
Ia tidak takut gelap atau ketinggian. Fania takut pada perubahan, pada suara tiba-tiba, pada kemungkinan jatuh dan gagal. Namun, di balik kepanikan itu, ada langkah-langkah kecil menuju keberanian.
Cerpen oleh Nadhirotul Mawaddah; Guru TK IT Handanyani, Menganti, Gresik, Jawa Timur
Tagar.co — Fania, murid kelas sebelah, adalah gadis kecil dengan speech delay. Ia lincah dan penuh semangat, tetapi menyimpan satu hal yang kerap membuatnya gelisah: rasa panik yang datang tiba-tiba.
Perubahan kecil saja sudah cukup membuat tubuhnya menegang—suara keras, teman yang berdiri terlalu dekat, atau berpindah dari satu kelas ke kelas lain. Saat itu terjadi, Fania merasa seolah dunia mengecil dan tak lagi aman.
Jika panik datang, ia selalu mencari tempat yang menurutnya paling nyaman. Tempat itu bukan ruang kelas, bukan pangkuan guru, melainkan toilet.
Baca cerpen lainnya: Bintang untuk Akasha
Di lapangan bermain, Fania duduk diam di atas papan titian. Matanya bergerak cepat ke kanan dan kiri, seakan menghitung kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Ia sebenarnya ingin bermain, tetapi pikirannya lebih dulu dipenuhi bayangan jatuh, tersenggol, atau menyakiti temannya tanpa sengaja.
“Ustazah, aku mau ke toilet,” katanya sambil berlari kecil ke arah saya, tepat ketika rombongan murid dari kelas lain datang memenuhi lapangan.
“Baik,” jawab saya singkat.
Ustazah Fatimah, guru kelasnya, tersenyum tipis. Ia paham benar tanda-tanda itu. Setiap kali suasana berubah dan menjadi ramai, Fania harus berjuang keras menenangkan dirinya. Dan sering kali, satu-satunya jalan yang ia kenal adalah berlari ke toilet.
##
Suatu hari, kelas Fania mendapat giliran bermain di ruang sentra peran, tempat saya mengajar. Anak-anak lain masuk dengan sorak riang. Pandangan saya langsung tertuju pada Fania. Ia menggigit bibirnya, sesekali menoleh ke belakang, seolah mencari seseorang yang bisa menjaganya.
Tak lama kemudian, gawai saya bergetar. Pesan dari Ustazah Fatimah masuk: Fania baru saja keluar dari toilet.
Saya mendekatinya.
“Fania kenapa? Ada yang tidak enak badan?” tanya saya pelan.
Seperti biasa, jawabannya singkat, “Aku mau ke toilet.”
Saya tersenyum dan berjongkok di depannya.
“Kata Ustazah Fatimah, Fania baru saja dari toilet,” ujar saya lembut.
Fania menatap saya dengan mata yang memohon. Saya tetap di tempat itu, tidak memaksanya berdiri, tidak pula mengajaknya segera masuk kelas.
“Fania tidak akan jatuh kalau berhati-hati,” kata saya. “Kalau pun jatuh saat bermain peran, kita bisa tertawa bersama. Setelah itu, Fania bisa bangkit lagi.”
Ia mengangguk pelan. Tangannya meraih jemari saya, menggenggam erat, seolah memastikan ada seseorang yang akan tetap di sisinya.
Ketika gilirannya tiba memainkan peran sebagai pembalap sepeda, Fania melangkah mundur setapak.
“Bagaimana kalau aku tidak bisa mengayuh sepeda dengan baik, Ustazah?” tanyanya ragu.
“Tidak apa-apa,” jawab saya. “Kita semua belajar. Yang penting, Fania mau mencoba.”
Dengan dorongan kecil dari teman-temannya, Fania akhirnya duduk di atas sepeda. Kayuhannya pelan dan belum seimbang. Namun, ada sesuatu yang berbeda di wajahnya—lega, sekaligus bangga.
“Ternyata tidak sesulit yang aku pikirkan,” gumamnya, senyum kecil merekah di bibirnya.
Sejak hari itu, Fania mulai berani tinggal sedikit lebih lama di ruang bermain. Rasa paniknya belum sepenuhnya hilang, tetapi ia tak lagi selalu berlari ke toilet. Teman-temannya pun belajar menunggu, mendukung, dan memberi ruang.
Pada kegiatan puncak tema bersepeda, anak-anak kami ajak berkeliling bersama. Saya tertegun melihat Fania mengayuh sepedanya dengan penuh percaya diri. Meski masih menggunakan roda bantu, wajahnya tampak berseri menikmati setiap putaran roda.
“Lihat, kamu bisa,” kata Fatimah menyemangati. “Tidak ada yang perlu ditakutkan.”
Fania tertawa kecil.
“Aku masih takut, Ustazah,” bisiknya. “Tapi mungkin besok aku bisa lebih berani lagi.”
Sejak saat itu, kabar tentang Fania yang sering berlari ke toilet kian jarang terdengar. Ia mulai memahami bahwa rasa takut dan panik bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan diterima dan dihadapi perlahan.
Fania tumbuh dengan caranya sendiri—membuktikan bahwa setiap anak memiliki waktunya masing-masing untuk berani, mencoba, dan percaya pada dirinya. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












