Telaah

Merawat Silaturahmi, Menjaga Cahaya Ramadan

91
×

Merawat Silaturahmi, Menjaga Cahaya Ramadan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi freepik.com premium

Silaturahmi bukan sekadar tradisi Lebaran, melainkan cermin kualitas iman. Di tengah relasi yang kian dangkal, Ramadan mengajarkan kita untuk kembali menyambung yang terputus dengan hati yang lapang.

Oleh Ulul Albab; Ketua ICMI Jawa Timur

Tagar.co – Silaturahmi sering kali dipahami sebagai tradisi tahunan: saling mengunjungi, berjabat tangan, dan mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin.”

Namun dalam ajaran Islam, silaturahmi jauh melampaui formalitas itu. Silaturahmi adalah ibadah hati, sebuah upaya sadar untuk menyambung kembali yang terputus, merawat yang telah terjalin, dan menumbuhkan kasih sayang di antara sesama.

Baca juga: Puasa Syawal: Enam Hari yang Menentukan Setahun

Rasulullah SAW memberikan tuntunan yang sangat mendalam tentang hakikat silaturahmi. Beliau bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Bukanlah orang yang menyambung silaturahmi itu yang sekadar membalas, tetapi yang sejati adalah mereka yang tetap menyambung hubungan ketika tali itu terputus.” (Bukhari)

Hadis ini mengajarkan bahwa silaturahmi bukan sekadar hubungan timbal balik, tetapi menuntut keikhlasan, kerendahan hati, dan keberanian untuk melampaui ego. Dalam banyak kasus, yang menghalangi silaturahmi bukanlah jarak, tetapi gengsi.

Baca Juga:  Rp 2 Triliun Dana Haji Khusus Tertahan, 15.936 Jemaah Terancam Gagal Berangkat

Lebih dari itu, silaturahmi juga menjadi pintu keberkahan hidup. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (Bukhari dan Muslim)

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan kompetitif, keberkahan sering kali menjadi sesuatu yang langka. Kita memiliki banyak hal, tetapi tidak selalu merasa cukup. Dalam konteks inilah, silaturahmi menjadi salah satu kunci yang sering dilupakan. Padahal, ia mampu menghadirkan ketenangan batin yang tidak bisa diukur dengan materi.

Dan di balik anjuran yang indah itu, terdapat pula peringatan yang sangat menggugah. Dalam riwayat dari Ka‘b bin ‘Ujrah, dikisahkan bahwa Rasulullah SAW pernah mengucapkan “Amin” sebanyak tiga kali ketika menaiki mimbar. Para sahabat pun bertanya, dan beliau menjelaskan:

“Sesungguhnya Malaikat Jibril datang kepadaku dan berkata: ‘Celakalah orang yang mendapati Ramadan, namun tidak diampuni dosanya.’ Maka aku berkata: Amin. Ketika aku naik ke tangga kedua, ia berkata: ‘Celakalah orang yang disebut namamu di sisinya, namun ia tidak berselawat kepadamu.’ Maka aku berkata: Amin.

Baca Juga:  Melatih Diri agar “Ketagihan” Membaca Al-Qur’an

Ketika aku naik ke tangga ketiga, ia berkata: ‘Celakalah orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya dalam keadaan tua, namun tidak menjadikannya masuk surga.’ Maka aku berkata: Amin.”

Hadis ini menggugah kesadaran kita. Betapa mungkin seseorang telah melewati Ramadan, namun gagal meraih ampunan. Betapa mungkin seseorang hidup bersama orang tuanya, tetapi tidak menjadikannya jalan menuju surga. Dan betapa mungkin seseorang mengenal Rasulullah SAW, tetapi lalai dalam berselawat kepadanya.

Dalam pemahaman yang lebih luas, pesan ini mengingatkan bahwa hubungan dengan sesama manusia tidak dapat dipisahkan dari kualitas ibadah kita kepada Allah. Silaturahmi bukan pelengkap, tetapi justru bagian dari kesempurnaan iman.

Hari ini, tantangan silaturahmi justru semakin nyata. Kita hidup di era digital, di mana komunikasi begitu mudah, tetapi hubungan sering kali kehilangan kedalaman. Media sosial yang seharusnya menjadi sarana menyambung silaturahmi, tidak jarang berubah menjadi ruang konflik. Kata-kata kasar, hujatan, dan prasangka tersebar dengan cepat—sering kali tanpa pertimbangan, tanpa empati.

Banyak di antara kita mampu menahan lapar dan dahaga selama Ramadan, tetapi tidak mampu menahan lisan setelahnya. Padahal, esensi puasa bukan hanya menahan diri secara fisik, tetapi juga menjaga hati dari kebencian dan permusuhan.

Baca Juga:  Merawat Kampus agar Tetap Bersuara

Di sinilah silaturahmi menjadi sangat relevan. Ia mengajarkan kita untuk kembali pada nilai-nilai dasar kemanusiaan: empati, kesabaran, dan kasih sayang. Ia mengingatkan bahwa dalam setiap hubungan, yang dibutuhkan bukan hanya kebenaran, tetapi juga kebijaksanaan.

Syawal adalah momentum untuk memulai kembali. Untuk menyapa yang lama terdiam, untuk mendatangi yang sempat menjauh, dan untuk memaafkan yang mungkin pernah melukai. Sebab sering kali, yang paling sulit bukanlah meminta maaf, tetapi membuka hati untuk memaafkan.

Silaturahmi adalah cermin dari iman yang menunjukkan sejauh mana Ramadan telah mengubah diri kita. Jika hati kita menjadi lebih lapang, lebih lembut, dan lebih mudah memaafkan, maka itulah tanda bahwa Ramadan telah berhasil menanamkan cahayanya.

Maka, mari kita rawat silaturahmi, bukan hanya di hari raya, tetapi sepanjang usia. Sebab di sanalah keberkahan hidup bersemayam, dan di sanalah cahaya Ramadan tetap menyala—tidak hanya dalam kenangan, tetapi dalam kehidupan nyata yang kita jalani setiap hari. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni