
Konselor SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik, Dwi Apriliah Pratiwi, mengedukasi siswa kelas V tentang literasi digital guna mendorong penggunaan gawai yang bijak, sehat, dan penuh tanggung jawab.
Tagar.co — Suasana Aula lantai 2 SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb Primary School) tampak berbeda, Kamis siang, 2 April 2026. Ruangan luas berkarpet merah itu penuh ratusan siswa kelas V yang duduk berbaris rapi secara lesehan. Meski menjelang sore, mereka tetap semangat untuk mengikuti program “BK Goes to Class”. Di ruang itu, sudah hadir Dwi Apriliah Pratiwi, S.Psi. Perempuan yang akrab dikenal Tiwi itu menyapa para siswa dengan senyum hangat.
Ia hadir bukan untuk memberikan materi pelajaran umum, melainkan membawa misi penting edukasi literasi digital. Sebagai seorang guru Bimbingan Konseling, Tiwi memahami, tantangan terbesar anak-anak zaman sekarang ada dalam genggaman tangan mereka sendiri: gawai atau gadget.
“Anak-anak, gadget itu alat elektronik canggih yang sering kita gunakan sehari-hari, seperti HP, tablet, dan komputer. Dia bisa menjadi kawan, tapi bisa juga menjadi lawan jika kita tidak hati-hati,” ujar Tiwi membuka sesi dengan nada bicara yang bersahabat.
Kemudian Tiwi menjelaskan, gawai sebenarnya membawa segudang manfaat jika penggunanya cerdas. Melalui perangkat kecil itu, proses belajar menjadi jauh lebih mudah dan menyenangkan. Siswa dapat menonton video pembelajaran, mengerjakan latihan soal, hingga mencari informasi untuk tugas sekolah dalam hitungan detik.
Tak hanya soal nilai, gawai juga memangkas jarak. Layanan video call dengan kakek, nenek, atau teman yang pindah sekolah menjadi sarana melepas rindu yang sangat mudah.

Bahaya di Balik Layar Berkilau
Namun, di balik kemudahan itu, Tiwi memberikan peringatan keras mengenai risiko penggunaan gawai yang tidak bijak. Menurutnya, durasi yang terlalu lama di depan layar dapat mengganggu kesehatan mata, memicu kemalasan bergerak, hingga menyebabkan gangguan tidur. Para siswa yang duduk lesehan itu tampak menyimak dengan serius saat Tiwi membeberkan fakta tentang kesehatan fisik mereka.
“Tahukah anak-anak? Anak yang terlalu lama menggunakan gadget bisa merasa lelah dan kurang fokus saat belajar di sekolah!” tegas Tiwi di hadapan para siswa.
Paparan konten yang tidak sesuai usia juga menjadi ancaman yang nyata. Tiwi menekankan, tanpa pengawasan, anak-anak berisiko terjebak dalam informasi yang membahayakan mereka. Oleh karena itu, ia merumuskan sejumlah aturan sederhana agar penggunaan gawai tetap sehat. Aturan tersebut mencakup pembatasan durasi maksimal satu hingga dua jam sehari, memilih konten yang bermanfaat, serta menjauhkan gawai saat waktu makan dan tidur.
Selain durasi, Tiwi mengingatkan pentingnya mengistirahatkan mata setiap 30 menit. Langkah kecil ini sangat krusial untuk mencegah kelelahan visual yang sering dialami anak usia sekolah. Ia mendorong para siswa agar selalu meminta izin orang tua sebelum mulai berselancar di dunia maya.
“Gunakan bersama orang tua dan pilih gim atau aplikasi edukasi yang mendukung perkembangan otak kalian,” tambah ibu satu anak asal Lamongan itu.
Bijak Memilih antara Fokus dan Lelah
Sesi BK Goes to Class ini juga menyajikan perbandingan kontras antara pengguna gawai yang bijak dan tidak. Tiwi menggambarkan, pengguna yang bijak akan merasakan kelancaran dalam belajar, tubuh tetap sehat dan bugar, serta memiliki hati yang senang dengan pikiran yang fokus. Sebaliknya, mereka yang abai akan sering merasakan badan lelah, lemas, sulit berkonsentrasi, hingga mata perih dan kepala pusing.
Dalam kesempatan siang itu, Tiwi memberikan simulasi situasi sehari-hari untuk melatih kepekaan siswa. Jika mata mulai terasa perih, siswa harus segera meletakkan gawai dan mengistirahatkan tubuh. Hal yang paling ia tekankan adalah keberanian untuk melapor kepada orang dewasa jika menemukan hal mencurigakan di internet.
“Jika melihat konten yang tidak baik atau membuat tidak nyaman, segera tutup dan beri tahu orang tua atau guru. Jangan takut untuk bercerita!” pesannya dengan penuh penekanan.
Sebagai penutup, Tiwi mengajak seluruh siswa kelas V untuk berkomitmen menjadi pengguna gawai yang cerdas dan bertanggung jawab. Ia mengingatkan bahwa teknologi adalah alat bantu, bukan sesuatu yang boleh mengendalikan kehidupan manusia.
“Gadget itu teman, kalau kita pakai dengan bijak!” pungkas Tiwi menutup pertemuan di aula siang itu. Dengan pemahaman ini, harapannya siswa Mugeb Primary School mampu berdiri tegak sebagai tuan atas teknologi mereka sendiri. (#)
Jurnalis Yuanita Anggun Candra Yudha Penyunting Sayyidah Nuriyah












