
Parenting Class Milad ke-31 SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik mengungkap keterkaitan erat pola asuh orang tua terhadap perkembangan psikologis dan sosial anak di era digital.
Tagar.co – Parenting Class Milad ke-31 SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb Primary School) menjadi ruang refleksi penting bagi para orang tua dalam memahami dampak pola asuh terhadap tumbuh kembang anak. Irma Gustiana Andriana S.Psi., M.Psi., Psikolog, di hadapan ratusan wali murid membahas gaya pengasuhan dalam sesi bertajuk Parenting Style and Their Impact on Children: Raise Kind and Brave Kids.
Kegiatan ini berlangsung di Ballroom Aston Gresik Hotel & Conference Center, Sabtu, 18 April 2026. Diselenggarakan oleh Ikatan Wali Murid (Ikwam) dalam rangka memperingati Milad ke-31 sekolah ramah anak tersebut.
Irma, yang akrab disapa Ayank, membuka materinya dengan menyoroti dinamika interaksi anak di era digital yang semakin kompleks. Ia mengingatkan, ruang komunikasi seperti grup WhatsApp kerap menjadi tempat munculnya respons emosional yang tidak terkontrol dengan dalih lelucon.
Padahal, dampak psikologis yang timbul dapat membekas dan memengaruhi perkembangan anak dalam jangka panjang. Menurut pendiri Klinik Ruang Tumbuh ini, kondisi tersebut sering kali berakar dari harga diri yang belum terbentuk secara sehat.

Bahaya Mengintai di Balik Layar Sentuh
Anak-anak yang lahir sebagai Generasi Alpha memiliki karakteristik hiperkonektivitas. Mereka memandang teknologi bukan sekadar alat, melainkan gaya hidup. Namun, kemajuan ini juga membawa risiko tersembunyi bagi perkembangan sosio-emosional mereka.
“Mereka sangat akrab dengan layar, namun berisiko berjarak dengan teman sebaya,” ujar Ayank.
Ketergantungan pada gawai dan video pendek membuat anak terbiasa dengan infinity scrolling serta mengambil keputusan secara instan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang. Interaksi tatap muka yang tergantikan oleh layar turut menurunkan kemampuan anak dalam membaca isyarat non-verbal. Dampaknya, anak cenderung menjadi antisosial, kehilangan empati, serta kesulitan meregulasi emosi.
Ayank juga mengingatkan, saingan terberat orang tua dalam mengasuh saat ini adalah Artificial Intelligence (AI). Ketika orang tua terlalu sibuk, anak cenderung mencari tempat bercerita pada teknologi. Jika kebutuhan kasih sayang tidak terpenuhi di rumah, anak akan mencari pengakuan di luar, yang sering kali bersifat provokatif. Anak yang kecanduan gim pun berisiko kehilangan empati karena terbiasa berinteraksi dengan sistem tanpa perasaan.
Baca Juga: Psikolog Irma Membongkar Mitos dan Fakta Pengasuhan Modern
Pola Asuh Otoriter Lumpuhkan Logika Anak
Perkembangan emosional dan sosial anak sangat dipengaruhi oleh pola asuh di rumah. Ayank membedah profil orang tua otoriter yang memiliki tuntutan tinggi namun minim responsivitas. Komunikasi satu arah serta aturan ketat tanpa kompromi justru dapat memicu depresi dini dan agresivitas pada anak.
“Saat orang tua membentak, otak anak tidak sedang belajar. Yang bekerja adalah rasa takut, bukan pemahaman,” ungkapnya.
Secara biologis, bentakan mengaktifkan amigdala di bagian belakang otak yang berfungsi mendeteksi ancaman. Saat amigdala aktif, prefrontal cortex—bagian otak yang mengelola logika—justru melemah. Anak kemudian masuk dalam mode bertahan hidup (survival mode): melawan, kabur, atau membeku.
Kondisi ini menjelaskan mengapa anak kerap kesulitan memahami pelajaran seperti matematika ketika proses belajar dipenuhi emosi negatif. Pengalaman buruk yang tersimpan di hipokampus membuat amigdala terus berada dalam kondisi siaga.
Selain pola otoriter, Ayank juga menyoroti pola asuh lain yang perlu diwaspadai, yakni permisif dan abai, serta memperkenalkan pola asuh ideal, yaitu otoritatif. Ayank lanjut membahas satu per satu ketiga pola asuh lainnya secara mendalam.
Ragam Pola Asuh dan Dampaknya
Ayank menjelaskan, pola asuh permisif (indulgent) ditandai dengan tuntutan yang minimum namun responsivitas yang maksimum. Dalam pola ini, orang tua cenderung memposisikan diri sebagai “teman sebaya”, sangat memanjakan anak, menghindari penolakan, serta tidak memiliki aturan dan disiplin yang konsisten. Dampaknya, anak cenderung tumbuh menjadi pribadi yang impulsif dan egosentris, memiliki kontrol diri yang rendah, mudah menyerah saat menghadapi tantangan, serta berpotensi mengalami obesitas atau kecanduan gawai.
Sementara itu, pada pola asuh abai (uninvolved), baik tuntutan maupun responsivitas sama-sama berada pada tingkat minimum. Orang tua mungkin hadir secara fisik, tetapi tidak hadir secara psikologis. Minimnya dukungan emosional dan batasan membuat anak harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan batinnya. Akibatnya, anak kesulitan membangun kedekatan emosional dengan orang lain, memiliki harga diri yang rendah, serta rentan terhadap perilaku menyimpang, adiksi, hingga risiko bunuh diri pada masa remaja.
Berbeda dengan keduanya, pola asuh otoritatif (democratic) justru menempatkan tuntutan dan responsivitas pada tingkat maksimum. Orang tua bersikap disiplin namun tetap rasional, menetapkan batas yang jelas, sekaligus memberi ruang diskusi dan mendengarkan aspirasi anak.
Pola ini menghasilkan anak dengan emosi yang lebih stabil, mandiri, bertanggung jawab, memiliki empati tinggi, keterampilan sosial yang baik, resiliensi kuat, serta performa akademik yang optimal. Kunci utama pola asuh otoritatif terletak pada keseimbangan antara kehangatan dan cinta dengan aturan serta ketegasan, di mana terdapat batas yang jelas, kedekatan emosional, ruang diskusi, serta proses koreksi tanpa merendahkan.
Kolaborasi Mewujudkan Generasi Berkarakter Baik
Parenting Class ini menjadi momentum bagi wali murid untuk merefleksikan gaya pengasuhan demi mencetak anak-anak yang baik hati dan berani. Kesuksesan acara ini juga didukung berbagai pihak yang peduli terhadap dunia pendidikan dan kesejahteraan anak.
Sejumlah perusahaan dan instansi turut berkontribusi, di antaranya Petrokimia Gresik, Sea Auto Care, PLN, serta Karya Adiputra Mandiri Contractor x General Supplier. Dukungan juga datang dari RS Petrokimia Gresik, K3PG, PLN Nusantara Power Muara Karang, Pertamina Patra Niaga, Dua Barlian Gold, dan Bank Syariah Indonesia KC Gresik Kartini.
Apresiasi juga diberikan kepada BLP Properti, Petrokimia Kayaku, RS Umum Denisa, PGN Saka, AOG Arma Overland Gear, Volaille Paperie, Legittes, PT Gemilang 3 Aksara, serta berbagai jenama lokal seperti Scudetto Sport, Geprek Mania, Bledos Steak, Sumber Ni’mat, Oman Durendol, Nitani Catering, Honda Mitra Gresik, Eva Frozen, Relin, PT Satria Niaga Utama, Bu Muzanah Store, Auto Rama, Mentari Book, Skinraf by dr. Maya Nurma, hingga Umidako Fancy Stationary.
Kolaborasi besar ini menjadi bukti, menjaga masa depan anak adalah tanggung jawab kolektif seluruh lapisan masyarakat. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












