
Tagar.co – Penyakit campak di wilayah Jawa Timur menjadi bahasan pengajian di Masjid Al-Mahdi Muhammadiyah Perumtas 3 Blok E4/24 Grabagan, Tulangan, Sidoarjo, Sabtu (18/4/2026) bakda magrib.
Tema yang diulas Campak: Perspektif Medis dan Teologis. Menghadirkan narasumber dr. Tjatur Prijambodo, M.Kes., yang menjabat sebagai Kepala Unit Kedokteran Islam FK Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Dalam paparannya, dr. Tjatur Prijambodo mengungkapkan data yang cukup mengejutkan terkait persebaran virus morbili di Sidoarjo.
Menurutnya, berdasarkan data Dinas Kesehatan Sidoarjo, sepanjang tahun 2025 tercatat ada sekitar 280 kejadian penyakit campak di Sidoarjo. Namun angka ini mengalami lonjakan pada bulan April 2026 yang menyentuh 74 kasus dalam satu bulan saja.
“Artinya, ini berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB), sebagaimana yang telah terjadi di Madura, khususnya Sumenep. Penularannya sangat cepat melalui aerosol di udara yang mampu bertahan selama 2 jam. Secara empiris, satu orang penderita bisa menularkan kepada 9 hingga 18 orang lainnya,” jelas dr. Tjatur.
Dua Jalur Sehat
Sebagai penyakit yang bersifat self–limiting disease (dapat sembuh sendiri dengan imunitas yang kuat), dr. Tjatur menekankan dua jalur utama dalam menjaga daya tahan tubuh.
“Pertama dari tataran medis, yaitu mengatur pola istirahat yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi, olahraga teratur, serta melengkapi vaksinasi MMR sebagai sistem proteksi dini,” tuturnya.
Kedua, dari tataran teologis, yaitu meningkatkan imunitas melalui ketenangan batin dengan memperbanyak sedekah, istigfar, zikir, dan salat tahajud.
Dokter Tjatur juga menyoroti aspek sosial-keagamaan dalam beribadah saat sakit. Ia mengimbau bagi jemaah laki-laki yang merasa memiliki gejala campak untuk sementara waktu tidak ke masjid demi menjaga keselamatan orang lain.
“Keinginan ke masjid itu bagus dan wajib, tapi jangan sampai kita zalim karena menularkan penyakit kepada orang lain. Jika sangat mendesak harus ke masjid, wajib memakai masker dan sebaiknya meminta izin kepada jemaah sekitar agar proses penularan bisa dicegah,” katanya.
“Semoga kita selalu diberikan kesehatan yang optimal, dijauhkan dari penyakit apapun. Aamiin,” imbuhnya penuh harap.
Ketua Takmir Masjid Al-Mahdi Muhammadiyah Tulangan, Muh Khoirul Huda, menyambut baik edukasi ini sebagai langkah antisipatif bagi warga Perumtas 3 dan sekitarnya.
“Alhamdulillah, melalui penjelasan dr. Tjatur, jamaah mendapatkan gambaran jelas bagaimana mengantisipasi penyakit campak ini. Harapan kami, jamaah bisa menularkan ilmu ini kepada keluarga dan tetangga. Meski saat ini di lingkungan kita belum ada yang terpapar, kewaspadaan harus tetap dijaga agar semua tetap sehat,” ujar Khoirul Huda. (#)
Jurnalis M. Kholid Penyunting Sugeng Purwanto












