
Adi Setyawan, lulusan terbaik UMG dengan IPK 3,97, sukses mengubah limbah kepuh menjadi BioBrix. Inovasi energi alternatif ini mengantarkannya meraih berbagai prestasi nasional dan regional.
Tagar.co — Ruang aula Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) riuh oleh tepuk tangan, Kamis, 13 Februari 2026. Di tengah deretan peserta Yudisium ke-48, seorang pemuda bernama Adi Setyawan melangkah dengan mantap. Mahasiswa Program Studi Agribisnis ini bukan sekadar lulus; ia menyandang gelar lulusan terbaik Fakultas Pertanian dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna, yakni 3,97.
Namun, bukan angka di atas kertas yang membuat namanya mentereng. Adi adalah sosok di balik “BioBrix”, sebuah briket biomasa yang lahir dari keprihatinannya terhadap limbah kepuh yang berserakan di tanah kelahirannya, Gresik. Melalui riset berjudul “Prospektif Pengembangan Usaha BioBrix dalam Meningkatkan Nilai Ekonomi Limbah Kepuh dengan Dukungan Teknologi Jamur di Kabupaten Gresik”, Adi membuktikan, agribisnis ialah jembatan menuju solusi energi masa depan.
Dekan Fakultas Pertanian, Dr. Farikhah, S.Pi., M.Si., memandang pencapaian Adi sebagai manifestasi ideal seorang mahasiswa. Ia menegaskan bahwa gelar sarjana bukan sekadar pajangan dinding.
“Yudisium adalah puncak proses panjang yang telah kalian lalui. Namun, setelah Surat Keterangan Lulus (SKL) kalian terima, tanggung jawab baru justru dimulai. Lulusan harus mandiri dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar Farikhah dengan nada bangga.
Baginya, menyandang gelar Sarjana Pertanian berarti memikul status sebagai ahli yang harus memberikan kontribusi nyata bagi bumi dan manusia.
Tembus Panggung Nasional lewat Inovasi
Perjalanan Adi meramu limbah menjadi rupiah tidaklah instan. Selama 3,5 tahun masa studinya, ia aktif “menjemput bola” dalam berbagai kompetisi bergengsi. BioBrix membawanya menembus Top 10 ajang Pertamuda Seed and Scale 2025 untuk kategori Energy Founder. Tidak berhenti di sana, ia juga menyabet Juara III Gresik Innovation Competition 2025 serta predikat Kelompok Terbaik kategori Sociopreneur dalam program PF Muda 2024.
Bagi Adi, pertanian adalah napas inovasi yang tidak boleh berhenti di lahan sawah. Ia mengintegrasikan teknologi jamur untuk memperkuat kualitas briket biomasanya. Inovasi ini menawarkan alternatif energi yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis bagi masyarakat lokal.
“Pertanian bukan hanya soal produksi, tetapi juga inovasi dan keberlanjutan. Ilmu harus menjadi solusi nyata,” tegas pemuda yang juga atlet hoki berprestasi ini.
Keberhasilan Adi merupakan buah dari ekosistem pendampingan yang kuat di UMG. Dua sosok mentor hebat berdiri di belakangnya. R. Achmad Djazuli, S.P., M.MA., dosen senior Agribisnis, mengasah ketajaman akademik Adi sejak ia masih berstatus mahasiswa baru.
Sementara itu, Afakhrul Masub Bakhtiar, S.Pd., M.Pd., Kepala Biro Pengembangan Prestasi Mahasiswa UMG, berperan menyusun strategi kompetisi, mulai dari bedah proposal hingga penguatan mental untuk bertarung di level nasional.
Baca Juga: Teknik Industri UMG Dorong Keberlanjutan Sarung Tenun lewat Rekayasa Cerdas
Bukti Keterbatasan Bukanlah Penghalang Besar
Kisah Adi semakin inspiratif karena statusnya sebagai penerima Beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP). Ia mematahkan stigma, keterbatasan ekonomi merupakan tembok penghalang untuk menggapai mimpi. Ketekunannya membuktikan, akses pendidikan yang tepat, jika berpadu dengan kerja keras, akan melahirkan karya yang berdampak luas.
Ketua Program Studi Agribisnis, Resya Nurdyawati, S.P., M.P., memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi Adi. Menurutnya, Adi telah menunjukkan cara mengintegrasikan ilmu, kreativitas, dan jiwa kewirausahaan.
“Kami mendorong mahasiswa untuk membaca peluang berbasis potensi lokal dan berani tampil di kompetisi nasional. Kami bangga karena Adi membuktikan bahwa inovasi mahasiswa bisa berdampak dan berdaya saing,” ungkap Resya.
Kini, Adi telah resmi menanggalkan status mahasiswanya, namun ia tidak akan meninggalkan BioBrix. Ia berkomitmen untuk membawa riset kampusnya ke dunia profesional sebagai unit usaha yang berkelanjutan. Di tangan pemuda seperti Adi, limbah bukan lagi akhir dari sebuah siklus, melainkan awal dari kemandirian energi yang lebih hijau bagi Indonesia. (#)
Jurnalis Eka Dewi Satriana Penyunting Sayyidah Nuriyah












