Utama

Abdul Mu’ti Serukan Lompatan Kualitas Pendidikan Muhammadiyah

105
×

Abdul Mu’ti Serukan Lompatan Kualitas Pendidikan Muhammadiyah

Sebarkan artikel ini
Medikdasmen Abdul Mu’ti di Rakornas Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang digelar di Hotel Four Points, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (14/2/26) (Tagar.co/Azaki Khoirudin)

Dalam Rakornas Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah di Makassar, Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya kerja nyata, penguatan kualitas sekolah, dan budaya kolaborasi agar pendidikan Muhammadiyah tidak hanya besar secara jumlah, tetapi juga unggul dalam mutu.

‘Tagar.co — Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang digelar di Hotel Four Points, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (14/2/26), menegaskan pentingnya kerja nyata dalam penguatan pendidikan Muhammadiyah.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti, dalam arahannya mengingatkan agar forum nasional tersebut tidak berhenti pada semangat seremoni semata.

Baca juga: Haedar Nashir: Penguasaan Iptek Harus Dituntun Akhlak

Ia menegaskan bahwa rakornas jangan hanya diisi antusiasme kegiatan atau foto-foto yang langsung dibagikan setelah acara. “Jangan sampai rakornas ini dijadikan acara seremoni tanpa ada kerja nyata dan tidak ada laporan yang dikerjakan,” ujar Abdul Mu’ti.

Menurutnya, rakornas harus menjadi ruang saling mengisi dan saling menginspirasi antarsatuan pendidikan. Acara seremonial tetap penting sebagai pengikat kebersamaan, tetapi tidak boleh terlalu sering sehingga menggeser fokus utama pada substansi dan tindak lanjut program.

Modal Sosial Besar, Tantangan Kualitas

Dalam kesempatan itu, Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa capaian pendidikan Muhammadiyah di tingkat lokal, nasional, maupun internasional merupakan modal sosial dan moral untuk menjadi lebih baik. Namun, capaian tersebut harus diikuti upaya menyempurnakan langkah dan gerak Muhammadiyah ke depan.

Ia menyoroti bahwa sekolah dan madrasah Muhammadiyah merupakan jaringan pendidikan terbesar dibanding organisasi lain. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kekuatan jumlah belum sepenuhnya diikuti kualitas.

We are the largest but not yet the face,” katanya, menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi lebih bersifat kualitatif.

Karakter pendidikan, lanjutnya, tidak hanya sebatas capaian akademik, tetapi bagaimana melahirkan kader perserikatan yang memiliki potensi beragam, berakhlakul karimah, serta bertanggung jawab secara sosial.

Keunggulan Sekolah Tidak Harus Seragam

Abdul Mu’ti menekankan bahwa sekolah Muhammadiyah tidak harus memiliki keunggulan yang sama. Yang penting adalah menjaga nilai dasar pendidikan Islam berkemajuan, sementara tiap sekolah dapat mengembangkan keunikan sesuai potensinya.

Baca Juga:  Olympicad VIII kian Dekat, Panitia Finalisasi Persiapan Pembukaan

Dalam mendirikan satuan pendidikan, ia mengingatkan agar tidak menggunakan pendekatan emosional. Harus ada strategi planning yang matang, pemetaan kebutuhan, serta identifikasi ruang kosong yang dapat diisi.

Tidak semua sekolah dapat unggul dalam semua bidang. Karena itu, menurutnya, perlu ada kebijakan branding, misalnya sekolah tertentu dipersiapkan sebagai unggulan akademik atau olimpiade sains, sementara sekolah lain diarahkan pada bidang olahraga atau kekhasan tertentu.

Matematika dan Integrasi Ilmu

Salah satu penekanan dalam rakornas ini adalah pentingnya integrasi ilmu agama dan ilmu pengetahuan. Abdul Mu’ti mencontohkan matematika sebagai ilmu yang memiliki keterkaitan erat dengan praktik ibadah.

“Ilmu yang dipakai sampai akhirat itu matematika. Di yaumul hisab itu matematika, ketika amal kita ditimbang itu matematika lagi,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa ketika berbicara soal kiblat melalui ilmu falak, pada dasarnya juga berbicara tentang matematika. Karena itu, matematika memiliki kaitan yang sangat kuat dengan kesempurnaan salat. Dari sini muncul pemahaman bahwa Al-Qur’an, ibadah, dan matematika tidak bisa dipisahkan.

Menurutnya, pendekatan yang terintegrasi atau integrated approach inilah yang sejak awal telah diletakkan Muhammadiyah dalam pembelajaran di sekolah dan madrasahnya.

Reformasi Pendidikan Berakar dari Pembaruan Islam

Abdul Mu’ti menilai bahwa reformasi Islam di Indonesia, termasuk Muhammadiyah, berangkat dari pembaruan dalam bidang pendidikan. Ia menyebut bahwa inisiatif reformasi tersebut salah satunya dimulai dari persoalan kiblat yang menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan, yang kemudian menjadi pembeda Muhammadiyah dengan gerakan lain pada masanya.

Menurutnya, sekolah Muhammadiyah harus mampu mengajarkan disiplin keilmuan agama tidak hanya sebatas hafalan, tetapi juga mengintegrasikan ajaran agama dengan disiplin ilmu lain serta mengontekstualisasikannya sesuai tantangan zaman dan persoalan nyata yang dihadapi peserta didik. Inilah yang disebutnya sebagai distingsi pendidikan Muhammadiyah sejak masa awal.

Ia menegaskan bahwa pada masa awal berdirinya, Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan reformasi pendidikan yang menempatkan pendidikan sebagai pusat pembaruan Islam. Pemikiran pendidikan yang dirintis oleh K.H. Ahmad Dahlan memiliki tiga unsur kuat.

