Feature

Limbah Kain Perca Berubah Jadi Buket Menarik

231
×

Limbah Kain Perca Berubah Jadi Buket Menarik

Sebarkan artikel ini
Limbah Kain Perca Berubah Jadi Buket Menarik
Dosen Umsida melatih warga Perumahan Mutiara Citra Apsari membuat buket dari kain perca. (Tagar.co/Tofan Tri Nugroho)

Tagar.co – Limbah kain perca dari usaha konveksi bisa diubah menjadi buket bunga yang laku dijual menjadi kegiatan pelatihan inovasi pengolahan limbah kain di Perumahan Mutiara Citra Apsari, Sidoarjo, Senin (13/4/2026)

Kegiatan berlangsung di unit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bidang vermak pakaian. Pelatihan ini bagian dari program pengabdian kepada masyarakat dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).

Tujuan pelatihan meningkatkan nilai tambah limbah tekstil dan memperkuat kapasitas pelaku UMKM dalam mengelola usaha secara modern dan berkelanjutan.

Ketua tim dosen Umsida, Tofan Tri Nugroho, dalam paparannya menjelaskan pemanfaatan limbah kain perca yang terbuang sebagai sampah ternyata bisa diolah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai jual.

“Melalui pendekatan ekonomi sirkular, kita tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga menciptakan peluang usaha baru. Kain perca bisa disulap menjadi berbagai produk menarik, salah satunya buket bunga yang saat ini memiliki pasar cukup luas,” ujarnya.

Peserta pelatihan praktik langsung teknik pembuatan buket bunga dari kain perca. Mulai dari pemilihan bahan, kombinasi warna, hingga teknik perakitan agar menghasilkan produk yang estetik dan layak jual.

Baca Juga:  Ada Perumpamaan Helikopter di Parenting SD Muhammadiyah 4 Zamzam

Antusiasme peserta mengikuti pelatihan yang menghasilkan produk tidak memerlukan modal besar, namun memiliki potensi keuntungan yang menjanjikan.

Tofan Tri Nugroho menyampaikan, pelatihan juga mengintegrasikan pemanfaatan teknologi digital memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk tampilan pemasaran produk.

”Pelaku UMKM diajari memanfaatkan AI untuk meningkatkan kualitas visual produk melalui pembuatan foto produk yang menarik, bahkan tanpa peralatan fotografi profesional,” tuturnya.

Peserta juga belajar membuat copywriting atau deskripsi produk yang efektif menggunakan bantuan AI.

”Dengan teknik ini, pelaku usaha diharapkan mampu menyusun kalimat promosi yang persuasif dan sesuai dengan tren pasar digital, sehingga dapat meningkatkan daya tarik produk di platform online,” ujarnya.

Teknologi AI ini sangat membantu, sambung dia, terutama bagi UMKM yang memiliki keterbatasan sumber daya. Dengan memanfaatkannya, mereka bisa bersaing di pasar digital dengan lebih percaya diri.

Anggota tim dosen lainnya, Ika Oktaviyanti, memberikan materi pengelolaan keuangan usaha. Ia mengajarkan dasar-dasar akuntansi UMKM yang sederhana namun aplikatif, seperti pencatatan pemasukan dan pengeluaran, perhitungan laba, serta pengelolaan arus kas.

Baca Juga:  Doorprize Tak Biasa di Halalbihalal Muhammadiyah Sidoarjo, Peserta Cek Kursi

Menurut Ika Oktaviyanti, pelaku UMKM memiliki produk potensial, namun kurang optimal dalam pengelolaan keuangan. “Dengan pencatatan yang baik, pelaku usaha dapat mengetahui kondisi keuangan usahanya secara jelas dan mengambil keputusan yang lebih tepat,” jelasnya.

Dosen Umsida bersama warga Perumahan Mutiara Citra Apsari menunjukkan produk buket dari kain perca. (Tagar.co/Tofan Tri Nugroho)

Wawasan Baru

Pemilik usaha vermak mengaku mendapatkan wawasan baru. Tidak hanya masalah produksi, tetapi juga pemasaran dan pengelolaan usaha.

Sebelumnya mereka tidak pernah terpikir untuk memanfaatkan kain perca sebagai produk bernilai jual tinggi. “Biasanya sisa kain hanya dibuang. Setelah ikut pelatihan ini, saya jadi tahu bahwa ternyata bisa dijadikan produk cantik dan bisa dijual,” ujarnya.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem ekonomi sirkular di tingkat lokal, khususnya di sektor UMKM. Dengan memanfaatkan limbah menjadi produk bernilai, serta didukung oleh teknologi dan pengelolaan usaha yang baik, pelaku UMKM diharapkan mampu meningkatkan daya saing sekaligus berkontribusi terhadap pengurangan limbah lingkungan.

Tofan Tri Nugroho menyatakan, ke depan, tim dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo berencana terus melakukan pendampingan agar peserta dapat mengembangkan usaha mereka secara berkelanjutan.

Baca Juga:  Fokus Gerakan LPCRPM Jatim

”Pendampingan tersebut meliputi peningkatan kualitas produk, strategi pemasaran digital, hingga penguatan manajemen usaha,” katanya. (#)

Jurnalis Tofan Tri Nugroho  Penyunting Sugeng Purwanto