
Ia bukan malas sekolah—ia hanya lebih dulu jatuh cinta pada layar. Sampai sebuah topi, sebuah bintang, dan kesabaran guru pelan-pelan mengubah arah langkahnya.’
Cerpen oleh Nadhirotul Mawaddah; Guru TK IT Handanyani, Menganti, Gresik, Jawa Timur
Tagar.co – Akasha selalu datang ke sekolah dengan senyum lebar, senyum yang seolah menular ke siapa pun yang melihatnya. Namun senyum itu rapuh. Ia bisa lenyap hanya karena hal-hal kecil: bekal yang tidak sesuai keinginannya, topi yang terasa tidak pas, atau sekadar perubahan rencana yang tak ia sukai.
Baca juga: “Menjahit Kembali Mimpi yang Terbelah”, Karya Nadhirotul Mawaddah Juara I Lomba Cerpen JSIT
Jika senyum itu hilang, semangat Akasha ikut menghilang. Ia mendadak enggan berangkat ke sekolah. Dalam sepekan, kehadirannya jarang penuh—kadang hanya tiga, kadang empat hari. Selebihnya, ia memilih tinggal di rumah, tenggelam dalam dunia kecil di layar gawai.
“Maaf Ustazah, Akasha tidak masuk sekolah hari ini.”
Pesan singkat itu hampir setiap hari muncul di ponsel saya. Polanya nyaris sama. Saat saya bertanya lebih jauh, ibu Akasha hanya bisa menghela napas. Ia bercerita bagaimana putranya sulit dilepaskan dari gawai. Setiap kali gawai itu diambil, tangisan Akasha pecah. Ia mengurung diri di kamar, menolak siapa pun mendekat.
Sekolah, bagi Akasha, perlahan menjadi tempat yang kalah menarik dibanding dunia di genggamannya.
Kondisi itu membuat saya resah. Bukan karena kehadiran yang berkurang semata, tetapi karena saya melihat seorang anak kecil yang mulai kehilangan kegembiraan belajar bersama teman-temannya. Saya bertanya pada diri sendiri: apa yang bisa saya lakukan agar sekolah kembali terasa menyenangkan baginya?
Kesempatan itu datang pada sebuah kegiatan outing class bersama orang tua. Untuk memudahkan pengawasan, kami membagikan topi kepada semua anak—topi sederhana dengan nama masing-masing tertulis di bagian depan.
Saat Akasha datang bersama ibunya, langkahnya terhenti. Matanya terpaku pada topi itu. Ia meraih topinya, membaca namanya pelan, lalu memeluknya ke dada.
“Ustazah, topinya boleh dibawa pulang?” tanyanya, dengan mata berbinar.
Saya menangkap sesuatu di sana—rasa bangga, rasa memiliki.
“Boleh,” jawab saya perlahan, “asal Akasha rajin sekolah. Akasha bisa janji?”
Ia mengangguk cepat. “Oke.”
Hari itu, senyum Akasha tidak pudar sedikit pun. Ia mengikuti kegiatan dengan penuh semangat, topinya tak pernah lepas dari kepala. Dalam hati, saya berharap semangat itu akan bertahan.
Namun keesokan harinya, kursinya kembali kosong.
“Mungkin capek,” saya mencoba menenangkan diri. Tapi harapan itu kembali runtuh keesokan harinya.
“Maaf Ustazah, sebenarnya tadi sudah siap. Sudah pakai seragam. Tapi mood-nya hilang karena kaos kakinya kebesaran,” suara ibu Akasha terdengar lelah di telepon.
Ada jeda sejenak sebelum saya menjawab, “Baik, saya jemput ya, Ma.”
Rumah Akasha tidak jauh dari sekolah. Saat saya tiba, ia duduk di ruang tamu dengan gawai di tangan. Ketika melihat saya, ia tersenyum kecil—senyum yang seolah berkata ia ingin pergi, tapi masih ragu.
“Ayo, Akasha,” kata saya sambil merendahkan badan, “kita main di sekolah dulu, ya.”
Ia berdiri. Tangannya menggenggam gawai erat-erat, lalu perlahan menyerahkannya kepada ibunya sebelum melangkah mengikuti saya.
Hari itu, Akasha datang ke sekolah dengan wajah ceria. Tangannya tidak lagi menggenggam gawai, melainkan topi kesayangannya. Ia berlari kecil menuju kelas, bergabung dengan teman-temannya.
Saya memperhatikannya sepanjang hari. Akasha masih mudah merajuk saat kalah bermain, masih cemberut ketika harus menunggu giliran. Namun kini ia tidak langsung menyerah. Ia mau mencoba lagi, meski dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Hari-hari berikutnya, saya menepati janji pada diri sendiri. Jika Akasha enggan berangkat sekolah, saya menjemputnya. Kadang saya sengaja mengajak teman-temannya berjalan melewati rumahnya. Awalnya hampir setiap hari. Lama-lama, frekuensinya berkurang.
Suatu pagi, saya melihat Akasha sudah berdiri di depan rumah, topinya terpasang rapi.
“Ustazah, hari ini Akasha mau berangkat sendiri,” katanya.
Saya tersenyum.
Perlahan, gawai kehilangan daya tariknya. Di sekolah, Akasha menemukan dunia lain: berlari di lapangan, menggambar bersama teman, mendengar cerita, dan tertawa tanpa layar.
Suatu hari, saya mengadakan permainan kelompok sederhana. Di akhir kegiatan, saya membagikan bintang kecil—bukan sebagai hadiah lomba, melainkan simbol keberanian dan kehadiran.
Saat nama Akasha saya sebut, ia terdiam.
“Ini untuk Akasha,” kata saya. “Karena Akasha sudah berusaha datang ke sekolah dan tidak mudah menyerah.”
Tangannya gemetar saat menerima bintang itu. Senyumnya lebar, matanya berbinar—seperti saat pertama kali ia melihat topi bertuliskan namanya.
Akasha belum sepenuhnya berubah. Masih ada hari-hari ia mengeluh, masih ada alasan-alasan kecil yang muncul. Namun kini ia tahu, sekolah adalah tempat yang aman. Tempat ia diterima apa adanya.
Saya pun belajar, mendampingi anak bukan tentang memaksa perubahan cepat, melainkan berjalan bersama mereka—selangkah demi selangkah—hingga mereka siap melangkah sendiri.
Bagi Akasha, sekolah kini bukan sekadar kewajiban, melainkan tempat untuk tumbuh, bermain, dan merasa dihargai. (#)
Penyunting: Mohammad Nurfatoni