Baca Juga:  Smamda Sidoarjo Raih 13 Medali di Olympicad 2026, Perkuat Posisi Jatim di Peringkat Ketiga

Pertama, menawarkan pendekatan agama yang baru, di mana Al-Qur’an dimaknai secara langsung dengan penafsiran yang moderat.

Kedua, menghadirkan solusi sosial atas kondisi pendidikan saat itu, yakni adanya sekolah model Belanda yang tidak mengajarkan agama dan pesantren yang tidak mengajarkan ilmu umum, sehingga Muhammadiyah menghadirkan jalan tengah melalui model pendidikan yang mengintegrasikan keduanya.

Ketiga, pendidikan Muhammadiyah dirancang sebagai sarana membangun persatuan umat dan bangsa melalui pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, Abdul Mu’ti menilai pendidikan Muhammadiyah sejak awal telah menawarkan tajdid atau pembaruan yang menjadikan ilmu agama dan ilmu umum berjalan beriringan dalam satu sistem pendidikan.

Tinggalkan Budaya 3K

Dalam arahannya, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa sekolah Muhammadiyah tidak akan maju jika masih terjebak dalam budaya 3K: konflik, korupsi, dan kolot.

Ia mengingatkan agar energi organisasi tidak habis untuk pertentangan internal yang tidak produktif. Konflik yang berlarut-larut, menurutnya, dapat berkembang dari persoalan kecil menjadi persoalan besar yang sulit diselesaikan dan bahkan berlangsung turun-temurun.

“Jangan konflik, jangan memperebutkan hal-hal yang justru menguras energi,” ujarnya.

Selain konflik, ia menegaskan pentingnya menjaga integritas dan akuntabilitas. Muhammadiyah selama ini dikenal tertib dalam administrasi dan pengelolaan keuangan, bahkan dalam hal-hal kecil. Tradisi transparansi tersebut harus terus dipertahankan agar kepercayaan publik tetap terjaga.

Adapun sikap kolot atau konservatif, menurutnya, harus ditinggalkan. Dunia pendidikan terus berubah, sehingga sekolah Muhammadiyah perlu mengembangkan growth mindset, terbuka terhadap inovasi, dan berani melakukan pembaruan dalam pembelajaran maupun pengelolaan lembaga.

Dengan meninggalkan budaya 3K, ia berharap tercipta iklim kerja yang sehat, kolaboratif, dan berorientasi pada kemajuan bersama.

Perkuat Jejaring dan Kolaborasi

Dalam arahannya, Abdul Mu’ti mengajak seluruh peserta rakornas untuk berbagi pengalaman dan memperkuat jejaring pendidikan, baik di tingkat nasional maupun internasional, agar satuan pendidikan Muhammadiyah dapat maju bersama.

Baca Juga:  Olympicad VIII 2026 Dibuka, Ribuan Peserta Ikuti Senam Kolosal di Unismuh

Menurutnya, forum rakornas harus menjadi ruang saling belajar dan saling menguatkan antarsekolah dalam menghadapi tantangan pendidikan ke depan.

Ia menegaskan bahwa sekolah yang sudah berada pada posisi baik perlu mempertahankan kualitasnya, dan jika memungkinkan terus ditingkatkan. Sementara sekolah yang masih berkembang perlu didorong dan diangkat bersama agar dapat mengalami peningkatan.

“Sekolah yang di atas dipertahankan, syukur bisa ditingkatkan, yang di bawah kita angkat supaya bisa meningkat,” ujarnya.

Menurutnya, penguatan jejaring menjadi penting agar pengalaman dan praktik baik dapat dibagikan secara luas, sehingga kemajuan pendidikan Muhammadiyah tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan tumbuh melalui kolaborasi dan semangat saling mendukung.

Melalui kolaborasi tersebut, rakornas diharapkan menjadi ajang memperkuat solidaritas antarsatuan pendidikan sekaligus membangun langkah bersama dalam mengembangkan pendidikan Muhammadiyah yang berkemajuan.

Menjangkau yang Tidak Terjangkau

Abdul Mu’ti turut menyoroti angka putus sekolah yang tidak selalu disebabkan faktor ekonomi. Dalam sejumlah kasus, faktor kultural dan keterbatasan akses geografis juga menjadi penyebab.

Karena itu, Muhammadiyah didorong memperkuat pendidikan nonformal melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Model pembelajaran fleksibel ini dinilai mampu menjangkau kelompok yang sulit mengikuti pendidikan formal, termasuk para atlet yang memiliki jadwal latihan padat.

“PKBM itu simple dan memudahkan, yang penting ada ruang belajar yang representatif, ada tutor, dan ada kurikulum,” kata Abdul Mu’ti yang juga Sekretaris Umum PP Muhammadiyah itu.

Ia juga menegaskan bahwa pendidikan informal perlu diangkat sebagai bagian penting dari ekosistem pendidikan yang inklusif.

Tajdid Pendidikan untuk Masa Depan

Menutup arahannya, Abdul Mu’ti berharap rakornas menjadi ajang saling mengasah, berbagi ilmu, dan memperkuat jejaring agar Muhammadiyah terus melakukan tajdid dalam pendidikan.

Menurutnya, penguatan karakter, inovasi pembelajaran, integrasi ilmu agama dan sains, serta perluasan akses pendidikan menjadi kunci agar Muhammadiyah tidak hanya besar secara jumlah, tetapi juga menjadi kekuatan pendidikan yang relevan dan berkontribusi nyata dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. (#)

Jurnalis Azakai Khorudin Penyunting Mohammad Nurfatoni