
Din Syamsuddin kritik Board of Peace sebagai kamuflase, sebut lebih tepat Board of War di tengah konflik global.
Tagar.co – Ketua PP Muhammadiyah 2005-2015 Prof. Dr. Din Syamsuddin soroti kepentingan Indonesia dalam Board of Peace (BoP), yang tidak sejalan dengan misi perdamaian. Dia menganggap hal tersebut hanya kamuflase dan menyebutnya lebih tepat sebagai Board of War (BoW).
Hal tersebut disampaikannya dalam Halalbihalal Muhammadiyah Sidoarjo, yang bertempat di Auditorium KH Ahmad Dahlan Kampus I Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Ahad (5/4/2026) pagi.
Dalam tausiahnya, Prof. Din Syamsuddin menyinggung dinamika global yang menjadi perhatiannya. Ia mengaku mengamati pernyataan Presiden Amerika Serikat melalui berbagai media berbahasa Inggris.
“Saya terakhir ini menjadi pengamat Donald Trump, di televisi Bahasa Inggris saya amati, sebagian sudah ada di YouTube, di Facebook, ungkapan Presiden Amerika Serikat ini sudah ngaco,” ujarnya.
Ngaconya Donald Trump
Berita konflik perang Iran vs Amerika dan Israel itu kemudian diverifikasi kebenarannya kepada rekan di Amerika Serikat.
“Kemarin, Donald Trump bahkan berkoar akan dilakukan serangan terbesar atas Iran, sampai membuat Iran kembali ke zaman batu. Saya amati dan selalu saya verifikasi ke teman yang di Amerika Serikat, apakah benar pernyataan ini, jawabannya teman saya benar. Luar biasa ngaconya, menganggap bangsa lain untuk dikembalikan ke zaman batu,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia mengaitkan hal tersebut dengan pentingnya kualitas pendidikan pejabat di Iran. “Untung petinggi-petinggi Iran cerdas-cerdas ya, karena pejabat di Iran minimal S2, banyak yang S3, tidak ada yang tidak jelas SMA-nya, saya berharap Pak Rektor, hati-hati menandatangani ijazah mahasiswa dan sarjana, jangan sampai dipalsukan,” imbuhnya disertai senyum hadirin.
Din Syamsuddin menilai bahwa pernyataan Trump tersebut merupakan ekspresi emosional yang dipengaruhi kondisi tertentu. “Ini hanya gejala psikologis orang yang kalah, yang kehabisan akal, inilah ekspresi dari kebencian,” ujarnya.
Baca juga: Teknologi Rudal Balistik, Usulan Din Syamsuddin untuk Prodi Baru di Umsida
Faksi Zionis
Ia juga menjelaskan pandangannya tentang dinamika politik global, khususnya terkait zionisme. Menurutnya, tidak semua kelompok Yahudi dapat di-gebyah uyah atau digeneralisasi.
“Saya sudah lama mengkaji, memang zionis Israel banyak sekali faksinya. Saat ini faksi partai Likud yang berkuasa memiliki orientasi ideologis dan politis tertentu, termasuk gagasan tentang wilayah ‘Israel Raya’,” ungkapnya.
Faksi zionis yang berkuasa sekarang, lanjut dia, merupakan faksi yang sangat ideologis dan politis. “Mereka bercita-cita untuk mendirikan tanah impian Israel Raya, yang termuat dalam kitab suci mereka,” jelasnya.

Kamuflase BoP
Menurutnya, gagasan tersebut mencakup wilayah yang sangat luas. “Tanah impian itu terbentang luas ke barat sungai di Mesir, ada yang mengartikan Laut Merah, hingga sungai Tigris di Irak, termasuk di dalamnya ada kota Madinah,” katanya.
Ia menilai bahwa konflik yang terjadi tidak hanya terbatas pada Palestina. “Inilah yang mereka impikan, yang ingin mereka wujudkan, zionis Israel tidak sekedar Palestina. Tetapi sebagain jazirah Arabia, sampai Irak, sampai Mesir, sebagian Saudi Arabia,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia mengkritisi dinamika geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. “Terakhir serangan Israel dan Amerika Serikat tidak terlepas dari keyakinan Israel Raya tersebut,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan ketidaksetujuannya terhadap keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BoP). “Saya termasuk yang sangat tidak setuju, Indonesia bergabung pada Board of Peace (BoP), itu hanya kamuflase, mereka menyerang negara lain yang berdaulat. Maka itu bukan BoP, tetapi BoW, Board of War,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Din Syamsuddin juga menceritakan interaksinya dengan Duta Besar Iran serta tokoh-tokoh umat Islam. “Kemarin Duta besar Iran datang ke rumah, dan saya ajak beberapa tokoh ormas islam untuk bisa menerima. Sebelumnya ada diskusi di rumah kami, 20 tokoh umat islam menyepakati sebuah naskah, malam ini harus saya koreksi dan edit untuk disebarkan ke dunia Islam,” jelasnya.
Kecewa pada OKI
Prof. Din juga menyinggung respons lembaga internasional terhadap situasi yang terjadi. “Saya juga sangat kecewa kepada Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang mengecam Iran karena memborbardir beberapa negara arab, Saudi Arabia, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan sebagian Yordania,” ujarnya.
Namun, OKI tidak mempertanyakan sikap mereka terhadap keberadaan pangkalan militer asing di kawasan tersebut. “Tetapi tidak mengecam mengapa ada pangkalan Amerika Serikat di negara-negara tersebut,” imbuhnya.
Di akhir penyampaiannya, ia mengajak umat Islam untuk memperkuat persatuan.
“Kita hanya ingin pesankan, inilah saatnya dunia Islam harus bersatu, dunia Islam tidak boleh terpengaruh propaganda untuk mempertentangkan Sunni dan Syiah,” pungkasnya. (#)
Jurnalis Mahyuddin Syaifulloh. Penyunting Darul Setiawan.











