Feature

Membaca Asal, Menundukkan Akal: Pesan Epistemologis Surah Al-Alaq

152
×

Membaca Asal, Menundukkan Akal: Pesan Epistemologis Surah Al-Alaq

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Surah Al-Alaq menghadirkan kritik mendasar terhadap klaim otonomi rasio, sekaligus menegaskan bahwa kesadaran akan asal-usul merupakan prasyarat bagi pengetahuan yang benar.

Oleh Muhammad Hidayatulloh (Cak Muhid); Penulis buku seri Epistemologi Qur’ani

Tagar.co – Manusia modern sering merasa bahwa akal dan ilmunya cukup untuk memahami segala sesuatu. Kemajuan sains dan teknologi seolah menegaskan bahwa kebenaran dapat dicapai tanpa perlu merujuk pada sumber di luar dirinya.

Namun, Al-Qur’an justru memulai dialognya dengan mengingatkan manusia akan asal-usulnya yang paling sederhana. Dalam konteks inilah frasa “خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ” dalam Surah Al-Alaq hadir, bukan sekadar sebagai penjelasan asal-usul biologis manusia, tetapi sebagai pernyataan yang menghancurkan ilusi terbesar manusia: merasa dirinya cukup dengan akal dan ilmunya.

Setelah diperintahkan membaca, manusia langsung diingatkan—asalnya bukan dari sesuatu yang agung, melainkan dari ‘alaq: sesuatu yang kecil, lemah, bergantung, bahkan melekat pada selainnya.

Di sinilah epistemologi Qur’ani bekerja secara radikal. Ia tidak hanya menyuruh manusia berpikir, tetapi juga mengontrol dampak dari berpikir itu sendiri. Tanpa kesadaran asal-usul, akal dapat berubah menjadi sumber kesombongan. Ilmu tidak lagi menjadi jalan menuju kebenaran, tetapi alat untuk menegaskan ego.

Baca Juga:  Puasa dan Al-Qur’an: Dua Pilar yang Disatukan Ramadan

Baca juga: Epistemologi Qurani: Fondasi Pembebasan dari Jahiliah Modern

“‘Alaq” bukan sekadar fase penciptaan—ia adalah simbol ketergantungan total manusia. Artinya, sejak awal manusia tidak pernah otonom. Ketika manusia modern mengklaim kebenaran hanya dari rasio atau pengalaman, ia sesungguhnya sedang menolak hakikat dirinya sendiri. Ia lupa bahwa akal yang ia banggakan pun adalah ciptaan—bukan sumber kebenaran mutlak.

Di sinilah frasa ini menjadi kritik keras terhadap jahiliyah modern. Dulu manusia menyembah berhala karena kebodohan. Hari ini, manusia menyembah akalnya karena kesombongan. Dulu tidak berpikir, sekarang berpikir tanpa batas. Keduanya sama-sama jatuh dalam kesesatan karena sama-sama terlepas dari wahyu.

Maka urutannya tidak boleh dibalik: membaca, sadar asal, lalu tunduk pada kebenaran.

Jika membaca tidak melahirkan kesadaran min ‘alaq, maka yang lahir hanyalah kecerdasan yang arogan. Kecerdasan seperti itu bukanlah kemajuan—itu adalah bentuk paling halus dari jahiliyah.

Karena pada akhirnya, bukan seberapa tinggi ilmu kita yang menentukan kebenaran, tetapi seberapa sadar kita bahwa kita hanyalah makhluk yang diciptakan dari sesuatu yang sangat sederhana dan sepenuhnya bergantung. (#)

Baca Juga:  Makna Takwa yang Dijanjikan Puasa Ramadan

Penyunting Mohammad Nurfatoni