadapi struktur sosial yang mengekang.
Baca juga: Perempuan Super Itu Mitos: Kartini Tidak Pernah Mengajarkannya
Menariknya, meskipun ditulis lebih dari seabad lalu, resonansi surat-surat itu justru terasa semakin dekat di tengah dinamika kehidupan perempuan Gen Z yang kompleks dan serba cepat.
Kartini menulis dari ruang keterbatasan—secara fisik, sosial, dan kultural. Ia hidup dalam sistem yang membatasi perempuan untuk mengakses pendidikan, menentukan pilihan hidup, bahkan sekadar menyuarakan pikiran.
Bagi perempuan Gen Z, yang hidup di era kebebasan relatif dan kemajuan teknologi, surat-surat Kartini dapat menjadi cermin sekaligus kompas.
Namun, justru dari keterbatasan itulah lahir keberanian intelektual yang luar biasa. Ia tidak hanya mengeluh, tetapi juga merenung, menganalisis, dan menawarkan visi masa depan. Di sinilah kekuatan utama surat-surat Kartini: bukan sekadar narasi penderitaan, melainkan refleksi kritis yang mengundang pembaca untuk berpikir.
Bagi perempuan Gen Z, yang hidup di era kebebasan relatif dan kemajuan teknologi, surat-surat Kartini dapat menjadi cermin sekaligus kompas. Cermin, karena di dalamnya kita melihat bagaimana akar persoalan ketidaksetaraan masih memiliki jejak hingga hari ini. Kompas, karena gagasan-gagasannya memberi arah tentang bagaimana menghadapi tantangan dengan kesadaran dan keberanian.
Salah satu tema utama dalam surat-surat Kartini adalah pendidikan sebagai jalan pembebasan. Ia meyakini bahwa perempuan harus memiliki akses yang sama terhadap ilmu pengetahuan. Dalam konteks Gen Z, akses pendidikan memang jauh lebih terbuka. Namun, tantangannya bergeser: bukan lagi sekadar akses, tetapi kualitas, relevansi, dan kemampuan untuk memanfaatkan pengetahuan secara kritis.
Banyak perempuan muda hari ini memiliki akses ke informasi tanpa batas, tetapi tidak semuanya memiliki kemampuan untuk memilah, memahami, dan menggunakannya secara bijak. Di sinilah semangat Kartini menjadi penting: pendidikan bukan hanya soal mengetahui, tetapi juga tentang membebaskan cara berpikir.
Keberanian yang dibutuhkan hari ini bukan hanya keberanian untuk berbicara, tetapi juga keberanian untuk tetap autentik di tengah tekanan digital.
Selain itu, Kartini juga menekankan pentingnya keberanian untuk bersuara. Dalam surat-suratnya, ia sering kali mengungkapkan kegelisahan terhadap tradisi yang tidak adil, meskipun ia tahu bahwa suaranya dapat dianggap melawan arus.
Bagi perempuan Gen Z, keberanian ini menemukan ruang baru melalui media sosial. Platform digital memungkinkan siapa pun untuk berbicara, berbagi pengalaman, dan mengadvokasi isu-isu penting. Namun, ruang ini juga penuh risiko: perundungan daring, misinformasi, hingga tekanan sosial untuk tampil “sempurna”.
Maka, keberanian yang dibutuhkan hari ini bukan hanya keberanian untuk berbicara, tetapi juga keberanian untuk tetap autentik di tengah tekanan digital.
Kartini juga mengajarkan pentingnya refleksi diri. Surat-suratnya tidak hanya berisi kritik terhadap masyarakat, tetapi juga pergulatan batin yang mendalam. Ia mempertanyakan posisinya, perannya, dan makna hidup yang ia jalani.
Perempuan Gen Z tidak cukup hanya mengagumi Kartini, tetapi perlu menafsirkan ulang pemikirannya sesuai dengan realitas kekinian.
Ini merupakan pelajaran penting bagi Gen Z yang sering hidup dalam ritme cepat dan budaya instan. Dalam dunia yang serba “scroll” dan “like”, refleksi menjadi sesuatu yang langka. Padahal, tanpa refleksi, kebebasan dapat kehilangan arah. Surat-surat Kartini mengingatkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran diri.
