
Pertemuan kedelapan mengaji isyarat di Doudo Panceng menyambut delapan belas anggota baru yang antusias mendalami Al-Qur’an, membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk mencintai kalam Allah.
Tagar.co — Sinar matahari pagi menyusup di antara celah jendela TK Aisyiyah 15 Doudo, Panceng, pada Ahad, 11 Januari 2026. Sejak pukul 08.00 WIB, suasana ruangan tersebut sudah riuh, namun bukan oleh suara percakapan biasa. Keheningan yang berpadu dengan gerak tangan yang lincah menandai mulainya pertemuan kedelapan pelatihan mengaji isyarat. Momentum awal tahun ini terasa istimewa karena kehadiran wajah-wajah baru yang mendominasi ruangan.
Dari total 28 peserta yang hadir, 18 di antaranya merupakan anggota baru yang mayoritas berdomisili di wilayah Gresik Utara. Mereka datang membawa semangat tinggi untuk menembus batas sunyi demi memahami kitab suci. Kehadiran para peserta baru ini memberikan energi segar bagi komunitas yang terus tumbuh ini.
Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Gresik, Innik Hikmatin, S.Pd., M.Pd.I., sebagai pendamping utama, sempat berbagi waktu karena harus mengisi acara Corps Mubaligat Aisyiyah (CMA). Meski baru bergabung di pertengahan acara, semangat bimbingannya tetap terasa kuat. Sebelum kehadirannya, para anggota lama mengambil peran sebagai mentor.
Aisyah Syerviyah, peraih juara lomba MTQ 2025, dengan telaten memberikan contoh gerakan isyarat jemari yang presisi. Di sampingnya, Titin Hariyanti sibuk menunjuk satu per satu huruf hijaiyah, memastikan representasi visualnya tepat.
Sementara itu, Moh. Faris W. dan Ahmad Ikhsan berkeliling di antara deretan kursi peserta baru. Keduanya dengan cekatan membenarkan posisi jemari tangan peserta yang masih tampak keliru saat mencoba membentuk simbol huruf.
Dalam kesempatan itu, perwakilan Majelis Kesejahteraan Sosial, Dewi Fatimah dan Fitriyah, membuka acara dengan sambutan hangat. Mereka menekankan pentingnya ruang inklusif bagi teman tuli.
Baca Juga: Mushaf Al-Qur’an Isyarat dari Indonesia Pertama di Dunia

Cinta Al-Qur’an Menembus Batas Sunyi
Sekretaris Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Panceng, Mutmainnah, yang menyaksikan langsung proses belajar tersebut, mengaku tak kuasa menahan rasa haru. “Melihat mereka teman tuli dalam belajar mengaji dengan bersemangat, saya merasa bahagia dan terinspirasi,” ujarnya dengan mata berbinar.
Ia mengutarakan kekagumannya terhadap para peserta yang tanpa rasa malu sedikit pun mendalami Al-Qur’an Isyarat. Semangat yang sama juga dirasakan oleh Mutmainnah, Ketua PCA Ujung Pangkah. Baginya, mendampingi mereka adalah perjalanan spiritual yang luar biasa.
“Membersamai anak-anak tuna rungu dan tuna wicara dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an dengan isyarat merupakan pengalaman yang sangat berharga dan penuh makna,” ujarnya.
“Saya belajar bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mencintai Al-Qur’an. Dengan kesabaran, ketekunan, dan ketulusan, mereka mampu memahami huruf demi huruf, ayat demi ayat, melalui Al-Qur’an bahasa isyarat yang indah dan bermakna,” imbuh Mutmainnah dengan penuh ketulusan.
Baca Juga: Air Mata Haru di Kelas Ngaji Al-Qur’an Isyarat, Cahaya bagi Teman Tuli dan Dengar
Pelajaran Berharga
Ia menambahkan, setiap senyum, fokus mata, dan gerakan tangan mereka adalah pelajaran berharga tentang empati dan rasa syukur. Kegiatan ini bukan sekadar mengeja huruf, melainkan tentang bagaimana manusia merespons anugerah Tuhan dalam kondisi apa pun. Suasana haru semakin memuncak ketika salah satu orang tua peserta yang mendampingi keponakannya memberikan testimoni.
“Akhirnya anak-anak teman tuli bisa menjalani kehidupan beragama seperti layaknya umat muslim lainnya, salah satunya bisa mengaji Al-Qur’an Isyarat,” ungkapnya penuh syukur.
Baginya, akses pendidikan agama yang setara adalah impian yang kini mulai menjadi kenyataan. Fokus para peserta terlihat begitu tajam saat materi diberikan. Mereka menyimak setiap instruksi dengan saksama, seolah tidak ingin melewatkan satu gerakan pun.
Ketika tiba saatnya praktik satu per satu di depan kelas, tidak ada satu pun peserta yang ragu. Mereka maju dengan percaya diri, menguji daya ingat dan pemahaman jemari mereka terhadap huruf-huruf langit. Keberanian ini menjadi bukti, keinginan belajar yang kuat mampu melunturkan rasa takut akan kesalahan.
Pelatihan ini menegaskan pesan kuat: tidak ada batasan bagi siapa pun untuk mencintai Kalam Allah. Segenap pengurus berharap kegiatan ini terus intensif dan menjangkau wilayah yang lebih luas agar semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap literasi Al-Qur’an bagi teman tuli. (#)
Jurnalis Niltis Sa’adah Muarrof Penyunting Sayyidah Nuriyah












