Feature

Menutup Ramadan dengan Indah: Gaspol Ibadah

75
×

Menutup Ramadan dengan Indah: Gaspol Ibadah

Sebarkan artikel ini
Guru dan karyawan SD Muhammadiyah 1 GKB menggelar agenda Deep Talk with Ramadan untuk memotivasi peningkatan ibadah pada sepuluh malam terakhir demi meraih keberkahan Lailatulqadar.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik, M. Thoha Mahsun, S.Ag., M.Pd., M.HES. (Tagar.co/Lailatul Mabadi Chaira)

Guru dan karyawan SD Muhammadiyah 1 GKB menggelar agenda Deep Talk with Ramadan untuk memotivasi peningkatan ibadah pada sepuluh malam terakhir demi meraih keberkahan Lailatulqadar.

Tagar.co – Lebaran sudah di depan mata. Namun, sebelum keriuhan mudik dan aroma opor ayam merajai suasana, guru serta karyawan SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb Primary School) memilih untuk sejenak menepi.

Mereka tidak ingin Ramadan berlalu begitu saja tanpa kesan mendalam. Pada Senin dan Selasa, 17-18 Maret 2026, suasana Aula Averroes Mugeb tampak berbeda. Jika biasanya program rutin Deep Talk with Ramadan berlangsung santai di perpustakaan dengan narasumber internal, kali ini sekolah menghadirkan tokoh istimewa untuk membakar semangat beribadah para pendidik.

Pada Senin, hadir Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Gresik, Tajun Nashir, Lc., M.Pd. Sementara narasumber yang hadir pada Selasa ialah Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik, M. Thoha Mahsun, S.Ag., M.Pd., M.HES. Ia membawa misi penting melalui tema yang provokatif: “10 Malam Terakhir: Final Battle, Saatnya Gaspol Ibadah!”.

Kehadiran tokoh luar ini bukan tanpa alasan. Wakil Kepala Sekolah Bidang Pembiasaan dan Pembinaan Karakter, Nur Hamidah, S.Pd., menjelaskan, untuk menutup Ramadan dengan indah, seseorang membutuhkan seni.

Baca Juga:  Menghidupkan Lailatulqadar setiap Waktu

“Untuk mengenal dekat dengan Ramadan, kita butuh seni mencintai, dan seni itu butuh ilmu. Itulah mengapa kami menghadirkan tokoh-tokoh yang mencintai ilmu dan mampu memberikan pesan dengan bijak,” ungkap Nur Hamidah dengan antusias. Baginya, sepuluh hari terakhir adalah masa krusial bagi setiap muslim untuk membuktikan loyalitasnya kepada sang Pencipta sebelum bulan suci benar-benar pergi meninggalkan umatnya.

Ustaz Thoha mengisi kajian Deep Talk with Ramadan di Mugeb Primary School. (Tagar.co/Lailatul Mabadi Chaira)

Makna Filosofis Mengencangkan Ikat Sarung

Ustaz Thoha, sapaan akrabnya, membuka kajian dengan membedah teladan Rasulullah ﷺ. Merujuk pada hadis riwayat Muttafaqun ‘Alaih, Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan bagaimana Nabi Muhammad ﷺ menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, serta bersungguh-sungguh mengencangkan ikatan sarung saat memasuki sepuluh malam terakhir. Istilah “mengencangkan sarung” atau syadda mi’zarahu menjadi poin menarik yang Ustaz Thoha kupas secara mendalam.

Mengutip Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari, Ustaz Thoha menjelaskan dua makna di balik frasa tersebut. Pertama, secara kiasan berarti Rasulullah meninggalkan hubungan suami istri untuk fokus total beribadah. Kedua, ungkapan tersebut menggambarkan kesungguhan luar biasa, layaknya seseorang yang menyingsingkan lengan baju untuk menyelesaikan pekerjaan berat. Tidak ada waktu untuk bersantai atau sekadar berleha-leha menunggu waktu sahur tiba.

Baca Juga:  Di Balik Busur dan Doa Ibu: Keteguhan Nabilah Memanah di Arena 20 Meter

“Makna gaspol sesungguhnya adalah tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi kemalasan,” tegas Ustaz Thoha di hadapan puluhan guru.

Lantas ia menambahkan, menurut Imam Syafi’i, menghidupkan malam bukan sekadar terjaga atau tidak tidur, melainkan mengisi setiap detiknya dengan ketaatan. Mulai dari salat malam, tilawah Al-Qur’an, zikir, hingga doa-doa panjang yang membasahi lisan. Inilah bentuk perjuangan kolektif yang juga dicontohkan oleh Umar bin Khattab saat membangunkan keluarganya demi memburu Lailatulqadar.

Baca Juga: Ramadan, Saatnya Reset Hubungan dengan Al-Qur’an

Detoksifikasi Hati dan Pesan Penutup

Ibadah pada penghujung Ramadan bukan sekadar rutinitas fisik, melainkan sebuah proses penyucian jiwa. Ustaz Thoha mengingatkan pesan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin bahwa hati yang terlalu sibuk dengan urusan duniawi akan sulit menangkap sinyal keberkahan Lailatulqadar.

Oleh karena itu, strategi “gaspol” juga mencakup detoksifikasi hati dari berbagai penyakit batin. Instrumen utamanya adalah iktikaf di masjid. Namun, bagi mereka yang memiliki uzur, memperbanyak zikir dan qiyamul lail di rumah tetap menjadi jalan pintas menuju rida Allah.

Baca Juga:  Malam Ganjil

“Di penghujung Ramadan, hal yang kita butuhkan tidak sekadar pahala, melainkan maaf dari Allah SWT,” tutur Ustaz Thoha dengan nada rendah yang menyentuh hati para peserta.

Sesi ini pun berkembang menjadi diskusi hangat. Salah satu guru, Akhmad Mujahidul Authon, S.Pd., sempat menyampaikan keprihatinannya mengenai fenomena masyarakat yang mulai abai terhadap kesucian Ramadan, seperti maraknya warung makan yang buka secara terang-terangan di pagi hari.

Suasana haru dan serius itu tiba-tiba pecah menjadi tawa saat moderator, Agus Suprayitno, S.Pd menutup acara dengan mengajak “MOKEL”. Para peserta sempat terkejut, namun Agus segera meralat bahwa itu adalah sebuah akronim motivasi.

M (Mari mengaji), O (Obati hati dengan selawat), K (Kita bersedekah), E (Emosi dikontrol), dan L (Lebih baik kita salat). Tepuk tangan meriah pun mengakhiri pertemuan pagi itu, menyisakan semangat baru bagi para guru untuk “gaspol” di sisa Ramadan yang tinggal menghitung hari. (#)

Jurnalis Lailatul Mabadi Chaira Penyunting Sayyidah Nuriyah