Utama

Haedar Nashir Ingatkan Bahaya Ego dan Polarisasi, Dorong Persatuan Substantif Berbasis Gagasan dan Amal

95
×

Haedar Nashir Ingatkan Bahaya Ego dan Polarisasi, Dorong Persatuan Substantif Berbasis Gagasan dan Amal

Sebarkan artikel ini
Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir saat memberikan tausiyah di acara Halal Bihalal 1447 Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Aula Mas Mansur Gedung Muhammadiyah Jatim, Surabaya, Sabtu, 18 April 2026 (Tagar.co/Sugiran).

Haedar Nashir menyoroti ego dan polarisasi sebagai ancaman serius, mengingatkan Halalbihalal tak boleh berhenti seremoni, tapi jadi momentum menyambungkan gagasan dan amal demi keutuhan Muhammadiyah dan bangsa.

Tagar.co – Di tengah tradisi halalbihalal yang kerap dimaknai sebatas saling bersalaman dan bermaafan, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, justru mengajukan kritik reflektif. Ia menilai, silaturahmi tanpa penyambungan gagasan dan amal hanya akan berhenti sebagai seremoni—tanpa daya ubah bagi perserikatan maupun bangsa.

Pesan itu ia sampaikan dalam Halalbihalal 1447 Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PW.M) Jawa Timur di Aula Mas Mansur, Sabtu (18/4/2026). Mengangkat tema “Silatul Fikr dan Amal untuk Merawat Tradisi Unggul Muhammadiyah”, Haedar mengajak warga untuk memaknai silaturahmi secara lebih substantif.

Baca juga: Muhadjir Effendy: Ekonomi Kuat, Dakwah Muhammadiyah Lebih Berkelanjutan

Bagi Haedar, silaturahmi tidak cukup berhenti pada pertemuan fisik. Yang jauh lebih penting adalah silatul fikr—menyambungkan pikiran, gagasan, dan wawasan—serta silatul amal, yang diwujudkan dalam kerja nyata dan kontribusi berkelanjutan bagi umat dan bangsa.

Baca Juga:  Ramadan Ceria di KB-TK IT Handayani: Latihan Salat Idulfitri hingga Aksi Berbagi

Ia menegaskan, sejak awal berdiri, Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan Islam yang bertumpu pada tradisi keilmuan dan aksi nyata. Tradisi unggul itu tidak lahir secara instan, melainkan dibangun melalui konsistensi panjang dalam dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial.

“Halalbihalal ini bukan sekadar seremoni. Ada pesan, arah kebijakan, dan langkah Muhammadiyah ke depan yang harus kita kuatkan bersama,” ujarnya, merujuk pula pada pengantar sebelumnya dari Muhadjir Effendy.

Namun, Haedar juga menyoroti tantangan mendasar: ego manusia yang kerap menjadi penghalang utama dalam merawat hubungan. Ia mengibaratkan relasi yang retak seperti layang-layang putus—mudah terlepas, tetapi sulit disambung kembali.

“Watak dasar manusia itu individualis. Ketika ego menguat, orang sulit mengalah saat benar, dan enggan meminta maaf saat salah,” katanya.

Polaisasi Politik

Dalam konteks ini, ia menekankan pentingnya transformasi rohani. Mengutip pesan Nabi, konflik seharusnya tidak berlarut lebih dari tiga hari. Kuncinya terletak pada kerendahan hati—kesediaan untuk mengalah, memaafkan, dan memperbaiki hubungan.

“Kalau satu memercikkan api marah, yang lain harus memercikkan air,” tegasnya.

Baca Juga:  “Menjahit Kembali Mimpi yang Terbelah”, Karya Nadhirotul Mawaddah Juara I Lomba Cerpen JSIT

Pesan tersebut, lanjut Haedar, tidak hanya relevan di lingkup organisasi, tetapi juga dalam kehidupan berbangsa. Ia mengingatkan potensi perpecahan akibat polarisasi politik yang berkepanjangan, terutama ketika pihak yang kalah tidak mampu menerima hasil dan terus memelihara konflik.

“Yang berbahaya itu ketika tidak bisa move on dari kekalahan, lalu saling menyalahkan. Ini bisa merembet ke umat dan merusak persatuan,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk menguatkan kembali silaturahmi hingga ke tingkat yang lebih dalam—bukan sekadar relasi sosial, tetapi juga kesatuan visi dan gerakan.

Di akhir tausiahnya, Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah telah memiliki fondasi ideologis yang kokoh dari pemikiran Ahmad Dahlan. Tantangannya kini adalah bagaimana kader, terutama para pimpinan, mampu menginternalisasi nilai tersebut sekaligus menginstitusionalisasikannya dalam praktik kepemimpinan.

“Ketika kita diberi mandat memimpin, sebagian independensi pribadi harus kita serahkan kepada organisasi, tanpa kehilangan kejernihan berpikir,” pesannya.

Dengan demikian, Halalbihalal tidak lagi sekadar ajang temu kangen, melainkan momentum konsolidasi nilai, penguatan gagasan, dan peneguhan arah gerakan. Di balik jabat tangan Idulfitri, tersimpan tanggung jawab besar untuk merawat tradisi unggul Muhammadiyah—dengan pikiran yang tercerahkan dan amal yang berkemajuan. (#)

Baca Juga:  Fania dan Ketakutan-Ketakutan Kecil

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni