Cerpen

Celana Robek, Hati yang Dijaga

234
×

Celana Robek, Hati yang Dijaga

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Dari ruang salat hingga meja guru, kisah ini menunjukkan bagaimana kepedulian kecil mampu meninggalkan jejak yang panjang.

Cerpen oleh Hasan Albana, M.Pd.; Guru CLC SLDB Litang – Sekolah Indonesia Kota Kinabalu Sabah Malaysia

Tagar.co – Pagi itu, halaman sekolah sudah ramai. Siswa datang berbaris, menyalami guru dengan senyum dan sopan santun yang terjaga. Di gerbang, seorang guru berdiri menyambut, menyapa satu per satu nama muridnya, memastikan tak ada yang terlewat.

Tak lama, bel berbunyi.

Para siswa bergegas menuju aula. Seperti biasa, hari dimulai dengan salat Duha berjemaah.

Saf dirapatkan. Suara imam mengalun pelan, menenangkan.

Baca juga: Hasan Albana, Guru CLC Litang Sabah yang Mengubah Keterbatasan Menjadi Kemenangan

Di barisan tengah, seorang siswa kelas enam bertubuh besar mengikuti setiap gerakan dengan khusyuk—hingga akhirnya ia terhenti.

Pada duduk takhiyat akhir, tubuhnya kaku. Tangannya tak lagi bergerak. Wajahnya menunduk, menahan sesuatu yang tak ingin terlihat siapa pun.

Dari samping, seorang guru memperhatikannya.

Ada yang tidak biasa.

Guru itu tidak langsung mendekat. Ia menunggu hingga salat usai, menjaga agar tak ada perhatian yang tertuju pada siswa tersebut. Namun matanya tetap awas, membaca kegelisahan yang tak terucap.

Baca Juga:  Ora Usah Nunggu Weton

Usai doa, saat siswa lain masih melantunkan Asmaulhusna, ia mendekat perlahan.

“Mas, ikut Bapak sebentar, ya.”

Siswa itu hanya mengangguk.

Langkah mereka pelan, hampir tak terdengar. Menyusuri sisi aula, keluar tanpa menarik perhatian siapa pun.

Di dalam kamar mandi, penyebabnya menjadi jelas.

Celana siswa itu robek cukup besar di bagian belakang.

Ia menunduk dalam-dalam. Diam. Malu.

Guru itu tidak bertanya banyak.

Ia melepas ikat pinggangnya, lalu menukar celananya dengan celana siswa tersebut. Ia mengenakan sarung seadanya, sementara siswa itu kini memakai celana miliknya.

“Dipakai dulu, ya. Nanti Bapak kembalikan.”

Siswa itu menatap sekilas, masih canggung, tetapi ada rasa lega yang mulai tampak.

“Sekarang kembali ke aula.”

Guru itu sendiri bergegas ke ruang guru.

Dengan jarum dan benang seadanya, ia mulai menjahit celana itu. Tangannya bergerak cepat. Sesekali ia melihat jam.

Ia tahu, ini bukan sekadar soal pakaian.

Ini soal menjaga harga diri seorang anak.

Sebelum waktu berjalan terlalu jauh, jahitan itu selesai.

Baca Juga:  Di Antara Dua Amanah

Rapi.

Pukul 07.30, siswa itu datang ke ruang guru.

Celananya sudah terlipat rapi.

“Sudah bisa dipakai lagi,” kata sang guru.

Siswa itu tersenyum kecil. Kali ini tanpa ragu.

Ia kembali ke kelas seperti biasa.

Keesokan harinya, sore menjelang, suara ketukan terdengar di rumah sang guru.

“Assalamualaikum.”

Seorang siswa berdiri bersama ibunya di depan pintu.

“Mas, silakan masuk.”

Mereka duduk. Hening sejenak.

“Terima kasih, Pak…” ucap siswa itu pelan.

“Untuk apa?” tanya sang guru, tersenyum.

Ibunya kemudian berkata, “Anak saya cerita semuanya, Pak… tentang kemarin.”

Ia menarik napas.

“Terima kasih… karena sudah menjaganya. Dia tidak jadi malu di sekolah.”

Sang guru mengangguk.

“Sudah menjadi tanggung jawab saya, Bu.”

Sang ibu menyodorkan sebuah kantong plastik.

“Ini hanya tanda terima kasih kami, Pak.”

Mereka tidak lama. Sebelum sepuluh menit, keduanya pamit.

Namun pelukan siswa itu sebelum pergi terasa hangat dan lama.

Di dalam kantong itu, terdapat tas ransel hitam.

Ada pula pakaian anak-anak—cukup untuk keluarga sang guru.

Baca Juga:  Aib Lama yang Kembali Mengetuk

Ia memahami maksudnya, tanpa perlu penjelasan.

Tahun-tahun berlalu.

Tas itu tetap ia pakai. Bahkan ketika mengabdi di Sekolah Indonesia di Kota Kinabalu, Malaysia.

Setiap kali melihat tas itu, ia selalu teringat—seorang siswa yang pernah menahan malu di pagi hari.

Suatu siang, selepas salat Zuhur, seseorang menghampirinya.

“Pak…”

Sang guru menoleh.

“Saya Hani, Pak. Murid Bapak dulu.”

Senyum langsung mengembang.

“Alhamdulillah… bagaimana kabarmu?”

“Baik, Pak. Sekarang di pondok… insyaallah sedang menghafal Al-Qur’an.”

Mata sang guru berbinar.

“Alhamdulillah.”

Saat mereka berjalan ke ruang guru, pemuda itu melihat sesuatu.

Tas ransel hitam itu.

Masih di sana.

Ia tersenyum.

“Terima kasih, Pak.”

Sang guru menepuk bahunya.

“Teruslah jadi anak baik.”

Tak banyak kata setelah itu.

Hanya pelukan singkat—namun cukup untuk menyimpan semua kenangan.

Beberapa hal sederhana tidak pernah benar-benar hilang.

Ia tinggal—dalam ingatan, dalam benda, dan dalam hati yang pernah dijaga. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni