
Kisah perjuangan Nabilah Ayu Azalia, siswi kelas IV Mugeb Primary School, menaklukkan lomba panahan nasional. Tentang latihan, kegagalan, doa ibu, dan keberanian berdiri tegak di jarak 20 meter.
Tagar.co — Anak panah itu melesat tenang di jarak 20 meter. Di antara deretan peserta yang lebih tinggi dan lebih besar, Nabilah Ayu Azalia berdiri paling kecil—namun tatapannya paling mantap, Ahad (15/2/2026).
Di ajang Lumajang Archery (11th Anniversary) yang digelar Fast Satria Pandhita Archery, pada nomor individu putri U13, Nabilah menerima kekalahan. Tapi di nomor beregu, langkah kecilnya justru menjadi bagian dari kemenangan. Bersama tim Petrokimia Gresik, Nabilah meraih juara 3 beregu jarak 20 meter, bersaing dengan enam daerah: Banyuwangi, Pasuruan, Trenggalek, Gresik, Lumajang, dan Lawang.
Meski bertajuk beregu, setiap atlet maju satu per satu. Mayyasa Humaira A.R, kakak kelas VI di Mugeb Primary School, membuka dengan skor 9. Nabilah menyusul, juga mencetak nilai 9. Penutup dari rekan yang bersekolah di SMP Negeri 1 Gresik memastikan angka 10. Akumulasi itu mengantar mereka naik podium, meraih juara 3.
Baca Juga: Jelajah Penuh Tantangan Warnai Malam Mugeb on Scout Camp 2026
Langkah Kecil di Arena Besar
Terlepas dari skor itu, Nabilah adalah peserta paling kecil di nomor tersebut. Rata-rata lawannya sudah duduk di kelas VI SD dan VII SMP. Namun usia tak pernah menjadi penghalang bagi keberanian murid kelas IV SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik itu.
“Alhamdulillah, Nabilah itu percaya dirinya tinggi sekali,” tutur Umi Kulsum, sang ibu, saat diwawancarai Senin (16/2/2026).
Sejak kelas II SD semester dua, Nabilah mulai mengenal panahan melalui ekstrakurikuler di sekolah. Lomba demi lomba ia jalani. Di Petrokimia, pada jarak 5 meter, ia menembus 7 besar. Di ajang Unesa, dua medali emas sekaligus ia bawa pulang. Sejak saat itu, klub Petrokimia meliriknya untuk berlatih lebih intensif.
Kini ia resmi menjadi atlet binaan. Latihannya terjadwal ketat: tiga kali sepekan—Selasa dan Kamis pukul 16.00–20.00 sepulang sekolah, serta Sabtu pukul 07.00–12.00. Jika menjelang lomba, latihan bisa setiap hari.
Namun jalan itu tidak selalu berbuah emas. “Tidak selalu juara juga kok, banyak gagalnya juga,” kata sang ibu jujur.

Empat Emas di Smamda Cup
Tanggal 28 Januari 2026 di Smamda Cup Surabaya, Nabilah juga tampil gemilang dengan tiga emas individu dan satu emas beregu. Siswi kelas IV Ant itu meraih juara 1 Divisi Nasional SD-B Putri, juara 1 Target 3 Divisi Nasional SD-B Putri, juara 1 Beregu Divisi Nasional SD-B Putri, dan juara 1 Eliminasi SD-B Putri.
Sementara rekan satu klubnya yang juga bersekolah di Mugeb Primary School, Mayyasa Humaira A.R. (kelas VI Drum), juga kompak memborong juara. Juara 2 Kualifikasi Divisi Nasional SD-B Putri, juara 1 Target 5 Divisi Nasional SD-B Putri, dan juara 1 Beregu Divisi Nasional SD-B Putri.
Pada kenyataannya, sebelum dan sesudah podium itu, ada hari-hari kalah, ada air mata yang diam-diam diseka. Nabilah menjadi anak yatim sejak usia tiga tahun. Ia bungsu dari tiga bersaudara. Almarhum ayahnya adalah ASN di Pemda Gresik.
Baca Juga: Dari Aula Telogo Sewu, IPM Kids Mugeb Primary School Memulai Petualangan

Motivasi dan Doa Ibu
Sejak kecil, hidup sudah mengenalkannya pada kehilangan. Mungkin karena itu, ia tak mudah runtuh. “Kalau kalah, saya kasih pengertian,” ujar Umi Kulsum lembut.
“Dalam kehidupan ini tidak hanya terang. Ada malam yang gelap, gembira dan sedih, sehat dan sakit. Ada saatnya kalah dan pasti suatu saat juga menang. Kalau kalah berarti harus lebih giat lagi latihannya. Dan jangan lupa selalu berdoa kepada Allah,” tuturnya.
Di setiap pertandingan, sang ibu selalu hadir mendampingi. Bukan sekadar menonton, tapi menjadi sumber semangat. “Saya sadar Nabilah sangat membutuhkan semangat dari saya,” tuturnya.
Di lapangan panahan itu, bukan hanya busur yang ditarik dan anak panah yang dilepaskan. Ada doa yang menguatkan dan keyakinan kecil yang tumbuh besar. Nabilah memang berdiri paling muda di antara lawan-lawannya. Namun dalam keberanian dan keteguhan, ia berdiri paling tegak. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












