Feature

Saijan: Pendidikan Bukan Jalur Instan

118
×

Saijan: Pendidikan Bukan Jalur Instan

Sebarkan artikel ini
Saijan menekankan pentingnya proses panjang dan fondasi spiritual dalam pendidikan saat hadir di salah satu rangkaian Milad ke-31 Mugeb Primary School. Hal ini demi mencetak generasi masa depan yang tangguh dan bertakwa.
Saijan, nahkoda kedua Mugeb Primary School (MPS). (Tagar.co/Lailatul Mabadi Chaira)

Saijan menekankan pentingnya proses panjang dan fondasi spiritual dalam pendidikan saat hadir di salah satu rangkaian Milad Ke-31 Mugeb Primary School. Hal ini demi mencetak generasi masa depan yang tangguh dan bertakwa.

Tagar.co — Suasana hangat menyelimuti Mugeb Sport Center pada Ahad, 12 April 2026. Ratusan pasang mata tertuju pada sosok pria berbaju batik cokelat dan berkopiah hitam yang berdiri bersahaja di depan ratusan peserta. Dialah Saijan, nahkoda kedua Mugeb Primary School (MPS). Kehadirannya dalam Preaching and Talkshow Spesial Milad Ke-31 MPS ini bukan sekadar reuni, melainkan sebuah perjalanan kilas balik bagi lembaga yang kini genap berusia tiga dekade lebih satu tahun itu.

Kepala SD Muhammadiyah Warungboto yang sebelumnya juga pernah memimpin SD Muhammadiyah Sapen dan Nitikan Yogyakarta itu membuka pembicaraan dengan gaya santai. Candaan ringan yang dia lontarkan sesekali memecah keheningan, mencairkan suasana yang semula formal menjadi lebih akrab.

Namun, di balik tawa para hadirin, Saijan sedang menenun pesan mendalam tentang sebuah esensi perjalanan. Dia mengajak audiens menyelami makna Surat Al-Hasyr ayat 18, sebuah pengingat bagi setiap manusia untuk melakukan refleksi atas apa yang telah mereka perbuat di masa lalu demi hari esok.

Baca Juga:  Sambut Ramadan, Siswa Mugeb Pawai dengan Membentangkan Replika Al-Qur'an Raksasa

“Lihat apa yang sudah berlalu, jangan sampai kita melupakan apa yang telah dilakukan orang lain,” ungkap Saijan dengan nada tegas namun penuh wibawa.

Menurutnya, sebuah keberhasilan tidak pernah jatuh dari langit secara tiba-tiba. Keberhasilan merupakan buah dari proses panjang yang melibatkan keringat, air mata, dan kolaborasi banyak pihak. Dia ingin menegaskan bahwa posisi MPS saat ini adalah hasil estafet perjuangan yang tidak boleh terputus atau terlupakan oleh generasi sekarang.

Baca Juga: Penampilan Perdana Mugeb Teacher Band Mengguncang Panggung Milad

Air Mata untuk Para Perintis

Momen haru menyeruak ketika Saijan mulai mengenang para pendahulu di Muhammadiyah GKB Gresik. “Ada Pak Marindra, Pak Taufiq Hadi, Pak Isfa’ Ali. Mereka menjadi pondasi sehingga Muhammadiyah GKB sebesar ini. Itu tidak boleh kita lupakan,” tuturnya.

Saijan menggambarkan bagaimana para perintis tersebut meletakkan fondasi kuat di tengah keterbatasan. Dia menceritakan betapa besar jasa para tokoh yang telah mendedikasikan hidupnya agar MPS dapat berkembang pesat seperti sekarang. Mereka berupaya belajar dari sekolah-sekolah besar pada saat itu seperti Mudipat dan Sapen, bahkan mengirim beberapa guru untuk melakukan magang selama beberapa bulan di sekolah tersebut. Bagi Saijan, mereka bukan sekadar pendiri, melainkan arsitek peradaban pendidikan yang telah mewariskan nilai-nilai luhur.

Baca Juga:  Menutup Ramadan dengan Indah: Gaspol Ibadah

Keberhasilan yang telah diraih MPS saat ini justru mendatangkan kekhawatiran tersendiri bagi Saijan. Dia mengingatkan agar seluruh keluarga besar tidak terlena dengan zona nyaman. Ada ancaman nyata ketika sebuah lembaga mencapai puncak namun tidak memiliki visi keberlanjutan. Dia memacu semangat para guru dan pengelola sekolah untuk terus berinovasi tanpa henti agar grafik prestasi sekolah tetap berada di jalur pendakian.

“Jangan sampai sekolah ini sudah mencapai klimaks, lalu berubah menjadi antiklimaks. Kalau bisa kita harus terus menuju klimaks,” tegas kepala sekolah berprestasi itu.

Kalimat ini menjadi alarm bagi para hadirin bahwa tantangan pendidikan di masa depan jauh lebih kompleks. Kemudian Saijan mengutip Surat An-Nisa ayat 9 sebagai pengingat fundamental: jangan sampai meninggalkan generasi yang lemah di belakang. Dia menekankan bahwa menjawab kekhawatiran orang tua terhadap masa depan anak-anak adalah tugas suci sekolah.

Baca Juga: Dua Kado Istimewa di Milad Ke-31 Mugeb Primary School

Saijan menekankan pentingnya proses panjang dan fondasi spiritual dalam pendidikan saat hadir di salah satu rangkaian Milad Ke-31 Mugeb Primary School. Hal ini demi mencetak generasi masa depan yang tangguh dan bertakwa.
Saijan, nahkoda kedua Mugeb Primary School (MPS) bertausiah dengan penuh semangat dan memantik tawa. (Tagar.co/Isamasii Romadhona)

Fondasi Takwa Menembus Zaman

Menurut Saijan, pendidikan merupakan proses organik yang tidak bisa dipaksakan melalui jalur instan. Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, dia menawarkan tiga langkah kunci untuk membangun karakter anak didik. Pertama, pendidik harus meyakini bahwa setiap anak memiliki potensi unik yang berbeda satu sama lain. Tidak ada produk gagal dalam pendidikan jika pendidik mampu menemukan “kunci” yang tepat bagi setiap siswa.

Baca Juga:  Kado Ramadan Lazismu GKB Ruang Istikamah Berbagi

Kedua, Saijan mendorong penguatan spiritual melalui kebiasaan shalat. Dia ingin anak-anak tidak sekadar menjalankan kewajiban, tetapi benar-benar mencintai dan memakmurkan masjid.

Ketiga, dia menekankan pentingnya membangun karakter melalui kebiasaan berbagi. Baginya, ketakwaan adalah fondasi utama yang akan menjaga anak-anak tetap tegak berdiri meski zaman terus berubah dengan segala kecanggihan teknologinya.

Mengakhiri tausiahnya, Saijan memberikan pesan penutup yang sarat doa bagi sekolah yang pernah dia pimpin tersebut. Dia berharap MPS di usianya kini tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.

“Sukses selalu dan semoga semakin memberi keberkahan bagi umat,” ujarnya menutup tausiah dengan penuh harapan yang membuncah. (#)

Jurnalis Lailatul Mabadi Chaira Penyunting Sayyidah Nuriyah