
Pimpinan Daerah Aisyiyah Gresik membekali calon pengantin dengan konsep keluarga sakinah sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah guna mewujudkan rumah tangga harmonis, penuh kasih sayang, dan bertakwa.
Tagar.co — Semangat meluap memenuhi ruang bimbingan perkawinan di Gedung Dakwah Muhammadiyah Kabupaten Gresik. Di hadapan puluhan pasang mata yang berbinar penuh harap, Dra. Hj. Faridah Muwafiq melangkah dengan tenang. Utusan Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur ini membawa misi penting: membedah rahasia membangun “surga kecil” melalui materi bertajuk “Konsep Keluarga Sakinah dalam Perspektif Al-Qur’an dan As-Sunnah”.
Faridah membuka sesi dengan penjelasan yang menyentuh akar kata. Ia menjelaskan bahwa keluarga merupakan satuan kekerabatan paling mendasar dalam struktur masyarakat. Secara etimologi, sakinah berasal dari bahasa Arab sakana yaskunu, yang bermakna tenang, tenteram, senang, diam, dan menempati rumah.
“Keluarga sakinah adalah bangunan keluarga yang pasangan bentuk berdasarkan perkawinan sah dan tercatat. Fondasinya adalah rasa saling menyayangi serta menghargai,” tegas Faridah. Ia menambahkan, setiap pasangan memikul tanggung jawab besar untuk menghadirkan suasana damai, baik di dunia maupun di akhirat.

Fondasi Tauhid dan Asas Kesetaraan
Membangun rumah tangga bukan sekadar urusan administrasi atau pesta pora. Faridah menekankan, pembentukan keluarga sakinah wajib berlandaskan tauhid. Kesadaran ini menuntut seluruh proses kehidupan keluarga berpusat hanya kepada Allah SWT.
“Manusia harus sadar bahwa semua yang mereka miliki berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya,” ujarnya di sela-sela pemaparan.
Dalam membangun bangunan kokoh tersebut, Faridah merinci lima asas utama. Pertama adalah karamah insaniyah, yakni memandang pasangan sebagai makhluk mulia di sisi Allah. Kedua, asas hubungan kesetaraan.
“Islam memandang semua manusia memiliki nilai yang sama. Tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi dalam konteks kemanusiaan,” jelasnya merujuk pada QS. Al-Hujurat ayat 13.
Asas ketiga adalah keadilan, di mana suami dan istri wajib menempatkan sesuatu pada tempatnya. Keempat, yakni mawaddah wa rahmah, menjadi perekat utama yang menyatukan kasih sayang lahir dan batin. Terakhir, keluarga harus memenuhi kebutuhan hidup sejahtera untuk menjamin perkembangan anggota keluarga secara optimal, mulai dari aspek spiritual hingga intelektual.
Baca Juga: Bimbingan Perkawinan PDA Gresik Bekali Peserta Wujudkan Keluarga Sakinah
Menuju Insan Bertakwa dan Berkemajuan
Faridah tidak hanya bicara soal teori, ia juga memetakan lima aspek praktis yang harus setiap pasangan penuhi. Kebutuhan tersebut meliputi aspek spiritual, pendidikan, ekonomi, hubungan sosial, hingga kesehatan dan pengelolaan lingkungan. Baginya, rumah yang bersih dan ekonomi yang stabil merupakan penunjang utama ketenangan batin.
Ia menegaskan, tujuan akhir dari keluarga sakinah adalah melahirkan insan bertakwa. “Keluarga yang baik akan melahirkan generasi muslim yang kaffah dan berakhlak mulia,” tuturnya mantap. Dengan karakter tersebut, anggota keluarga mampu berkontribusi nyata bagi masyarakat berkemajuan.
Menutup sesi yang penuh inspirasi itu, Faridah mengutip hadis Rasulullah SAW sebagai pengingat bagi para calon kepala rumah tangga: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku adalah orang yang paling baik bagi keluargaku.”
Ia juga mengingatkan, kesempurnaan iman seorang mukmin tecermin dari kebaikan akhlaknya, terutama cara ia memperlakukan istrinya. Pesan ini menjadi bekal berharga bagi para peserta untuk memulai perjalanan panjang menuju gerbang pernikahan yang berkah. (#)
Jurnalis Ain Nurwindasari Penyunting Sayyidah Nuriyah












