
SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik membekali siswa melalui Leadership Adventure IPM Kids di Pandaan guna membentuk karakter pemimpin masa depan yang disiplin, berintegritas, tangguh, dan amanah.
Tagar.co — Udara sejuk Pandaan menyambut rombongan siswa SD Muhammadiyah 1 GKB (Mugeb) Gresik pada Senin, 2 Februari 2026. Di kawasan Tlogo Sewu, suasana tampak berbeda. Ratusan siswa yang tergabung dalam IPM Kids dan komunitas sekolah berkumpul untuk mengikuti Leadership Adventure bertajuk “Developing Young Leaders with Character, Resilience, and a Forward-Thinking Mindset”. Mereka tidak sekadar datang untuk bermain, melainkan untuk menempa mental menjadi pemimpin masa depan.
Ketua IPM Kids Mugeb Primary School, Ghaitsa Zahra Adara, membuka kegiatan dengan pidato yang menggugah teman-teman sebaya. Gadis kecil ini menekankan bahwa kepemimpinan bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang pelayanan.
“Hari ini kita mau belajar tentang leadership. Jadi pemimpin itu bukan soal nyuruh-nyuruh, tapi soal mau bertanggung jawab, jujur, dan mau membantu teman-teman. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa memberikan contoh yang baik,” ujar Ghaitsa dengan penuh percaya diri.
Ia juga mengajak rekan-rekannya untuk mulai belajar dari hal-hal paling sederhana di sekolah. Menurutnya, organisasi adalah wadah yang tepat untuk memupuk kebiasaan positif sejak dini. “Kita bisa mulai belajar kepemimpinan dari hal-hal kecil, seperti disiplin dan saling menghargai. Dari kebiasaan kecil itulah akan lahir pemimpin hebat di masa depan. Semoga lewat kegiatan ini kita semua semakin berani dan percaya diri menjadi IPM Kids yang keren dan berani baik,” tambahnya.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Mugeb Primary School, Rizka Navilah Safitri, S.Pd., memberikan apresiasi tinggi atas keterlibatan aktif pengurus IPM inti. Ia menjelaskan bahwa pihak sekolah bekerja sama dengan tim Power Inspiration Training Center (PITC) untuk mengemas materi kepemimpinan dalam bentuk petualangan luar ruang yang seru.

Integritas dan Cermin Nilai Muhammadiyah
Rizka mengingatkan para siswa bahwa label “pemimpin” membawa beban moral yang besar bernama integritas. Ia tidak ingin siswa merasa tinggi hati karena memiliki jabatan di organisasi sekolah. Baginya, IPM adalah laboratorium manusia untuk mengasah karakter sebelum terjun ke masyarakat yang lebih luas.
“Leadership bukan sekadar jadi pemimpin, lalu aku gaya. Tapi ini soal keteladanan dan integritas bagaimana kalian memberi contoh ke teman-teman di sekolah. Integritas sebagaimana dalam janji IPM; bersikap baik, disiplin, dan bertanggung jawab. IPM tempat belajarnya calon pemimpin masa depan,” tegas Rizka.
Sejalan dengan hal tersebut, Koordinator Bina Kader, Rahmat Arianto, S.Pd., memberikan landasan ideologis yang kuat kepada para peserta. Ia mengenalkan semboyan IPM yang diambil dari Al-Qur’an Surat Al-Qalam ayat 1: “Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” Rahmat juga mengupas tuntas makna logo IPM, struktur organisasi, hingga nilai-nilai dasar yang wajib dipegang oleh setiap kader.
Rahmat menekankan bahwa masyarakat menilai Muhammadiyah bukan dari dokumen formalnya, melainkan dari perilaku orang-orang di dalamnya. “Orang lain tidak membaca Muhammadiyah lewat AD/ART-nya, melainkan dari sikap dan perilaku warganya. Mereka membaca dirimu sekalian, maka jadilah cerminan Muhammadiyah yang baik,” pesannya serius. Menutup sesi materi dengan ceria, ia melontarkan pantun kilat, “Mas Aan jalan-jalan ke rumah Mbak Asih, cukup sekian dan terima kasih,” yang disambut tawa renyah para siswa.
Memasuki sesi motivasi yang lebih mendalam, Ahmad Mujahidul Authon, S.Pd.I., menggarisbawahi pentingnya amanah sebagai bentuk kesadaran tingkat tinggi. Ia menjelaskan bahwa setiap tindakan manusia memiliki konsekuensi yang tidak bisa dihindari. “Tanggung jawab itu ibarat segala sesuatu yang berbayar, tidak ada yang gratis. Ada hukum sebab akibat. Kalau puasa, lapar. Kalau tidak tidur, mengantuk,” jelasnya.

Menempa Karakter yang Tak Tergantikan AI
Authon menyoroti bahwa di era digital saat ini, kecerdasan buatan (AI) memang bisa membantu banyak hal, namun AI tidak akan pernah bisa membentuk karakter manusia. Karakter hanya bisa lahir dari proses panjang, interaksi sosial, dan keterlibatan langsung dalam organisasi. Ia meminta para siswa untuk tidak mengeluh saat menghadapi hambatan dalam berorganisasi.
“Kalau bertanggung jawab, baik bagaimana tangan bergerak, bibir berbicara, mata melihat, semua ada tanggung jawabnya. Amanah dan tanggung jawab melahirkan kedisiplinan. Kalian butuh terlibat di organisasi untuk mencapai itu,” tutur Authon. Ia juga menekankan pentingnya seni dalam menerapkan amar makruf (mengajak pada kebaikan) agar pesan tersebut dapat diterima dengan baik oleh teman-teman sebaya.
Menurutnya, kesulitan yang siswa rasakan saat ini adalah investasi masa depan. Jika mereka terbiasa berorganisasi sejak tingkat dasar, maka tantangan di tingkat mahasiswa atau dunia kerja akan terasa lebih ringan. “Orang hebat tidak lahir begitu saja. Mereka dulunya melewati proses yang sedikit banyak seperti yang kalian lalui. Tidak manfaat prestasi setinggi apa pun yang kalian miliki kalau belum bersikap baik,” lanjutnya.
Ia menutup pesannya dengan sebuah refleksi tentang kepekaan sosial, seperti peduli pada teman yang kesulitan atau sekadar memastikan ketertiban saat jam istirahat. “Maka kalian jangan manja dan banyak mengeluh kalau mengalami hambatan di proses ini, karena proses ini membentuk kamu jadi orang hebat. Kalian butuh program di IPM dan lingkungan untuk bertumbuh. Setelah ini, jangan hanya belajar saja. Eman jika tidak ada pengalaman pengembangan diri,” pungkasnya di aula Telogo Sewu.
Kegiatan kemudian berlanjut dengan berbagai simulasi outbound yang menguras fisik dan mengasah kerja sama tim. Melalui Leadership Adventure ini, Lazismu dan pihak sekolah berharap para siswa Mugeb Primary School pulang membawa mentalitas baru sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna amanah. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












