
Perjalanan Jeep kader Nasyiatul Aisyiyah Gresik menyusuri lereng Merapi penuh warna. Mulai dari menyimak kisah kelam Bunker Kaliadem, mengejar sunrise yang tertutup kabut, dan berakhir basah kuyup oleh atraksi Jeep di sungai.
Tagar.co — Dingin masih menggigit ketika langit bakda Subuh ditelan kabut lereng tertinggi Merapi yang dihuni. Langit gelap perlahan bergradasi menjadi biru pekat. Menyisakan embun yang menempel di Jeep yang dinaiki para kader Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Gresik.
Usai menuntaskan sujud Subuh itu, mereka tak berlama-lama. Satu per satu bergegas menuju deretan Jeep yang sudah berjajar rapi di halaman basecamp. Ketika semua sudah naik, mesin-mesinnya terjaga seperti kuda perang yang siap berpacu, Sabtu (17/1/2026).
Empat kader menempati tiap Jeep. Satu duduk di samping sopir sementara ketiga lainnya duduk di bangku belakang. Pagi itu, mereka memilih paket sunrise—sebuah harapan sederhana: melihat matahari perlahan muncul dari balik megahnya Gunung Merapi.
Tepat pukul 05.00 WIB, deru mesin memecah keheningan. Roda mulai menggigit jalanan menanjak yang berkelok, membelah kabut tebal yang menggantung rendah. Penumpang kadang berdiri, agar angin pagi itu puas menyapu wajah mereka.
Sekitar 17 menit kemudian, rombongan tiba di Bunker Kaliadem. Namun, Merapi memilih bersembunyi. Awan pekat menutup gunung; matahari pun enggan menampakkan diri. Alih-alih kecewa, para kader justru larut dalam suasana syahdu: udara dingin, aroma tanah basah, dan panorama yang samar-samar memikat di balik kabut. Sesi foto bersama menjadi ritual untuk mengabadikan kebersamaan di tengah kabut.
Di atas struktur bebatuan kokoh—bunker yang berdiri sebagai saksi bisu kekuatan alam—suasana berubah khidmat. Tidak ada riuh berlebihan, hanya desau angin gunung dan suara berat seorang pria yang menjelaskan dengan tenang.
Jejak Kelam di Balik Bunker Kaliadem
Ialah Ginarto, pemandu sekaligus sopir Jeep hijau VW klasik berkemudi kiri. Dengan jaket loreng hijau muda dan topi hitam, ia berdiri sigap di hadapan seluruh Kader Nasyiah Gresik yang mengelilinginya. Bukan sekadar pemandu wisata, ia menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Dari mulutnya mengalir kisah tentang tanah yang pernah membara, tentang material vulkanik yang membentuk kehidupan di lereng ini, dan tentang napas Merapi yang tak pernah benar-benar jinak. Ia menjelaskan, “Bunker Kaliadem hanya berjarak 4,5 kilometer dari puncak Merapi—titik yang sangat dekat, sekaligus sangat rentan. Bunker ini dibangun pemerintah sebagai tempat perlindungan sementara,”
Tetapi, lanjutnya, sejarah mencatat tragedi kelam pada 2006. “Dua relawan meninggal di dalam bunker ini. Bunker bisa menahan panas, tapi tidak material letusan,” tutur Ginarto lirih.
“Tahun 2006 menjadi kali pertama sekaligus terakhir bunker itu berfungsi secara teknis. Pada erupsi 2010, material vulkanik kembali menimbun bunker karena pintunya terbuka—sisa-sisanya masih bisa kita saksikan hingga hari ini,” imbuhnya.
Para kader menyimak dalam diam, sesekali mengangguk, membayangkan sejarah yang terpendam di bawah pijakan mereka. Menara pandang di kejauhan seolah turut menyaksikan transformasi ruang ini: dari kepanikan bencana menuju edukasi dan refleksi.

Potret Ekonomi Wisata Merapi
Saat Jeep kembali melaju, Ginarto menunjuk sekelilingnya. “Ini dulunya dusun paling atas. Semuanya tertimbun lahar,” katanya mantap. Jalanan berlubang menjadi pengingat, alam di sini pernah murka.
Di sela cerita kepada keempat penumpang—Mamlu’atul Muarrof, Tsalis Aprilia, Anik Nur Asiyah, dan Sayyidah Nuriyah—Ginarto juga berbagi potret ekonomi wisata Merapi. Sekitar 30 basecamp dengan 1.500 unit Jeep beroperasi di kawasan ini, menjadi sumber hidup sekaligus penjaga cerita gunung.
Meski tahu potensi terdampak letusan akan tiba suatu hari nanti, Ginarto dan rekan-rekannya tetap memilih menjalankan roda ekonomi di sana. “Di sinilah tanah kelahiran saya,” ujarnya sambil menunjuk desa di sisi kiri bawah tebing yang terpisah aliran Kali Kuning.
Di tengah kelokan tajam, Jeep mereka berpapasan dengan mobil pribadi. Hal ini membuat Tsalis Aprilia, salah satu penumpang, bertanya-tanya. Ginarto pun menjelaskan, pengunjung sebenarnya boleh naik pakai mobil pribadi. Meskipun, pakai Jeep yang mesinnya sudah sesuai dengan medan jalan akan lebih aman.
Baca Juga: Lezat! Aneka Kuliner Berjalan Ala Nasyiah Gresik di Atas Bus

Basah Kuyup, Tertawa Lepas
Perjalanan naik Jeep di lereng Gunung Merapi belum selesai. Petualangan berubah ketika Ginarto mulai “bermain” dengan kemudi. Jeep meliuk, menerjang kubangan air, lalu melesat dengan kombinasi gas dan rem yang presisi. Dalam hitungan detik, cipratan air raksasa menghantam kabin Jeep—dan tawa pun pecah.
“Wah, percuma aku pakai jas hujan, tetap saja kena basah!” seru Tsalis Aprilia, setengah pasrah, setengah gembira. Saat itu ia sudah memasang strategi, berpindah posisi duduk di tengah.
Lebih ekstrem lagi bagi Sayyidah dan Anik yang duduk di kiri-kanan Tsalis—tanpa jas hujan, mereka basah kuyup dari kepala hingga kaki. Di kursi depan, Mamlu’atul Muarrof cukup aman meski karena berjas hujan. Ia hanya basah di bagian wajah dan kaki bawah yang tidak tertutup jas hujan.
Ternyata, semua itu atas “permintaan” Anik dan Sayyidah sejak awal: mereka ingin merasakan sensasi ekstrem bermandikan air sungai Merapi. Guyuran air dingin, dentuman mesin, dan gelak tawa menjadi penutup perjalanan yang tak terlupakan—bukan sekadar wisata, tetapi pengalaman yang menyatukan adrenalin, sejarah, dan persahabatan.
Pengalaman ini akhirnya membawa Maftuchatus Saidah, Wakil Ketua PDNA Gresik, melakukan refleksi mendalam. “Terkadang sejenak kita perlu melepas emosi. Jangan takut dengan tantangan karena hidup tanpa tantangan itu kurang menyenangkan. Sebab sejatinya kebahagiaan itu kita yang ciptakan sendiri,” ujar Iid, sapaan akrabnya.
Pagi itu, Merapi akhirnya menampakkan puncaknya ketika rombongan bersama Nawasena Wisata melakukan trekking singkat ke Bukit Triangulasi. Namun, ia memberi pelajaran lebih dalam: tentang kekuatan alam, ketangguhan manusia, dan keberanian untuk melangkah—bahkan saat basah kuyup sekalipun. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