Namun, membaca Kartini hari ini juga menuntut sikap kritis. Tidak semua gagasannya dapat diterapkan secara langsung dalam konteks modern. Ada bagian-bagian yang lahir dari konteks kolonial dan budaya tertentu yang berbeda dengan kondisi sekarang.
Oleh karena itu, perempuan Gen Z tidak cukup hanya mengagumi Kartini, tetapi perlu menafsirkan ulang pemikirannya sesuai dengan realitas kekinian. Inilah yang disebut sebagai dialog lintas zaman: bukan sekadar menerima, tetapi juga mengolah dan mengembangkan.
Dalam konteks ini, penting untuk melihat bahwa perjuangan kesetaraan belum selesai. Meskipun perempuan hari ini memiliki lebih banyak peluang, berbagai bentuk ketidakadilan masih ada—baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Diskriminasi di tempat kerja, stereotip gender, hingga beban sosial yang tidak seimbang masih menjadi realitas.
Bahkan di dunia digital, algoritma dan budaya populer sering kali mereproduksi standar kecantikan dan kesuksesan yang sempit. Surat-surat Kartini mengingatkan bahwa kesetaraan bukanlah sesuatu yang diberikan, melainkan diperjuangkan secara terus-menerus.
Surat-surat Kartini adalah undangan untuk berpikir, merasakan, dan bertindak. Ia tidak memberikan jawaban yang final, tetapi membuka ruang dialog yang luas.
Lebih jauh, Kartini juga berbicara tentang kemanusiaan yang universal. Ia tidak hanya memperjuangkan perempuan, tetapi juga keadilan bagi semua. Hal ini relevan bagi Gen Z yang hidup di tengah isu-isu global seperti perubahan iklim, ketimpangan sosial, dan hak asasi manusia.
Perempuan Gen Z memiliki peran penting dalam gerakan-gerakan ini, membawa perspektif yang inklusif dan empatik. Dalam hal ini, semangat Kartini dapat diperluas: dari emansipasi perempuan menuju solidaritas kemanusiaan yang lebih luas.
Namun, ada satu hal yang sering terlupakan dalam membaca Kartini: kerentanannya. Ia bukan sosok yang selalu kuat dan pasti. Dalam banyak suratnya, ia menunjukkan kebingungan, ketakutan, dan keraguan. Justru di sinilah letak kekuatannya—ia jujur terhadap dirinya sendiri.
Bagi perempuan Gen Z, ini adalah pesan penting di tengah budaya yang sering menuntut kesempurnaan. Tidak apa-apa untuk merasa ragu, tidak yakin, atau bahkan gagal. Yang penting adalah bagaimana kita tetap bergerak dan belajar dari pengalaman tersebut.
Jika Kartini hidup hari ini, mungkin ia akan menulis di blog, membuat podcast, atau berbicara di forum global. Namun, esensi pesannya tidak akan berubah.
Pada akhirnya, surat-surat Kartini adalah undangan untuk berpikir, merasakan, dan bertindak. Ia tidak memberikan jawaban yang final, tetapi membuka ruang dialog yang luas. Bagi perempuan Gen Z, membaca Kartini berarti memasuki percakapan yang menantang sekaligus membebaskan: percakapan tentang siapa kita, apa yang kita perjuangkan, dan ke mana kita ingin menuju.
Jika Kartini hidup hari ini, mungkin ia akan menulis di blog, membuat podcast, atau berbicara di forum global. Namun, esensi pesannya tidak akan berubah: bahwa setiap perempuan memiliki hak untuk berpikir, bermimpi, dan menentukan hidupnya sendiri serta berkontribusi bagi sesama. Perjuangan untuk kesetaraan adalah perjalanan panjang yang membutuhkan keberanian, kesadaran, dan solidaritas.
Maka, membaca surat-surat Kartini hari ini bukanlah nostalgia, melainkan aksi intelektual—sebuah upaya untuk menghidupkan kembali semangatnya dalam konteks baru.
Bagi perempuan Gen Z, ini adalah kesempatan untuk melanjutkan percakapan itu dengan cara mereka sendiri, di dunia mereka sendiri, tetapi dengan semangat yang sama: menghadirkan terang di tengah gelap, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk sesama dan semesta. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni









