
Siswa kelas VI SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik melepas penat dengan petualangan offroad jeep di Coban Talun, menciptakan momen inklusif yang tak terlupakan bagi semua.
Tagar.co — Deru mesin roda empat memecah kesunyian pagi di lereng Gunung Arjuno. Sebanyak 42 unit jeep terparkir rapi, membentuk barisan baja di Rest Area Coban Talun, Tulungrejo, Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur.
Pagi itu bukan pagi biasa bagi siswa kelas VI SD Muhammadiyah 1 GKB (Mugeb Primary School) Gresik, Kamis (9/4/2026). Mereka memakai seragam olahraga sekolah dan berbekal semangat petualang untuk mengarungi jalur offroad di kawasan wisata ikonik tersebut.
Wali Kelas VI Biola, Suci Damayanti, S.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan outbound ini merupakan strategi sekolah untuk menyegarkan pikiran siswa. “Kami memanfaatkan program ini sebagai sarana refreshing agar anak-anak tidak jenuh saat mempersiapkan ujian, termasuk ujian Tes Kompetensi Akademik (TKA),” ujar Suci di sela-sela kesibukan mengatur barisan siswa.
Namun, perjalanan kali ini membawa misi yang lebih dalam dari sekadar tamasya. Di antara keriuhan tawa siswa, ada perhatian khusus yang tertuju pada dua Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK) yang turut serta. Ialah Novando Yusuf Alvan dan Rafa Aditya.
Medan offroad yang terjal, licin, dan penuh guncangan menuntut strategi keamanan ekstra. Suci memutuskan untuk mendampingi Rafa sepanjang perjalanan. Sementara Novando bersama Guru Pembimbing Khususnya, Atika Suri Laraswati.

Strategi Keamanan di Jalur Ekstrem
Tanggung jawab besar berada di pundak para guru. Menjamin keselamatan setiap siswa, termasuk PDBK, di atas jeep terbuka bukanlah perkara mudah. Suci mengakui, ia sigap memantau posisi duduk dan kekuatan pegangan tangan siswanya.
“Sehari penuh kemarin saya mendampingi Rafa. Saya berada di dalam satu jeep yang sama dengannya,” tuturnya.
Awalnya, Suci mengatur posisi duduk Rafa di jok belakang dengan posisi bersama dua teman sekelasnya, Radit dan Denis. Rencana awal ini berlaku saat iring-iringan jeep bergerak dari rest area menuju pintu masuk Coban Talun.
Namun, seiring medan yang mulai berubah menjadi jalur tanah, kekhawatiran mulai muncul. Suci menyadari Rafa memerlukan pengawasan yang lebih intens, terutama dalam hal menjaga keseimbangan tubuh.
Sebelum memacu adrenalin di jalur hutan dan sungai, panitia mengajak para siswa melakukan senam bersama dan uji konsentrasi. Permainan instruksi terbalik hingga mencari pasangan sesuai jumlah angka menjadi pemanasan yang efektif untuk memompa fokus para siswa sebelum menghadapi guncangan mesin jeep.
Sensasi Basah di Jalur Lumpur
Setelah sesi permainan berakhir, tantangan sesungguhnya dimulai. Suci segera mengubah taktik posisi duduk untuk Rafa demi keamanan maksimal. Ia meminta Rafa pindah ke kursi depan, tepat di samping pengemudi.
“Saya meminta Rafa duduk di depan supaya lebih aman karena banyak guncangan, sedangkan pegangannya belum terlalu kuat,” jelasnya. Selama jalur hutan, Suci terus memberikan instruksi agar tangan Rafa tak lepas dari besi pengaman jeep.
Keseruan mencapai puncaknya saat jeep mulai memasuki sesi “basah-basahan”. Di akhir perjalanan yang melewati genangan air dan sungai, Suci memberikan pilihan kepada Rafa. Ia menawarkan siswanya itu untuk kembali ke kursi belakang agar bisa merasakan sensasi kecipratan air bersama teman-temannya. Tawaran itu disambut antusias.
“Alhamdulillah Rafa mau, tetapi saya tetap berada di belakangnya untuk memantau. Saya ingin dia merasakan keseruan yang sama dengan teman-temannya tanpa mengabaikan faktor keamanan,” tambah Suci.
Keputusan itu berbuah manis; gelak tawa pecah saat air sungai mulai membasahi pakaian mereka, menciptakan kenangan yang melekat erat bahkan setelah mereka kembali ke Gresik.
Baca Juga: Menyibak Kabut Merapi: Menilik Sejarah Kelam Bunker dan Menikmati Guyuran Adrenalin
Teriakan Bahagia dan Kenangan Indah
Keesokan harinya di sekolah, suasana kelas masih penuh energi dari Batu. Rafa Aditya, siswa kelas VI B, tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya saat bercerita. Dengan mata berbinar, ia mengingat detail kendaraan yang ia tumpangi.
“Aku berdiri di belakang. Mobilnya warna kuning, ada bunga warna merah muda,” kenang Rafa dengan polos.
Pengalaman diterjang air menjadi bagian favoritnya. “Kecipratan air tanah. Byur, kena muka! Rafa senang karena banyak teman-teman. Ustadzah Suci duduk di depan, lalu aku juga duduk di depan, Ustadzah Suci juga duduk di belakangku. Seru sekali!” kenangnya.
“Teman-temanku berteriak, Rafa juga ikut berteriak. Kami melewati hutan. Aku lebih suka duduk di belakang karena teman-temanku seru,” cerita Rafa panjang lebar.
Tak hanya Rafa, Novando juga membagikan potongan kebahagiaannya. Meski lebih singkat, kesan mendalam tetap tertinggal di benaknya.
“Aku duduk di depan dan naik mobil warna hitam. Setelah itu kami makan nasi ayam. Menurutku, lebih enak duduk di depan,” tukas Novando, siswa kelas VI Akordion.
Bagi para siswa Mugeb, perjalanan di Coban Talun ini lebih dari sekadar wisata; ini adalah pelajaran tentang keberanian, persahabatan, dan inklusivitas di tengah alam bebas. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












