OpiniUtama

Membaca Langkah Prabowo ke Rusia

141
×

Membaca Langkah Prabowo ke Rusia

Sebarkan artikel ini
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menggelar pertemuan dengan Presiden Federasi Rusia, Vladimir Putin, di Istana Kremlin pada Senin, 13 April 2026. (Foto BPMI Setpres/Muchlis Jr)

Kunjungan Prabowo Subianto ke Rusia bukan sekadar agenda diplomatik biasa. Di tengah rivalitas global yang memanas, langkah ini memunculkan pertanyaan besar: apakah Indonesia sedang menegaskan kemandirian, atau justru memasuki babak baru dalam peta kekuatan dunia?

Oleh Ulul Albab; Akademisi FIA Unitomo; Ketua ICMI Jatim

Tagar.co – Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia adalah sinyal bahwa Indonesia sedang bergerak, perlahan tapi pasti, keluar dari zona nyaman politik luar negeri yang selama ini cenderung normatif, menuju arah yang lebih strategis, adaptif, dan berani membaca perubahan zaman.

Di tengah dunia yang kian terbelah, langkah ke Moskow menjadi pesan bahwa Indonesia tidak ingin terjebak dalam dikotomi lama antara Barat dan Timur. Indonesia memilih jalannya sendiri.

Baca juga: MBG dan Ujian Negara: Dari Dapur Rakyat hingga Mahkamah Konstitusi

Pertemuan antara Prabowo dan Vladimir Putin di Kremlin, yang berlangsung hingga lima jam, memperlihatkan kehangatan personal sekaligus mengandung bobot geopolitik yang serius. Dari energi hingga militer, dari industri hingga antariksa, pembicaraan keduanya mencerminkan adanya kerja sama yang semakin konkret dan multidimensional.

Baca Juga:  Nisfu Syakban dan Seni Berdamai dengan Diri

Yang paling menarik adalah sektor energi. Di tengah ketidakpastian global, Indonesia mulai membuka diri terhadap alternatif baru, termasuk Rusia. Ketika dunia menghadapi disrupsi pasokan energi akibat konflik geopolitik, ketergantungan pada satu kawasan menjadi risiko yang tidak lagi bisa ditoleransi. Targetnya adalah diversifikasi, dan Rusia, dengan segala kompleksitasnya, menawarkan peluang tersebut.

Langkah ini tentu bukan tanpa konsekuensi. Mendekat ke Rusia berarti bersiap menghadapi tekanan dari Barat, terutama dalam konteks sanksi global yang masih membayangi Moskow. Namun di sinilah letak ujian kemandirian Indonesia. Apakah politik luar negeri “bebas aktif” hanya akan menjadi slogan, atau benar-benar diwujudkan dalam kebijakan yang berani mengambil posisi? Menurut saya, Prabowo tampaknya memilih opsi kedua.

Lebih jauh, kerja sama yang dibangun tidak berhenti pada perdagangan. Ada upaya serius untuk mendorong hilirisasi, transfer teknologi, hingga penguatan kapasitas industri nasional. Hal ini sejalan dengan ambisi besar Indonesia untuk keluar dari jebakan negara pengekspor bahan mentah.

Jika dikelola dengan baik, kemitraan ini bisa menjadi katalis transformasi ekonomi. Namun, jika tidak dikelola secara optimal, kemitraan ini berpotensi menjadi ketergantungan baru dalam wajah yang berbeda.

Baca Juga:  Paradoksnya Paradoks

Di sisi lain, pembahasan sektor militer menunjukkan kehati-hatian Indonesia. Tidak ada manuver agresif, tetapi pendekatan bertahap melalui pendidikan dan penguatan sumber daya manusia. Hal ini mencerminkan konsistensi Indonesia dalam menjaga keseimbangan, tidak terseret dalam blok, tetapi tetap memperkuat kapasitas nasional.

Yang juga tak kalah penting adalah dimensi geopolitik. Dunia hari ini tidak lagi unipolar. Kekuatan-kekuatan baru bermunculan, dan konfigurasi global menjadi semakin cair. Dalam situasi seperti ini, negara-negara menengah seperti Indonesia memiliki ruang untuk memainkan peran lebih besar, asalkan mampu membaca momentum.

Kunjungan ke Rusia, dalam konteks ini, menempatkan Indonesia sebagai aktor yang relevan, bukan sekadar penonton.

Namun, semua ini akan diuji oleh konsistensi. Diplomasi tidak berhenti pada pertemuan, tetapi pada implementasi. Undangan lanjutan dari Rusia untuk forum industri dan inovasi menunjukkan bahwa peluang terbuka lebar. Pertanyaannya: seberapa siap Indonesia memanfaatkannya?

Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, kita melihat bahwa dunia sedang berubah. Melalui langkah-langkah seperti ini, Indonesia mulai menunjukkan bahwa Indonesia tidak ingin hanya mengikuti arus, tetapi juga ikut menentukan arah. Dan mungkin, dari Kremlin, langkah itu benar-benar dimulai. (#)

Baca Juga:  Presiden Prabowo di Sarang Penyamun

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Opini

Sorakan terhadap satu pihak sering kali lahir dari…