Feature

Petualangan Seru Siswa Mugeb di Hutan Mangrove

35
×

Petualangan Seru Siswa Mugeb di Hutan Mangrove

Sebarkan artikel ini
Siswa kelas V SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik mengeksplorasi Ekowisata Mangrove Wonorejo, belajar konservasi alam, hingga praktik menanam bibit bakau demi menjaga ekosistem pesisir Surabaya tetap lestari.
Alika/Malika Nahla Humaira, seorang siswi kelas V sedang praktik menanam bibit pohon bakau. (Tagar.co/Septemdira Intan Sari Suprobowati)

Siswa kelas V SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik mengeksplorasi Ekowisata Mangrove Wonorejo, belajar konservasi alam, hingga praktik menanam bibit bakau demi menjaga ekosistem pesisir Surabaya tetap lestari.

Tagar.co — Selasa pagi, 21 April 2026, suasana lapangan timur SD Muhammadiyah 1 GKB (Mugeb Primary School) Gresik lebih hidup. Jarum jam baru menunjuk pukul 06.00 WIB, namun keriuhan sudah pecah. Ratusan siswa kelas V berseragam olahraga memenuhi area tersebut. Hari itu bukan hari sekolah biasa; mereka bersiap menempuh perjalanan menuju Ekowisata Mangrove Wonorejo dan Museum Dr. Soetomo di Surabaya.

Sebelum roda bus berputar, Siti Latifah S.Pd., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, memberikan arahan penting. Dengan nada tenang namun tegas, perempuan yang akrab disapa Lathifah itu mengingatkan perihal keselamatan.

“Anak-anak, ekowisata mangrove adalah area yang baru bagi kita. Oleh karena itu, masing-masing dari kalian bertanggung jawab menjaga keselamatan diri. Mari kita patuhi segala tata tertib dan menjaga sikap selama di sana,” pesannya kepada para siswa.

Usai doa bersama untuk kelancaran perjalanan, tiga armada bus mulai bergerak membelah jalanan tepat pukul 06.30 WIB. Di dalam bus 3, keceriaan tidak surut. Para siswa saling bersenda gurau, meski beberapa di antaranya memilih memejamkan mata, mengumpulkan energi sebelum bertarung dengan terik matahari di area konservasi bakau.

Baca Juga:  Kartu Ajaib untuk Menembus Pemahaman Kata Konotasi

Baca Juga: Dari Jepara ke Mugeb: Api Kartini yang Tak Pernah Padam

Siswa kelas V putri di atas perahu kembali ke dermaga 1 selepas menanam bibit pohon bakau. (Tagar.co/Septemdira Intan Sari Suprobowati)

Menyisir Rimba Hijau Wonorejo

Setibanya di lokasi, petugas membagi siswa menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama langsung menaiki perahu mesin menuju area konservasi, sementara kelompok kedua menyusuri jogging track untuk mengenal vegetasi lebih dekat. Di atas jalanan kayu yang membelah rimbunnya bakau, para siswa menyimak setiap penjelasan dari Nurul, pemandu wisata setempat.

Medan yang unik membuat beberapa siswa ekstra waspada. Ghaitsa Zahra Adara, siswa kelas V Dewi Sartika, tampak melangkah dengan hati-hati sembari menggandeng tangan guru pendampingnya. “Aku takut terpeleset, Us,” akunya jujur.

Nurul kemudian menunjuk beberapa pohon di sisi jalur. “Pohon yang bentuknya seperti waru ini namanya pohon Silokarpus. Sedangkan yang menyerupai sawit itu namanya pohon Nipah,” jelasnya. Informasi tersebut langsung berpindah ke lembar kerja yang digenggam para siswa.

Kejutan muncul saat beberapa ekor kera bergelantungan di dahan pohon, hanya beberapa meter dari jalur setapak. “Us! Ada monyet! Kok tidak lewat lagi, ya?” seru mereka antusias.

Baca Juga:  Mengasuh di Era Digital: Dari Layar Sentuh hingga Pola Asuh Pembentuk Karakter

Nurul menjelaskan, hutan ini memang ekosistem alami bagi kera dan biawak air. “Selama kalian berada di jalur aman bersama pemandu dan tidak mendekati hewan tersebut, kalian akan tetap aman,” tambahnya menenangkan.

Siswa kelas V SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik mengeksplorasi Ekowisata Mangrove Wonorejo, belajar konservasi alam, hingga praktik menanam bibit bakau demi menjaga ekosistem pesisir Surabaya tetap lestari.
Siswa kelas V menyimak materi pengarahan sebelum praktik menanam bibit pohon bakau. (Tagar.co/Septemdira Intan Sari Suprobowati)

Menanam Harapan di Pesisir

Usai menyusuri daratan, giliran perahu mesin menjemput para siswa untuk mengarungi Sungai Wonorejo. Selama 15 menit, perahu melaju dengan kecepatan sedang karena kondisi air sungai yang tengah pasang. Salah satu siswa sempat bertanya mengapa perahu tidak melaju lebih kencang.

David, pemandu perahu, memberikan alasan logis. “Perahu kita melaju pelan agar ombaknya tidak membuat air sungai meluap ke area tambak ikan milik warga,” terangnya. Setibanya di dermaga kedua, David memaparkan peran krusial pohon bakau sebagai benteng alam.

“Saat laut pasang, gelombang bergerak maju, dan saat surut, gelombang turun. Jika ini terjadi terus-menerus, tanah dasar laut bisa terkikis. Pohon bakau inilah yang bertugas menjaga lapisan tanah tersebut,” ungkap David.

Puncak kegiatan hari itu adalah praktik menanam. Para siswa turun tangan langsung memasukkan bibit bakau dalam poly bag ke lubang tanam. Mereka menimbunnya dengan tanah dan mengikat batang bibit pada tiang bambu penyangga menggunakan tali rafia. Meski ada yang merasa geli atau takut kotor karena ini pengalaman pertama, semangat mereka tetap membara.

Baca Juga:  Capaian Gemilang Mugeb di Usia 31 Tahun Bukan Titik Akhir 

Petualangan sesi pertama berakhir dengan santap siang bersama di dermaga satu. Dengan lahap, mereka mengisi kembali energi yang terkuras sebelum melanjutkan perjalanan menuju destinasi edukasi berikutnya. (*)

Jurnalis Septemdira Intan Sari Suprobowati Penyunting Sayyidah Nuriyah