Feature

Tradisi Literasi Menggema, Peserta Kajian Ramadan PWM Jatim Terima Buku Sejarah

94
×

Tradisi Literasi Menggema, Peserta Kajian Ramadan PWM Jatim Terima Buku Sejarah

Sebarkan artikel ini
Para penulis, kader Muhammadiyah Jawa Timur, menunjukkan buku yang diluncurkan pada Kajian Ramadan PWM Jatim. (Tagar.co/Ifa Faridah)

Peluncuran 24 buku kader Muhammadiyah mewarnai Kajian Ramadan 1447 PWM Jawa Timur di Jember. Peserta kajian menerima salah satu buku sejarah gerakan tersebut.

Tagar.co — Udara pagi di Universitas Muhammadiyah Jember terasa hangat oleh semangat para kader. Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur (PWM Jatim) menggelar Kajian Ramadan 1447 H bertajuk “Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan” selama dua hari, Sabtu–Ahad (21–22/2/2026).

Sebelum satu pun materi dikupas, panitia menghadirkan kejutan intelektual. Mereka meluncurkan buku-buku karya para penulis inspiratif Muhammadiyah Jawa Timur yang menghadirkan gagasan, refleksi, dan kontribusi nyata bagi umat dan bangsa. Tradisi literasi ini bukan peristiwa insidental. PWM Jatim menjadikannya bagian dari denyut Kajian Ramadan setiap tahun.

Baca juga: Haedar Nashir: Ekoteologi, Membangun tanpa Merusak Bumi

Buku-buku yang diluncurkan mengangkat tema strategis: sejarah Muhammadiyah Jawa Timur, refleksi keberagamaan, dakwah kultural, pendidikan karakter, inovasi institusi, filantropi Islam dan SDGs, panduan intervensi psikososial, hingga dinamika spiritualitas dan politik. Karya-karya tersebut bukan sekadar tumpukan halaman. Para penulis menjadikannya ikhtiar intelektual dan dakwah pencerahan untuk menjawab tantangan zaman.

Panitia meluncurkan 24 buku karya kader Muhammadiyah Jawa Timur. Sebanyak 17 penulis maju ke panggung sambil mengangkat buku masing-masing. Tepuk tangan bergemuruh. Kamera ponsel terangkat. Aula berubah menjadi ruang apresiasi bagi kerja sunyi yang akhirnya menemukan panggungnya.

Peserta Dapat Buku

Di antara puluhan judul itu, satu buku mendapat perhatian khusus. Panitia membagikannya kepada seluruh peserta Kajian Ramadan. Judulnya terpampang tegas: Membangun Tradisi Baru: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 2000–2025.

Baca Juga:  Menapak Jejak Bahari di Gedung Heritage

Tim penulis menyusun buku tersebut sebagai dokumentasi sekaligus refleksi perjalanan organisasi. Haedar Nashir menulis prolognya. Biyanto menulis epilognya. Suara Muhammadiyah menerbitkan buku ini dengan ISBN 978-6347-2054-58-6.

Peluncuran ini bukan sekadar seremoni simbolik. Para peserta menyaksikan bahwa gerakan tidak hanya bertumbuh melalui amal usaha, tetapi juga melalui tradisi literasi yang kokoh. Muhammadiyah Jawa Timur tidak membiarkan jejak sejarahnya tercecer. Mereka merawatnya, menuliskannya, lalu membagikannya kepada generasi penerus.

Buku yang diterima peserta Kajian Ramadan PWM Jatim. (Tagar.co/Ifa Faridah)

Membaca Gerak, Menafsir Zaman

Pada bagian belakang buku, tim penulis menegaskan arah dan ruh penulisan. Mereka menyatakan, “Membangun Tradisi Baru: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 2000–2025 bukan sekadar catatan kronologis perjalanan organisasi, melainkan potret reflektif tentang bagaimana Muhammadiyah Jawa Timur menapaki zaman, merespons perubahan, dan membangun pembaruan secara berkelanjutan.”

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa buku ini tidak berhenti pada deretan tanggal dan peristiwa. Penulis merekam denyut gerakan Muhammadiyah dalam fase penting pasca-Reformasi—masa yang ditandai dinamika sosial-politik, disrupsi teknologi, serta tantangan kemanusiaan yang semakin kompleks.

Baca Juga: Sukadiono Kenalkan Ibadah Ekologi dari Meja Berbuka

Melalui pendekatan historis-analitis, penulis mengulas transformasi Muhammadiyah Jawa Timur dalam berbagai ranah: penguatan kelembagaan, dakwah berkemajuan, pendidikan, kesehatan, filantropi, ekonomi umat, seni budaya, hingga internasionalisasi gerakan. Setiap bab memperlihatkan bagaimana nilai tauhid, tajdid, keilmuan, dan keberpihakan pada kemaslahatan publik diterjemahkan secara kreatif dan kontekstual tanpa kehilangan jati diri Persyarikatan.

Baca Juga:  Pelatihan Pemulasaran Jenazah Prodi Keperawatan Unmuh Jember, Sinergi Syariat dan Keselamatan

Tim penulis juga menegaskan makna “tradisi baru”. Mereka menulis, “Istilah tradisi baru dalam buku ini bukanlah penolakan terhadap sejarah, melainkan proses continuity in change—pembaruan yang berakar kuat pada nilai dasar Muhammadiyah sekaligus terbuka terhadap tantangan zaman.” Kalimat tersebut menempatkan pembaruan sebagai kelanjutan.

Menjaga Nilai, Membangun Peradaban

Buku ini menggambarkan Muhammadiyah Jawa Timur sebagai gerakan yang menjaga kemurnian prinsip sekaligus berani melakukan inovasi dan transformasi sosial. Penulis menunjukkan bahwa perubahan bukan sekadar strategi organisasi, melainkan konsekuensi dari komitmen keagamaan.

Pada paragraf penutup sampul belakang, tim penulis menyampaikan ajakan yang tegas. Mereka menulis, “Buku ini penting dibaca oleh pimpinan Persyarikatan, kader, akademisi, peneliti, dan generasi muda Muhammadiyah yang ingin memahami arah gerakan, belajar dari pengalaman kolektif, serta meneguhkan peran Muhammadiyah sebagai kekuatan moral, intelektual, dan peradaban bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta.”

Ajakan tersebut terasa relevan dengan konteks Kajian Ramadan di Jember. Tema “Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan” berbicara tentang tanggung jawab merawat bumi. Buku ini mengingatkan tanggung jawab merawat gerakan. Keduanya bertemu pada satu kesadaran: amanah harus dijaga, baik terhadap alam maupun terhadap sejarah.

Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, Muhammadiyah Jawa Timur memilih tidak sekadar mengikuti arus. Melalui Membangun Tradisi Baru, mereka menengok sejarah dengan jernih, membaca realitas dengan kritis, lalu melangkah ke depan dengan keyakinan. Tradisi literasi itu menjadi fondasi peradaban—berakar pada nilai, sekaligus terbuka pada masa depan.

Baca Juga:  Menata Hati lewat Riyadus Salihin di Masjid Al-Ghifari Blitar

Daftar Buku yang Diluncurkan

  1. Membangun Tradisi Baru: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 2000–2025 (Tim Penulis)
  2. Values Based Finance (Nazaruddin Malik)
  3. Dari Atas Mimbar (A. Malik Fadjar)
  4. Perguruan Tinggi Islam: Tujuan, Inovasi, dan Model (A. Malik Fadjar)
  5. Pendidikan Transformatif: Catatan Reflektif dari Sisi Kemanusiaan (A. Malik Fadjar)
  6. Inovasi untuk Keberlanjutan Institusi (Hana Catur Wahyuni)
  7. Buku-Buku Bekas Abdul Mu’ti (Nurkhan)
  8. Dakwah Merakyat Lewat Parikan (H. Soedjono)
  9. Intellectual Capital dan Filantropi Islam (Sigit Hermawan dkk.)
  10. Intervensi Psikososial Korban Banjir Bandang (Eko Hardi Ansah dkk.)
  11. Mengapa Memilih Muhammadiyah (Mujiyono Namuria)
  12. Memahami Manhaj Muhammadiyah (Agus Tricahyo)
  13. Muhammadiyah Boarding School (Ibnu Habibi)
  14. Spiritualitas Agama di Tengah Kemunafikan Politik (Slamet Muliono Redjosari)
  15. Pendidikan Karakter Berbasis Kepanduan (Samsul Hidayat dkk.)
  16. Muslim Ideologis (Hoirul Warihin)
  17. Nasihat Bang Haji (Hoirul Warihin)
  18. Darurat Salafisme di Muhammadiyah (Solihul Huda)
  19. “Kiai” Pondok Domba (Abdul Khamil dkk.)
  20. Da’i Songo (Safrizal M. Arifin dkk.
  21. Math Goes Digital (Yuli Widdiyati)
  22. Lurah Antara Harapan dan Realita (Abdul Khamil)
  23. Pantun Pinuntun (Masro’in Assafani)
  24. Jejak Sejarah Hizbul Wathan Jawa Timur 2000–2025 (Fathurrahim Suhadi). (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni