
Peringatan Hari Kartini di SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik berlangsung khidmat. Dr. Titik Ernawati mengajak siswa meneladani semangat perjuangan Kartini untuk berani bermimpi dan saling menghargai.
Tagar.co — Pagi itu, 21 April 2026, langit di halaman SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb Primary School) sangat cerah. Barisan siswa berdiri rapi. Baju kebaya ala Kartini mereka berpendar terkena cahaya matahari yang baru naik. Di tengah khidmatnya upacara, nama Raden Ajeng Kartini kembali menggema—bukan sekadar sebagai tokoh sejarah, tetapi sebagai nyala semangat yang terus hidup.
Di mimbar upacara, Kepala Dinas KBP3A Kabupaten Gresik dr. Titik Ernawati, M.H. membuka amanatnya dengan sebuah kisah sederhana, namun menggetarkan. “Pada tanggal 21 April 1879, di sebuah kota kecil di Provinsi Jawa Tengah, Jepara, lahir seorang anak perempuan cantik dan imut. Namanya Kartini,” ujarnya.
Kalimat itu mengalir lembut, membawa para siswa seakan melintasi waktu. Dari halaman sekolah di Gresik, imajinasi mereka dibawa terbang menuju Jepara abad ke-19—masa ketika perempuan belum bebas bermimpi.
Kala itu, kata dr. Titik, perempuan kerap mendapat pandangan lemah, terbatas pada urusan domestik: menyapu, mengepel, mencuci, dan melahirkan. Pendidikan bukan hak yang mudah terjangkau. Budaya patriarki mengakar kuat, membuat perempuan ragu bahkan untuk sekadar bercita-cita tinggi.
Baca Juga: Dua Kado Istimewa di Milad Ke-31 Mugeb Primary School
Sekolah Perempuan
Wanita berkebaya pink itu lanjut bercerita, Kartini anak yang patuh tetapi pikirannya melampaui zamannya. Ia membaca, menulis, dan berpikir. Dari keterbatasan, ia melahirkan gagasan. Dari sunyi, ia menyuarakan perubahan. Ia bahkan mendirikan sekolah perempuan—sebuah langkah kecil yang kelak mengguncang cara pandang masyarakat Indonesia.
“Perempuan boleh bermimpi setinggi-tingginya. Menjadi apa saja,” tegas Titik di hadapan para siswa.
Suasana hening. Pesan itu terasa dekat. Di hadapan mereka berdiri seorang dokter perempuan—bukti nyata bahwa mimpi Kartini tak berhenti di masa lalu.
Namun jalan Kartini tak panjang. Ia harus tunduk pada adat, menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, sebagai istri keempat. Pendidikan formalnya terhenti. Tetapi semangatnya tidak pernah padam.

Tulisan Kartini
Kartini terus menulis. Surat-suratnya, yang kelak dihimpun dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang, menjadi saksi pemikirannya yang melampaui zaman. Di dalamnya, ia bermimpi tentang perempuan yang berpendidikan, setara dengan laki-laki.
Takdir berkata lain. Kartini wafat di usia muda, 25 tahun, setelah melahirkan. Namun, seperti api yang dititipkan, perjuangannya diteruskan oleh banyak perempuan setelahnya.
“Perjuangan Kartini tidak sia-sia,” lanjut Titik. “Kini laki-laki dan perempuan bisa mengenyam pendidikan bersama, seperti kalian di Mugeb.”
Barisan siswa tetap tegap. Namun di dalam hati mereka, mungkin ada sesuatu yang berubah.
Amanat itu tak berhenti pada sejarah. Ia menjelma menjadi pesan hidup: menjadi pelajar yang berani, cerdas, dan berakhlak. Menghormati guru, saling menghargai, dan menjadikan sekolah sebagai ruang yang penuh kasih—tanpa ejekan, tanpa perundungan.
“Jadilah Kartini masa kini,” pesannya.
Di akhir amanat, harapan pun dipanjatkan—agar setiap mimpi yang tumbuh di hati para siswa mendapat ridha dan jalan dari Allah. Pagi itu, upacara bendera menjadi jembatan—antara masa lalu dan masa depan, antara Kartini dan generasi penerusnya. Dan di halaman sederhana itu, api Kartini kembali dinyalakan. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












