
Di pembukaan Olympicad VIII di Makassar, Haedar Nashir mengingatkan bahwa ilmu dan teknologi tanpa akhlak hanya akan rapuh, sehingga pendidikan harus menumbuhkan kecerdasan sekaligus karakter.
Tagar.co — Olympicad VIII bukan hanya panggung perebutan medali dan piala. Bagi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, ajang ini harus dimaknai sebagai ruang pendidikan yang menyatukan prestasi, silaturahmi, dan pembentukan karakter pelajar.
Pesan itu disampaikan Haedar melalui sambutan video pada pembukaan Olympicad VIII yang digelar di Universitas Muhammadiyah Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis, 12 Februari 2026.
Baca juga: Didik Suhardi: Olympicad Momentum Bangun Generasi Emas Muhammadiyah
Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari penyelenggara, pimpinan sekolah, pendamping, hingga para peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Menurut Haedar, pertemuan para pelajar dalam Olympicad menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi. Dalam pandangannya, silaturahmi bukan sekadar perjumpaan fisik, melainkan proses memperluas jejaring sosial yang sehat dan saling menguatkan.
“Dari perjumpaan itu, pelajar belajar bertaawun, bekerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan,” ujarnya. Ia menegaskan, kebersamaan harus diarahkan untuk saling mendukung, bukan pada hal-hal yang menjauhkan dari etika dan nilai pendidikan.

Penguasaan Iptek Harus Dituntun Akhlak
Haedar juga menyoroti tantangan zaman yang menuntut generasi muda menguasai sains, teknologi, dan keterampilan hidup. Baginya, Olympicad menjadi sarana bagi pelajar Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk mengasah kompetensi sekaligus menyiapkan diri menghadapi perubahan dunia.
Namun, ia mengingatkan bahwa prestasi akademik tidak boleh berdiri sendiri. Pengetahuan setinggi apa pun, kata Haedar, akan rapuh jika tidak disertai akhlak, iman, dan takwa.
Akhlak, lanjutnya, menjadi penuntun dalam membedakan yang baik dan buruk, membentuk pribadi beradab, serta menjadi benteng dari berbagai pengaruh negatif yang dapat masuk ke lingkungan pendidikan. Karena itu, ia mengajak para pelajar menjaga integritas dan terus memperbaiki sikap hidup dalam keseharian.
Ia juga menegaskan pentingnya iman dan takwa sebagai fondasi yang kokoh. Keduanya, menurut Haedar, tidak terpisah dari upaya meraih prestasi, melainkan menjadi pijakan utama agar ilmu dan teknologi membawa manfaat bagi sesama.
Fastabikul Khairat sebagai semangat bersama
Menutup pesannya, Haedar mengajak seluruh peserta menjadikan OlympicAD VIII sebagai momentum berlomba dalam kebaikan atau fastabikul khairat. Ia berharap kompetisi ini melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga beradab dan siap memberi kontribusi nyata bagi masyarakat dan kemanusiaan.
Dengan demikian, OlympicAD bukan sekadar arena mencari juara, melainkan proses pembelajaran yang membentuk pelajar berilmu, berkarakter, dan berdaya guna bagi masa depan bangsa. (#)
Jurnalis Hendra Apriadi Penyunting Mohammad Nurfatoni












